Kumpulan Materi Ceramah Agama Singkat, Padat dan Menarik

Ceramah Agama – Sebagai seorang da’i atau penceramah, menyampaikan sebuah materi yang menarik perhatian para pendengar adalah sebuah tuntutan. Bayangkan bila anda ceramah atau menyampaikan pidato selama satu atau dua jam, namun apa yang anda sampaikan sama sekali tidak menarik.

Menyusun sebuah materi ceramah yang menarik, memang bukanlah hal yang mudah. Materi ceramah yang menarik ialah materi ceramah agama yang menyuguhkan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Hadits-hadits yang shohih, serta disusun dengan kata-kata yang menarik. Terdengar rumit, ya memang tidak mudah menyusun materi ceramah menarik dan berkualitas.

Nah, pada tulisan kali ini, kami telah menyusun beberapa materi cermah agama yang menarik dan berkualitas yang bisa anda gunakan saat menyampaikan cermah atau tausiyah. Contoh ceramah pada tulisan kali ini akan fokus pada materin intinya saja. Adapun mukaddimahnya, silahkan baca contoh mukaddimah ceramah agama dan pidato.

Daftar isi

Ceramah Agama Tentang Keseimbangan Antara Harap Dan Takut

ceramah agama, harap dan takut kepada Allah
muslim.or.id

Dalam hidup keseharian sering kita merasa bahwa kita telah berislam dengan baik. Seringkali kita merasa bahwa kita adalah orang yang sangat baik. Kita telah banyak berbuat baik, memiliki banyak amalan yang bisa diandalkan.

Kalau hati nurani kita berbisik bahwa kita telah banyak berbuat dosa, kita menjawab : “itu soal biasa, semua orang pasti berbuat dosa. Dosa-dosaku sangat sedikit dibandingkan dengan amalku. Dosa-dosaku telah diampuni Allah. Saya yakin bahwa kondisi amalku saat ini sudah cukup baik. Tidak baik kalau kita terlalu fanatik”.

Ungkapan batin seperti ini, memberi dampak negatif pada kepribadian kita, yaitu : tidak termotifasi untuk mengupayakan peningkatan-peningkatan kepribadian. Bahkan bisa mengakibatkan penurunan iman secara simultan, tanpa disadari, akhirnya dosa demi dosa dilakukan tanpa penyesalan. Tanpa taubat.

Membahagiakan diri dengan amal ibadah, mesti diimbangi dengan menyedihkan diri dengan dosa dan kelalaian kita selama ini. Optimisme pada diterimanya amal ibadah kita, mesti diiringi dengan kecemasan dan rasa takut yang mendalam jika dosa dan kelalaian kita tidak diampuni oleh Allah swt.

Jika keseimbangan ini berhasil kita lakukan secara berkesinambungan, maka rasa bahagia kita dengan amal shaleh, ibadah, amal jariyah, kebaikan-kebaikan, dzikir dan do’a, da’wah dan perjuangan, akan melahirkan kesyukuran kepada Allah.

Semua itu bisa lebih memotivasi untuk meneruskan dan meningkatkan semua kebaikan itu, karena kebahagiaan kita ada pada amal ibadah. Apalagi kita yakin bahwa waktu beramal kita semakin sedikit, karena kematian dapat saja datang secara tiba-tiba, tanpa pendahuluan.

Menyesali dan Bersedih Atas Semua Dosa

Dalam waktu yang sama, kita menyedihkan dosa-dosa, menyesali semua dosa kepada Allah, dosa kepada ibu dan bapak, dosa kepada saudara, dosa kepada guru, dosa kepada nenek dan kakek, dosa kepada tetangga, dosa kepada atasan/ bawahan, dosa kepada pembantu/ pekerja/ karyawan, dosa kepada kawan, dosa kepada orang yang telah berjasa kepada kita, dosa kepada ibu tiri/ bapak tiri/ anak tiri, dosa kepada mertua, menantu, dosa kepada suami/ istri, dosa kepada anak, dst.

Penyesalan terhadap semua dosa itu, apalagi kalau pernah melakukan dosa-dosa besar seperti syirik, menyembah kuburan, menyembah pohon, batu, gunung sungai, laut, membawa sesajen ke kuburan, menyembelih hewan di sana.

Atau dosa syirik berupa azimat/ jimat-jimat/ tulisan-tulisan penolak bala/ meyakini ada hari yang baik dan buruk. Atau pernah melakukan dosa sihir, atau ke dukun peramal/ paranormal, atau pernah melakukan dosa zina, atau pernah melakukan pembunuhan, pencurian, penganiayaan, kezaliman terhadap orang lain, penipuan.

Demikian juga bila pernah meninggalkan shalat wajib, pernah meninggalkan puasa Ramadhan dengan sengaja, tanpa halangan. Atau pernah menggauli istri dari lubang anusnya, pernah menggauli istri pada saat haidh.

Atau pernah meminum minuman keras, pernah berjudi. Atau pernah bergibah. Atau pernah memfitnah orang lain. Atau wanita tidak berjilbab selama bertahun-tahun. Demikian juga dengan para pejabat yang mungkin pernah melakukan korupsi.Atau dosa besar lainnya.

Menyesali dosa yang pernah kita lakukan, melahirkan kecemasan, ketakutan, kekhwatiran jika Allah belum mengampuni semua dosa itu. Perasaan itulah yang mendorong kita untuk menghentikan dosa. Menjauhi dosa. Menggerakkan lisan kita untuk senantiasa beristighfar dan beristighfar.

Perasaan itulah yang melahirkan semangat beribadah dan berbuat baik sebanyak mungkin, sesering mungkin, untuk menebus semua dosa masa lalu. Untuk menutupi semua kesalahan masa lalu.

Jika kita berhasil mewujudkan keseimbangan perasaan seperti ini, maka tidak ada lagi ketakburan, baik karena jabatan, pangkat, harta, ilmu, keturunan, kecantikan, maupun karena amal.

Yang ada pada diri kita hanyalah tawadhu, rendah hati, penghargaan pada orang lain, istighfar yang tiada henti, ingatan pada kematian tiada putus, dzikir dan do’a yang tiada akhir.

Jika kita berhasil mempertahankan keseimbangan perasaan seperti ini, niscaya grafik iman kita akan senantiasa naik dan naik terus. Sedang grafik dosa dan kelalaian kita selalu menurun dan menurun terus.

Kita cepat sadar bila kita berbuat dosa atau kita sedang lalai. Kita selalu mengetahui apa yang mesti kita lakukan dan bagaimana kita melakukannya. Sehingga kita tidak susah. Tidak bingung, tidak resah, tidak panik, dan tidak pesimis.

Inilah jawaban yang sesungguhnya dari pertanyaan yang sering kita dengarkan : “Apa yang mesti kita lakukan agar iman kita selalu meningkat? Apa yang mesti kita lakukan kalau iman kita menurun? Apa yang mesti kita lakukan kalau kita susah?”

Jawabannya ialah : Keseimbangan antara khauf (rasa takut kepada Allah) dan raja’ (rasa harap kepada Allah). Inilah yang diisyaratkan oleh Rasulullah saw dalam sabda mulia beliau :

مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَهُوَ مُؤْمِنٌ

“Siapa yang merasa senang dengan kebaikannya dan merasa susah dengan kejelekannya, maka dia orang yang beriman.” HR. Muslim

Hadits ini menganjurkan kepada kita agar kita menumbuhkan rasa bahagia di hati dengan mengingat, mengenang, menghayati, amal ibadah yang kita lakukan. Tumbuhkan dan perbesar optimisme pada diterimanya amal ibadah itu, dikabulkannya do’a-do’a kita.

Tapi, dalam waktu yang sama, tumbuhkan pula rasa penyesalan, kesedihan dan kecemasan, atas dosa-dosa yang telah kita lakukan. Tumbuhkan dan perbesar pula rasa takut kepada Allah. Kekhawatiran kalau Allah belum mengampuni dosa kita, kekhawatiran kalau Allah marah kepada kita, lalu Allah mengazab kita. Na’udzubillah.

Kedua perasaan yang kontradiktif itu diupayakan seimbang dalam diri kita. Agar kita bahagia tapi tidak takabbur. Tawadhu’ tapi tidak pessimis. Tetap rajin beribadah dan berbuat baik, sekaligus menjauhi dosa dan mengurangi kelalaian. Memperbanyak dzikir dan do’a kepada Allah swt.

Allahu Akbar. Alangkah indahnya kehidupan ini jika kita beriman dengan baik dan benar. Alangkah bahagianya hidup ini jika senantiasa berusaha menjadi mu’min sejati. Rasulullah saw bersabda :

عَجَباً ِلأَمِرِ المُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلُّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ

”Sangat menakjubkan kehidupan orang yang beriman. Semua urusannya baik baginya. Hal itu tidak didapatkan kecuali orang yang beriman”. HR. Muslim

Iman Lemah Penyebab Kesusahan, Kegelisahan, dan Kecemasan

Marilah kita menyadari bahwa penyebab kesusahan, kegelisahan, dan kecemasan, ialah lemahnya iman, banyaknya dosa, kelalaian yang panjang.

Karena sesungguhnya iman yang kuat adalah jaminan kebahagiaan, ketenangan, kemudahan hidup, kemuliaan dan keselamatan. Allah swt berfirman :

وََلاَ تَهِنُوا وََلا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمْ الأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu bersikap lemah dan jangan (pula) kamu bersedih hati padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang yang beriman”. QS : Ali-Imran : 139

Ayat mulia ini memberi hiburan bagi setiap muslim yang kuat imannya. Allah swt memberikan jaminan kemuliaan bagi orang yang beriman. Dalam ayat lain, Allah swt berfirman :

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barang siapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. QS : An-Nahl : 97

Ayat mulia ini juga memberikan jaminan pasti kebahagiaan bagi setiap muslim yang kuat imannya, yang membuktikan imannya dengan amal shaleh yang berkesinambungan.

Jadi sesungguhnya perasaan susah karena dunia, perasaan gelisah karena harta dan jabatan, perasaan cemas karena merasa miskin, semua itu bertentangan dengan iman yang kuat.

Memperkuat Iman Dengan Rasa Harap dan Takut Kepada Allah Yang Seimbang

Salah satu sarana yang efektif untuk memperkuat iman, ialah menyeimbangkan antara rasa harap pada bantuan Allah, dengan rasa takut pada murka dan azabNya.

Tumbuhkan dan kuatkan sangkaan yang baik kepada Allah. Hadirkan dan kuatkan rasa butuh pada bantuan Allah. Tumbuhkan dan kuatkan rasa ketergantungan kepada Allah swt.

Perasaan ini akan mendorong kita untuk bersungguh-sungguh berdo’a, bermohon kepada Allah. Diiringi dengan keyakinan bahwa Allah pasti mendengar permintaan kita, Allah maha mengetahui kebutuhan kita, Allah yang maha pengasih, maha penyayang, pasti mengabulkan permohonan kita.

Dalam waktu yang sama, kita juga menumbuhkan dan meguatkan rasa bersalah kepada Allah. Tumbuhkan dan kuatkan perasaan telah melanggar aturan-aturan Allah, serta tumbuhkan dan kuatkan penyesalan terhadap setiap kesalahan dan kelalaian kita.

Ingat dan bayangkan semua dosa yang sanggup diingat. Berusah mengingat dan membayangkan semua pelanggaran yang pernah dilakukan.

Penyesalan-penyesalan itu, mesti dibarengi permohonan ampunan Allah swt. Penyesalan terhadap setiap dosa, diimbangi dengan rasa harap yang kuat pada ampunan Allah swt. Sehingga setiap itighfar yang kita ulang-ulangi, mendatangkan ketenangan, kesejukan, kedamaian di hati.

Demikianlah perpaduan indah dari dua perasaan yang kontradiktif, dipadukan secara seimbang, menghasilkan kepribadian yang seimbang.

Demikianlah kita memahami iman, mengamalkan iman dan menghayati iman, sehingga iman itu indah, nikmat, sangat bermanfaat, bahkan amat sangat dibutuhkan sekali, sehingga kita tidak mau berpisah dengan iman walau sedetik.

Selamat bejuang wahai saudaraku untuk iman yang lebih baik

Belajarlah menangis, yang dimaksud bukanlah dalam skenario drama, atau film yang dibuat-buat sebagai bumbu, pelengkap dan penyempurna adegan agar terlihat dramatis dan bersifat metaforis. Menangis di sini bukan pula menangis di atas panggung dan tertawa di belakang layar.

Bila orang menangis karena mendapat musibah, itu sudah biasa. jika sekali waktu ia menangis karena merasakan sakit, ini juga sering terjadi. Tangis–menangis karena suatu sebab seperti hal-hal demikian tadi adalah hal biasa dan wajar karena timbul dari rasa iba hati, rasa sedih diri, atau karena merasakan sakit.

Tetapi pernakah kita menangis tanpa sebab atau akibat yang belum pernah kita rasakan dan terjadi pada kita, atau dalam lingkungan kita? pernakah kita membayangkan suatu peristiwa yang belum tahu kejadiannya, dan tidak pernah terbayang dalam benak, kemudian karenanya lebih dulu kita menangis?

Boleh jadi hal demikian belum pernah terjadi. Sebab bagaimana mungkin itu terjadi kalau tidak dengan perantara sebab dan akibat? Apa yang kita tangisi?

Belajarlah menagisi diri sendiri di hadapan Tuhan !

Merenung sejenak sembari menyesali berbagai kekeliruan kita selama ini, kemudian mulailah belajar menangis. Air mata yang menetes di keheningan malam, di tengah suasana lantunan Do’a Istighfar berangkat dari rasa kekhawatiran kita yang dalam, pertanda kita masih punya hati nurani.

Selayaknya kita merasa sedih dan berduka kalau-kalau Allah Swt tidak berkenan dengan perilaku kita selama ini. Sepatutunya kita merasa khawatir kalau-kalau amal ibadah kita tidak diterima di sisi-Nya. Bahkan, kita harus menyesal dan takut jika segala dosa-dosa kita tidak terampuni.

Belajar menangis seperti itulah yang harus dijadikan tradisi bagi setiap muslim. Tentu bukan menangisnya yang dijadikan obyek persoalan. Tapi penyesalan terhadap ibadah yang selama ini kita lalaikan. Boleh jadi, kebiasaan tersebut tak pernah atau jarang kita lakukan.

Alangkah kagumnya kita ketika kita teringat kepada kaum Salafus Shalih ,orang-orang shalih terdahulu. Mereka tidak hanya mengerti tapi juga meresapi dan mengamalkan seluruh ajaran Islam. Sehingga wajar ketika dibacakan ayat-ayat Allah, lalu bergetarlah hati-hati mereka.

Lalu bagaimanakah dengan diri kita? Sudakah hati kita bergetar pada saat ayat-ayat suci Al-Qur’an dilantunkan? Alangkah indahnya jika kita termasuk orang-orang yang disebutkan dalam Al-Qur’an :

“ Sesunguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karnanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal ”. Q.S. Al-Isra’ : 109.

Hati yang mati Karena pengaruh gemerlapnya kehidupan duniawi selamanya akan menghapus perasaan khusyu’. Bila sudah sedemikian jauh, alangkah celakanya kita. karena bila dalam kehidupan kita tidak dapat menangis, maka kita akan menangis dalam kehidupan lain (Hari Kiamat), Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ingatkan:

“ Setiap mata akan menangis di hari kiamat kecuali mata yang telah menangis karena takut kapada Allah dan mata yang berjaga di jalan Allah ”.(HR. Tirmidzi).

Demikianlah ceramah agama singkat tentang kesabaran antara harap dan takut kepada Allah. Semoga ceramah singkat ini bermanfaat dan bisa diterapkan dalam kehidupan.

MARI KINI KITA BELAJAR MENANGIS SEBELUM DITANGISI
ATAU MENANGISI DIRI KITA SENDIRI..

Ceramah Agama Tentang Kiat Menjadi Muslim Yang Lebih Baik

ceramah agama, berubah jadi lebih baik
terapimotivasi.com

بسم الله الرحمن الر حيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، وبعد

Seorang muslim yang taat, senantiasa berusaha meningkatkan pengamalan keislamannya setiap hari, secara berkesinambungan. Ia selalu berfikir tentang ibadah apa yang masih kurang ia perhatikan selama ini?

Dosa apa yang harus ia tinggalkan secepatnya? Ia selalu mengingat kematian, dan melakukan persiapan-persiapan serius untuk menyongsong kematian. Ia selalu memperbanyak dzikir dan do’a. Ia ingin hidupnya bahagia dan mulia dengan kebaikan.

Ia ingin hidupnya membawa manfaat bagi sebanyak mungkin orang. Ia senantiasa berorientasi pada ridha, rahmat, berkah, maghfirah dan taufiq Allah swt. Ia berjuang mengamalkan amanah Allah swt dalam Al-Qura’an:

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

Katakanlah, “Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” QS. Al-An’am : 162-163

Itulah gambaran singkat dan sederhana tentang karakter kepribadian seorang muslim yang taat. Sebaliknya, ada juga pribadi muslim yang kurang taat dan kurang menghayati keislamannya. Ia tidak berfikir tentang peningkatan ibadahnya.

Kurang termotivasi untuk selalu menambah amal shalehnya. Ia terbiasa manyia-nyiakan waktu dan kesempatan untuk berbuat baik. Ia tidak merasa butuh untuk merenungkan kesalahan-kesalahan dan dosa-dosanya. Ia jarang mengingat kematian.

Merasa cukup dengan ibadah-ibadahnya yang lalu. Ia merasa bahwa amal ibadahnya telah memungkinkan ia untuk masuk syurga. Ia menikmati dosa. Ia pecinta dosa. Ia banyak lalai. Ia kurang berdzikir, sedikit berdo’a.

Kurang mengamalkan shalat sunnah, puasa sunnah. Ia kurang berinfaq, sedikit bersedekah. Itulah potret sederhana pribadi muslim yang kurang taat.

Mengapa ada pribadi muslim yang kurang taat? Salah satu jawabannya ialah : karena ia belum memahami/belum menghargai tujuan hidup yang sebenarnya ialah ibadah kepada Allah swt:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. QS. Adz-Dzariyat: 56

Ibadah kepada Allah Azza Wajalla semata bertujuan untuk mendapatkan ridha dan rahmat Allah swt. Seorang muslim yang kurang taat, sesungguhnya belum memahami/belum meyakini peranan kasih sayang Allah dalam hidup keseharian, peranan bantuan Allah dalam setiap aktivitas hidup kita, peranan ampunan Allah swt dalam mewujudkan rasa kebahagiaan sejati, dan kemuliaan hakiki.

Seorang muslim yang kurang taat, pemikirannya cenderung materialistis, pragmatis, duniawi semata. Inilah yang menyebabkan ia senang berbuat dosa, bahkan sangat menikmati dosa, tidak ada rasa menyesal setelah berbuat dosa.

Tidak heran kalau ia malas ke masjid. Tidak heran jika ia malas membaca Al-Qur’an. Tidak heran jika ia rutin tidur ketika mendengar khutbah. Kenapa?

Karena memang motivasinya rendah. Keyakinannya memang lemah. Ia kurang percaya bahwa kepatuhan dan ketaatan kepada Allah itu sangat berpengaruh positif pada kehidupannya.

Ia kurang yakin bahwa membaca Al-Qur’an itu membahagiakan. Masih ragu pada manfaatnya, tidak cepat-cepat ke masjid, tidak rajin ke pengajian, tidak bergaul dengan orang shaleh.

Karena itu, maka ia kurang senang pada pembicaraan tentang Islam, tentang kematian, tentang taubat. Ia berpendapat bahwa mengamalkan Islam itu “biasa-biasa saja lah”. Tidak usah dipaksa-paksa. Tidak usah “ekstrim”.

Orang yang ke masjid dikatakan berlebihan. Orang yang rajin membaca Al-Qur’an dinilai terlalu shaleh. Orang yang rajin ke pengajian disebut sebagai pemalas, pengangguran, tidak punya pekerjaan, dsb.

Yang paling penting menurut mereka yang kurang taat ini ialah uang, harta, rumah, perabot, kendaraan, tanah, proyek, usaha jabatan, popularitas, pujian orang, bersenang-senang, hura-hura, foya-foya.

Itulah gambaran pemikiran sebagian masyarakat muslim kita dewasa ini. Bagaimana kita menyikapinya? Sudahkah kita mencocokkannya dengan pemikiran dan pengamalan kita? Sudahkah kita termasuk pada pemikiran dan perjuangan muslim yang taat?

Atau, kita masih berada pada kelompok muslim yang kurang taat?

Apa sebaiknya yang kita lakukan untuk memperbaiki kepribadian kita, agar lebih sesuai dengan ajaran Allah dan tuntunan Rasulullah saw.

1. Katakanlah: “Saya harus menjadi muslim yang taat”

Memotivasi diri sendiri dengan ungkapan seperti ini sangat cepat membuka pintu-pintu inspirasi positif untuk menindak lanjutinya dengan langkah dan gerakan.

Salah satu penyebab kemalasan untuk taat kepada Allah, ialah rendahnya motivasi dari hati nurani untuk menjadi muslim yang taat. Banyak orang tidak merasa perlu untuk taat. Padahal nilai keislaman kita, ada pada ketaatan.

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُوْلَئِكَ هُمْ الْمُفْلِحُونَ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقِيهِ فَأُوْلَئِكَ هُمْ الْفَائِزُونَ

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan”. QS. An-Nur: 51-52

2. Katakanlah: “Ridha Allah tujuan semua ucapan dan perbuatanku”

Peneguhan niat ikhlas di hati sangat penting dan mendesak untuk selalu kita lakukan. Karena ikhlas itulah ruhnya ibadah. Bahkan itulah ruhnya kehidupan.

Banyak orang Islam yang belum meyakini pentingnya ridha Allah dalam kehidupan ini. Padahal, kebahagiaan apa yang kita cari jika Allah tidak ridha kepada kita?! Kemuliaan apa yang kita kejar jika Allah tidak ridha kepada kita?!

Kalau ada kebahagiaan, kemuliaan dan keselamatan tanpa ridha Allah, pasti palsu! Pasti menipu! Jangan mau tertipu! Bukankah Allah swt berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” QS. Thaha: 124

Jadi, kalau kita menyaksikan banyak orang yang berpaling dari petunjuk Allah lalu ia sukses, maju, terhormat, yakinlah bahwa itu adalah kepalsuan! Karena, bagaimanapun juga, kita sangat yakin pada kebenaran ayat mulia di atas.

Alangkah banyaknya orang yang tertipu dengan kepalsuan dunia ini, padahal Allah swt telah mengingatkan kita:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لاَ يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلاَ مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلاَ تَغُرَّنَّكُمْ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلاَ يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

”Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (setan) memperdayakan kamu dalam (menaati) Allah”. QS. Luqman: 33

Untuk itulah, maka kita harus memperbaharui keyakinan kita pada pentingnya ridha Allah swt dalam kehidupan. Keyakinan itulah yang senantiasa memberikan kesadaran agar kita selalu berniat, bersungguh-sungguh mencari dan mengejar ridha Allah swt, sehingga kita jadikan jiwa, akal dan jasmani kita sebagai persembahan kepada Allah swt.

Kita jadikan ucapan dan perbuatan kita sebagai ruku’ sujud tiada henti kepada Allah. Kita jadikan semua ruang dan waktu sebagai hamparan sajadah panjang tempat kita beribadah tiada henti. Allahu Akbar!

3. Katakanlah: “Apa yang sebaiknya yang saya lakukan sekarang?”

Setelah kita memotivasi diri kita untuk selalu menjadi muslim yang taat, kita lakukan penguatan niat ikhlas di hati pada semua aktivitas keseharian kita. Setelah itu, kita dianjurkan pula untuk aktif menanyakan pada nurani kita: “Apa sebaiknya saya lakukan sekarang?”

Nurani kita yang selalu mengharapkan ridha Allah, pasti memberikan jawaban-jawaban positif, kreatif, inovatif, bahkan memberikan nasehat, teguran dan motivasi.

Nurani kitalah yang menyuruh kita ke masjid, shalat jama’ah, shalat sunnah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdo’a, menghadiri pengajian, membaca tulisan tentang Islam, berda’wah, menasehati keluarga, bersedekah, silaturrahim, berprilaku sopan, menghargai orang lain, dst.

Nurani kitalah yang melarang kita syirik, sihir, zina, riba, menggibah, memfitnah, memaki, menzalimi, berdusta, menipu, mencuri, korupsi, berkhianat, bersifat malas beribadah dan bersifat masa bodoh, dst.

Nurani kita selalu berbicara. Nurani kita selalu menasehati, menegur dan mengingatkan. Mari kita dengarkan apa yang disampaikan oleh nurani kita. Ikutilah nasehatnya, jangan membantah nurani, jangan mengingkari nurani.

Yang dimaksud dengan nurani ialah suara hati yang benar. Suara hati yang sesuai dengan ajaran Allah dan Rasulullah saw. Karena tidak semua suara hati itu nurani. Hawa nafsu juga suara hati. Syetan juga bersuara di hati.

Nurani itulah fitrah. Itulah kesucian dan keaslian manusia sebelum dinodai dengan hawa nafsu dan bisikan syetan. Allah swt berfirman:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لاَ تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ. مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَلاَ تَكُونُوا مِنْ الْمُشْرِكِينَ

”Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah”. QS. Ar-Rum: 30-31

Problem kepribadian kebanyakan kita ialah terlalu seringnya kita mengingkari nasehat nurani. Bahkan sering kali kita membungkam nurani. Menyuruh nurani itu diam. Karena kita lebih memilih ucapan hawa nafsu dan bujuk rayu syetan.

Itulah sebabnya sehingga banyak kebaikan yang kita tahu bahwa itu adalah kebaikan, tapi kita malas melakukannya. Sebaliknya, banyak kejelekan yang kita tahu bahwa itu adalah kejelekan, tapi kita sangat menikmati kejelekan itu.

Solusinya ialah: Aktif bertanya kepada nurani: “Apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang?” Aktif berkonsultasi dengan nurani tentang setiap ucapan dan prilaku. Laksanakan nasehat nurani, sesali kelalaian dan kekhilafan.

Tebus semua dosa dan kedurhakaan dengan amal ibadah dan kebaikan yang berlipat ganda. Paksa diri untuk itu semua, dan temukanlah kebahagiaan sejati, kemuliaan hakiki, kekuatan paslu dalam perjuangan suci itu. Allahu Akbar!

Akhirnya, kepada Allah jualah kita senantiasa memohon petunjuk, bimbingan dan tuntunan, karena hanya Dia-lah yang Maha Kuasa, Maha Pengasih, Maha Penyayang. Mari kita berdo’a dengan do’a ini:

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا اْلبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

“Ya Allah, perlihatkanlah kami kebenaran dan yakinkanlah kami bahwa itu adalah kebenaran, serta bimbinglah kami untuk mengikutinya. Dan perlihatkanlah kepada kami kebatilan dan yakinkanlah kami bahwa itu adalah kebatilan, serta bimbinglah kami untuk menjauhinya.” Amin.

Demikianlah ceramah agama singkat tentang kiat menjadi muslim yang lebih. Selamat berjuang saudaraku. Selamat sukses. Marilah kita saling mendo’akan. Marilah kita bersatu dalam kebenaran dan kebaikan.

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك و أتوب إليك

Contoh Ceramah Agama Tentang

Tingkatkan Cinta Pada Al-Qur’an

Ceramah agama, cinta pada Al-Qur'an
nocompulsioninislam.com

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Kita semua yakin bahwa kita, semua manusia, dan semua makhluk, diciptakan oleh Allah swt. Dialah satu-satuNya Tuhan kita. Hanya Dialah satu-satuNya pencipta, pemberi rezeki, pengatur, pemilik, dan penguasa segenap makhluk.

Tidak ada yang terjadi pada diri kita, keluarga kita,masyarakat kita, bangsa kita, tanpa izin, kehendak,dan kekuasaanNya semata.

Tidak ada yang terjadi di langit dan di bumi, berupa apapun dan betapapun, kecuali semata-mata karena izin, kemauan dan kekuasaan Allah swt. Inilah penjabaran dari keyakinan Tauhid Rububiyah yang senantiasa kita ucapkan:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam”. [Al Fatihah: 2]

Keyakinan inilah yang senantiasa diajarkan, ditanamkan dan dikuatkan oleh Al-Qur’anul Karim. Marilah kita meluangkan waktu untuk merenungkan firman-firman suci dari Allah yang maha penyayang:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. QS. Hud: 6

نَحْنُ خَلَقْنَاكُمْ فَلَوْلَا تُصَدِّقُونَ*

Kami telah menciptakan kamu, maka mengapa kamu tidak membenarkan (hari bangkit)?. QS. Al Waqiah: 57

أَفَرَأَيْتُمْ مَا تُمْنُونَ *

Maka terangkanlah kepadaKu tentang nutfah yang kamu pancarkan. QS. Al Waqiah: 58

أَأَنْتُمْ تَخْلُقُونَهُ أَمْ نَحْنُ الْخَالِقُونَ*

Kamukah yang menciptakan-nya, atau Kami yang menciptaka-nnya? QS. Al Waqiah: 59

نَحْنُ قَدَّرْنَا بَيْنَكُمْ الْمَوْتَ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ*

Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-kali, tidak dapat dikalahkan. QS. Al Waqiah: 60

عَلَى أَنْ نُبَدِّلَ أَمْثَالَكُمْ وَنُنْشِئَكُمْ فِي مَا لا تَعْلَمُونَ *

Untuk menggantikan kamu dengan orang-orang yang seperti kamu (dalam dunia) dan menciptakan kamu kelak (di akhirat) dalam keadaan yang tidak kamu ketahui. QS. Al Waqiah: 61

وَلَقَدْ عَلِمْتُمْ النَّشْأَةَ الْأُولَى فَلَوْلَا تَذكَّرُونَ*

Dan sesungguhnya kamu telah mengetahui penciptaan yang pertama, maka mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran (untuk penciptaan yang kedua)?. Al Waqiah: 62

أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَحْرُثُونَ*

Maka terangkanlah kepadaKu tentang yang kamu tanam?. Al Waqiah: 63

أَأَنْتُمْ تَزْرَعُونَهُ أَمْ نَحْنُ الزَّارِعُونَ*

Kamukah yang menumbuhkan atau Kami yang menumbuhkannya?. Al Waqiah: 64

لَوْ نَشَاءُ لَجَعَلْنَاهُ حُطَامًا فَظَلْتُمْ َتَفَكَّهُونَ*

Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan dia kering dan hancur, maka jadilah kamu heran tercengang. Al Waqiah: 65

إِنَّا لَمُغْرَمُونَ*

(Sambil berkata): Sesungguhnya kami benar-benar men-derita kerugian. Al Waqiah: 66

بَلْ نَحْنُ مَحْرُومُونَ*

Bahkan kami menjadi orang yang tidak mendapat hasil apa-apa. Al Waqiah: 67

أَفَرَأَيْتُمْ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ*

Maka terangkanlah kepadaKu tentang air yang kamu minum. Al Waqiah: 68

أَأَنْتُمْ أَنزَلْتُمُوهُ مِنْ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنزِلُونَ*

Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkannya?. Al Waqiah: 69

لَوْ نَشَاءُ جَعَلْنَاهُ أُجَاجًا فَلَوْلَا تَشْكُرُونَ*

Kalau Kami kehendaki niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur? Al Waqiah: 70

أَفَرَأَيْتُمْ النَّارَ الَّتِي تُورُونَ*

Maka terangkanlah kepadaKu tentang api yang kamu nyalakan (dari gosokan-gosokan kayu). Al Waqiah: 71

أَأَنْتُمْ أَنشَأْتُمْ شَجَرَتَهَا أَمْ نَحْنُ الْمُنشِئُونَ*

Kamukah yang menjadikan kayu itu atau Kami yang menjadikannya?. Al Waqiah: 72

نَحْنُ جَعَلْنَاهَا تَذْكِرَةً وَمَتَاعًا لِلْمُقْوِينَ*

Kami menjadikan api itu untuk peringatan dan bahan yang berguna bagi musafir di padang pasir. Al Waqiah: 73

فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ*

Maka bertasbihlah degan (menyebut) nama Tuhanmu yang maha besar. QS. Al Waqiah: 74

Renungkan pula ayat-ayat berikut yang tidak sempat kami cantumkan di buku ini: QS. Yunus: 3-6

QS. Al Qashash: 71-73
QS. An Naml: 60-65

Atas dasar keyakinan pada Tauhid Rububiyah, kita membangun kekuatan keislaman kita, kepatuhan kita kepada ajaran agama kita tercinta ini.

Atas landasan keyakinan Tauhid Rububiyah, kita mengamalkan dan meneguhkan Tauhid Uluhiyah, Yaitu Tauhid Ibadah, Tauhid penghambaan kepada Allah swt semata.

Sebelum dan sesudah itu semua, kita meyakini kebenaran hakiki pada Kitab Suci yang abadi, Kitab Allah yang maha mulia, Al-Qur’anul Karim.

Membangun Keyakinan pada Al-Qur’an

Al-Qur’an yang mulia adalah firman-firman suci Allah swt yang maha pengasih, maha penyayang, maha bijaksana, maha perkasa.

Al-Qur’an yang mulia adalah surat cinta Ilahi kepada segenap manusia, wujud nyata kasih sayang Allah swt kepada segenap hambaNya yang beriman.

Al-Qur’an yang suci adalah kitab yang maha benar, sumber kebenaran mutlak, tidak mengandung kebatilan, kedustaan, dan kesalahan, sedikitpun.

Al-Qur’an adalah kitab mulia yang memuliakan. Al-Qur’an adalah kitab suci yang mensucikan. Al-Qur’an adalah kitab bijak yang membijakkan. Al-Qur’an adalah kitab kuat yang menguatkan. Al-Qur’an adalah kitab indah yang mengindahkan. Al-Qur’an adalah kitab cahaya yang menyinari. Al-Qur’an adalah kitab nyawa yang menghidupkan.

Al-Qur’an adalah kitab obat yang menyehatkan. Al-Qur’an adalah kitab bahagia yang membahagiakan. Al-Qur’an adalah kitab sukses yang menyukseskan. Al-Qur’an adalah kitab petunjuk yang menunjuki. Al-Qur’an adalah kitab nasehat yang membimbing.

Al-Qur’an adalah kitab ilmu yang mencerdaskan. Al-Qur’an adalah kitab pahala yang memberi pahala yang sangat banyak. Al-Qur’an adalah kitab pemberi syafa’at yang menyelamatkan. Al-Qur’an adalah kitabsuci, murni, asli, istimewa dan abadi. Al-Qur’an adalah kitab segala-galanya bagi setiap muslim.

Agar kita semakin yakin pada Al-Qur’an, marilah kita meluangkan waktu untuk merenungkan Firman-Firman mulia dari Allah, berikut ini:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yag berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. [QS: Yunus: 57]

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan apakah orang yang sudah mati, kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan”. QS: Al-An’am: 122

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

“Sesunggunya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”. QS: Al-Isra’: 9

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجَا

“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hambaNya Al Kitab (Al-Qur’an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya”. QS: Al-Kahfi: 1

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

“Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluru halam”. QS:Al-Furqan:1

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الإيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيم

“Dan demikanlah Kami wahyukan kepadamu Ruh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidak mengetahui apakah Al Kitab (Al-Qur’an) dan tidak mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus”. QS:As Syura:52

Sebuah Analogi tentang kebenaran dan Fungsi Al-Qur’an

Sebuah renungan singkat tentang kebenaran dan fungsi Al-Qur’an dalam kehidupan ini, mengajak kita untuk mengingat kembali bahwa setiap produsen kendaraan, mesin, komputer, dan peralatan apa saja, selamanya menerbitkan buku panduan operasional-nya.

Sebagai contoh: Setiap mobil pasti ada buku petunjuk penggunaan dan perawatannya. Di buku itu dijelaskan apakah mobil tersebut memakai bensin atau solar, di dalamnya ada pengenalan tentang bagian-bagian mobil itu, dijelaskan pula petunjuk perawatannya.

Jika pengguna mobil itu mematuhi buku panduan tersebut, niscaya mobil itu akan awet, terpelihara dengan baik. Tapi jika sebaliknya, pengguna mobil itu tidak mengindahkan buku panduan itu, tidak disiplin dengan petunjuk perawatannya, bahkan satu saja pelanggaran terhadap buku panduan tersebut, niscaya mobil itu cepat rusak, bahkan bisa saja tidak dapat digunakan sama sekali.

Allah swt sebagai pencipta tunggal segenap makhluk, telah menyiapkan buku panduan kehidupan yang sangat sempurna. Itulah Al-Qur’an yang sangat istimewa.

Kepatuhan terhadap Al-Qur’an, dengan penuh kedisiplinan dan konsistensi, menjamin kebahagiaan, kedamaian, kemuliaan, kesejahteraan, kesuksesan dan keselamatan yang sejati.

Sebaliknya, penolakan terhadap Al-Qur’an, kelalaian terhadap petunjuk Al-Qur’an, mengabaikan nasehat Al-Qur’an, melupakan penghargaan terhadap Al-Qur’an, pasti dan sangat pasti, mengakibatkan kesusahan, kegelisahan, kebingungan, kekacauan, kehinaan, dan kegagalan yang sebenarnya, cepat atau lambat!

Hampir sama dengan kesalahan seorang pengguna mobil yang semestinya diisi bensin, lalu ia mengisinya dengan solar. Atau seorang pengendara mobil yang menghadapi bahaya di depannya, semestinya ia menginjak pedal rem, lalu ia menginjak pedal gas! Ia celaka!. Na’udzubillah min dzalik.

Kewajiban Cinta pada Al-Qur’an

Cinta pada Al-Qur’an adalah kewajiban setiap muslim, oleh karena cinta kepada Al-Qur’an adalah manifestasi cinta kepada Allah. Sedang cinta kepada Allah adalah kewajiban setiap muslim sebagai wujud penghayatan iman kepada Allah.

وَالَّذِيْنَ آمَنُـوا أَشَـدُّ حُباًّ لله

Adapun orang-orang beriman sangat cinta kepada Allah.[QS.AL-Baqarah:165]

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan bahwa manis lezatnya iman hanya dapat dirasakan oleh orang yang mencintai Allah dan Rasulnya melebihi cintanya kepada yang lain.

ثلاث من كن فيه وجدبهن حلاوة الإيمان: أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما

“Ada tiga perkara, siapa yang ada pada dirinya maka ia akan merasakan manisnya iman; Mencintai Allah dan RasulNya melebihi apapun, …”

Untuk merasakan manisnya iman, kita harus mencintai Allah. Untuk mencintai Allah, kita harus mencintai Al-Qur’an. Sebab mencintai Allah berarti mencintai sifat-sifat Allah yang maha mulia. Dan salah satu sifat Allah ialah sifat kalam/ berbicara/ berfirman. Dan Al-Qur’an adalah Kalamullah.

Mencintai AlQur’an adalah kewajiban, karena cinta kepada Al-Qur’an adalah sarana efektif, bahkan menjadi syarat mutlak untuk motivasi yang tinggi, semangat yang berkesinambungan untuk membaca Al-Qur’an, mendengar Al-Qur’an, mempelajari Al-Qur’an, menghafal Al-Qur’an, mengajarkan Al-Qur’an, dan mengamalkan Al-Qur’an.

Dari sini kita mendapat jawaban hakiki dari pertanyaan-pertanyaan besar:

¨ Mengapa sebagian masyarakat kita kurang memperhatikan Al-Qur’an ?

¨ Mengapa putera-puteri kita malas membaca & mempelajari Al-Qur’an?

¨ Mengapa pengamalan Al-Qur’an sepi peminatnya di kalangan umat Islam?

¨ Mengapa kebanyakan kita belum menjadikan tilawah Al-Qur’an sebagai kewajiban kita setiap hari ?

¨ Mengapa kita tidak berusaha keras untuk memperbaiki tajwid kita ?

¨ Mengapa kita belum aktif menyuruh anak-anak kita untuk membaca Al-Qur’an setiap hari ?

¨ Mengapa kita belum rajin mengulangi dan menjaga hafalan Al-Qur’an kita ? Apalagi menambah hafalan tersebut?

Jawaban dari semua pertanyaan dan kerisauan di atas ialah, karena kita belum cinta kepada Al-Qur’an. Atau, cinta kita kepada Al-Qur’an masih rendah.

Cinta kita kepada Al-Qur’an memerlukan pembuktian. Masyarakat kita harus dihimbau dan diingatkan agar meningkatkan cinta mereka kepada kitab maha suci ini.

Sekiranya kita cinta kepada Al-Qur’an niscaya kita menjadikan Al-Qur’an sebagai bacaan harian kita. Jika kita cinta kepada Al-Qur’an, niscaya kita senang dan bersemangat mempelajari Al-Qur’an.

Abdullah bin Mas’ud R.A. pernah mengatakan

لو طهرت قلوبكم ما شبعتم من كتاب الله

“Sekiranya hatimu bersih,niscaya kamu tidak akan kenyang terhadap kitab Allah”.

Maksudnya, hati yang bersih tidak akan pernah bosan membaca, menghafal, mempelajari & mengamalkan Al-Qur’an.

Kiat Meningkatkan Cinta pada Al-Qur’an

Cinta kepada Al-Qur’an memerlukan pembuktian, membutuhkan peningkatan yang berkesinambungan. Berikut ini beberapa kiat pembuktian dan peningkatan cinta kepada Al-Qur’an:

  1. Membaca Al-Qur’an setiap hari.
  2. Meningkatkan kemampuan tajwi.
  3. Menghafal surah-surah pilihan dan juz 30, dan mengulang-ulanginya.
  4. Membaca dan merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an dan terjemahnya, minimal 1X sepekan.
  5. Membaca dan mempelajari ulumul Qur’an (ilmu-ilmu Al-Qur’an) minimal membaca pendahuluan Al-Qur’an & terjemahnya cetakan Madinah/Depag.
  6. Mendidik anak dan mengajak orang lain untuk membaca dan mempelajari Al-Qur’an.
  7. Aktif mengikuti pengajian dan ceramah yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
  8. Mencintai orang yang ahli Al-Qur’an, orang yang rajin membaca Al-Qur’an, penghafal Al-Qur’an, dan orang yang konsisten mengamalkannya.
  9. Menghafal do’a-do’a yang diajarkan oleh Al-Qur’an, dan rutin membacanya termasuk membaca surah-surah dan ayat-ayat yang dianjurkan untuk dibaca setiap hari.
  10. Menghargai dan memuliakan Al-Qur’an dengan tidak meletakkannya di lantai tanpa pelapis, tidak meletakkan Al-Qur’an di bawah buku yang lain.

Demikianlah kita berupaya menanamkan dan meningkatkan cinta kita kepada Al-Qur’an.

Beberapa Renungan

Kini saatnya kita melakukan renungan untuk mengukur kadar cinta kita kepada Al-Qur’an yang mulia. Semoga menjadi kesepakatan kita semua bahwa orang yang cinta kepada Al-Qur’an, pasti rajin membaca Al-Qur’an, rajin mengikuti pengajian, rajin mendidik anak-anaknya untuk mempelajari Al-Qur’an.

Seberapa besar cinta kita kepada Al-Qur’an, diukur dan dinilai dari pengamalan 10 kiat cinta kepada Al-Qur’an yang telah disebutkan di atas.

Semoga menjadi kesepakatan kita semua bahwa orang yang cinta kepada Al-Qur’an, pasti aktif dan bersemangat mengamalkan Al-Qur’an.

Orang yang cinta kepada Al-Qur’an, pasti rajin menegakkan shalat jamaah, shalat-shalat sunnah, menunaikan zakat, infaq dan sedekah, menunaikan shaum wajib dan sunnah, menunaikan ibadah haji bila mampu, melaksanakan kewajiban da’wah dan nasehat, aktif bertaubat dan beristighfar, rajin berdzikir dan berdo’a, rajin bekerja dan mencari nafkah, memakai jilbab bagi wanita, dan mewajibkan wanita dalam tanggungan-nya untuk memakai jilbab.

Semoga menjadi kesepakatan kita semua bahwa orang yang cinta kepada Al-Qur’an, pasti anti maksiat, pasti tidak senang kepada dosa, pasti marah melihat syirik, bid’ah dan pelanggaran terhadap ajaran Al-Qur’an.

Antipati, kebencian dan kemarahan terhadap syirik, bid’ah, khurafat, dosa dan maksiat mendorong kita untuk berda’wah, memberi nasehat, mendidik secara bijak, tanpa memaki, tanpa menghina, tanpa melakukan kekerasan terhadap yang bukan tanggungan kita.

Alangkah lemahnya iman kita, ketika kita masih malas membaca dan mempelajari Al-Qur’an. Alangkah lemahnya iman kita, ketika kita malas beribadah, malas berdzikir dan berdo’a. Alangkah lemahnya iman kita, ketika kita masih malas mengikuti pengajian dan merendahkan pendidikan pesantren.

Alangkah besarnya dosa kita, ketika kita masih senang dengan dosa dan maksiat. Alangkah besarnya dosa kita, ketika kita tidak menunaikan shalat, ketika kita serakah, bakhil, menahan hak orang lain, tidak peduli pada lembaga-lembaga Islam.

Alangkah besarnya dosa kita, ketika kita lalai mendidik anak-anak kita dengan aqidah, ibadah, akhlaq, tilawah Al-Qur’an, dan pengamalannya. Alangkah besarnya dosa kita, jika kita membiarkan anak-anak kita berpacaran, bergaul dengan remaja-remaja yang menyimpang.

Alangkah besarnya dosa kita, jika kita kita membiarkan syirik, zina, judi, minuman keras di masyarakat kita, tanpa da’wah dan nasehat.

Marilah kita memperbanyak istighfar. Marilah kita bangkit dari kelalaian kita. Marilah kita bersatu untuk menjunjung tinggi Al-Qur’an, mengamalkan cinta tulus kepada Al-Qur’an.

Marilah kita mulai dari yang kecil-kecil. Marilah kita mulai dari membaca satu halaman Al-Qur’an setiap hari, menghafal surah-surah pendek, menghafal do’a-do’a dari Al-Qur’an.

Marilah kita mulai dari sekarang. Jangan menunda-nunda pengamalan cinta kepada Al-Qur’an. Mari mulai dari sekarang. Mari memperbanyak istighfar sekarang juga.

Mari membaca do’a-do’a dari Al-Qur’an sekarang juga. Mari menyuruh anak-anak kita, bawahan kita, tanggungan kita untuk membaca Al-Qur’an sekarang juga !.

Jika kita terbiasa menunda ibadah dan amal shaleh, itulah yang menyebabkan kemunduran dan kelemahan iman kita.

Penutup

Renungan keislaman telah dilakukan. Pesan-pesan Al-Qur’an telah disampaikan. Himbauan dan motivasi peningkatan telah diberikan. Nasehat bijak dan sentuhan halus telah dihadiahkan.

Iman kita semua membuat kita cinta kepada ibadah dan amal shaleh. Hati nurani kita semua cinta kepada Al-Qur’an. Jiwa kita semua senang menerima nasehat dan ajakan kebenaran dan kebaikan. Hawa nafsu dan syetan adalah musuh utama kita.

Televisi dan lingkungan pergaulan yang jelak adalah penghalang utama untuk ibadah dan amal shaleh.
Sifat serakah, sifat bakhil, kesibukan mengejar dunia, malas mengikuti pengajian, uang haram. Itulah penyebab kelalaian dan penyimpangan.

Mari kita mulai perbaikan dari diri sendiri. Mari kita mendidik keluarga dan putera-puteri kita. Marilah kita mulai dari pengamalan yang kecil-kecil dan ringan-ringan.

Marilah memperbanyak istighfar, dzikir dan do’a. Marilah kita membuat planning/ perencanaan dan lakasanakan
dengan disiplin, kemudian lakukanlah evaluasi/ muhasabah.

Marilah kita mulai sekarang juga. Semoga Allah memberi hidayah kepada kita semua. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita. Semoga Allah mempertemukan kita semua di syurga Allah yang abadi. Semoga apa yang telah disampaikan dalam ceramah agama singkat ini, bisa diamalkan. Amin

Ceramah Agama Tentang Tingkatkan Cinta Pada Sesama Muslim

ceramah agama singkat tentang Mencintai sesama muslim
tabungwakaf.com

Agama Islam yang bersifat konperehensif dan universal, menata seluruh aspek kehidupan manusia dengan penuh rahmat, kasih sayang, dan kedamaian. Seluruh ajaran agamanya cocok untuk seluruh bangsa, suku, kelompok masyarakat, serta bersifat abadi hingga dunia kiamat.

{ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلاَ تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ} سورة البقرة : 208

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan,
dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu” [QS. Al-Baqarah : 208]

Salah satu aspek utama kehidupan yang disentuh dengan rahmat dan kedamaian ajaran Islam ialah aspek sosial. Al-Qur’anul Karim telah menetapkan orientasi hubungan antar bangsa.

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِير

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia
di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al-Hujuraat : 13)

Pada ayat mulia yang lain, Allah mempersaudarakan segenap umat Islam.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ . سورة الحجرات : 10

“Sesungguhnya orang-orang mu’min bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” QS. Al Hujuraat : 10

{إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ} سورة الأنبياء : 92

“Sesungguhnya ummat kamu ini adalah ummat yang satu; dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku” [QS. Al-Anbiyaa’ : 92]

Rasulullah Saw mempertegas statemen Al-Qur’an ini dengan sabda beliau yang shahih :

{ المُسْلِمُ أَخُوا المُسْلِم لاَ يُظْلِمُه وَلاَ يُسْلِمه } رواه مسلم

“Seorang muslim itu bersaudara dengan muslim lainnya, tidak menzhaliminya dan tidak menyerahkannya”. HR. Muslim

المُسْلِمُ أَخُوا المُسْلِم لاَ يَخْونُهُ وَلاَ يَكْذِبُهُ وَلاَ يَخْذُلُه كُلُّ المُسْلِمِ عَلَى المُسْلِمِ حَرَامٌ عِرْضُهُ وَمَالُهُ وَدَمُهُ التَّقْوَى هاَ هُنَا بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أنْ يَحْتَقِرَ أّخَاهُ المُسْلِمَ } رواه الترمذي

“Seorang muslim itu bersaudara dengan muslim lainnya,tidak mengkhianatinya, tidak berdusta kepadanya, tidak membiarkannya. Setiap muslim terhadap muslim lainnya haram kehormatannya, haram hartanya, haram darahnya. Taqwa itu di sini (di dada). Cukuplah dosa seseorang jika ia menghina saudaranya sesama muslim”. HR. At-Tirmidzi.

Rasulullah bersabda:

“Tidak beriman seorang muslim diantara kamu, hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri” HR. Bukhari.

Konsep Islam yang demikian indah tentang persaudaraan, cinta, kasih sayang, kedamaian, dan persatuan, nampaknya sangat penting untuk kita simpan dalam benak kita, kita suburkan dalam keyakinan, dan kita implementasikan dalam hidup keseharian, agar ajaran mulia ini benar-benar memperindah kepribadian dan mendamaikan interaksi-interaksi sosial kita.

Untuk itulah, kita memerlukan pembelajaran keislaman yang berkesinambungan, dan karena itu pula, kita sangat dianjurkan untuk melakukan renungan-renungan evaluatif keislaman yang rutin.

Allahumma ya Rahman, ya Rahim.

Bimbinglah kami semua untuk bersatu dalam kebenaran. Persatukanlah kami semua untuk saling menerima, saling menghargai, dan saling memaafkan. Allahumma Amin.

Ukhuwah Islamiyah, Ikatan cinta suci antar segenap umat islam

Persaudaraan antar segenap umat Islam sepanjang sejarah dan di manapun berada,

adalah perintah Ilahi yang mulia, yang sejatinya wajib dimuliakan oleh setiap muslim dengan penghayatan cinta tulus kepada setiap muslim dan peningkatan pengamalan akhlak-akhlak ukhuwah.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا َيَسْخَرْ قَومٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلاَ تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَ لاَ تَنَابَزُوا بِالأ َلْقَابِ بِئْسَ الاِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُوْلَئِكَ هُمْ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yag lain
(karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan janganlah wanita-wanita mengolok-olokkan wanita-wanita yang lain,(karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita-wanita yang mengolok-olokkan dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri
dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. QS: Al-Hujurat:11

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنْ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِي

“Hai Orang-orang yang beriman, jauhilah dari kebanyakan prasangka,sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah yang mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”. QS. Al-Hujuraat : 12

Rasulullah Saw mempertegas undang-undang Ilahi di atas dengan sabdanya :

عن أنسٍ رضي الله عنه رضي الله أن النبي صلى الله عليه وسلم قال لاَ تَبَاغَضُوا، وَلاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَكُوْنُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَاناً. وَلاَ يُحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ لَياَلٍ

“Jangan saling berbencian, iri hati, saling memutuskan silaturrahim, dan jadilah kamu hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal seorang muslim bermusuhan (tidak ngomong karena marah) lebih dari 3 hari”. HR. Bukhari

Allahumma ya Ilahana, ya Khaliqana, ya Raziqana.

Bimbinglah kami semua untuk mengamalkan perintah-Mu dan perintah Nabi Muhammad Saw, dan menjauhi larangan-Mu dan larangan Nabi Muhammad Saw. Ya Allah, tuntunlah kami semua untuk bersaudara dengan baik.

Karuniakanlah kepada kami semua cinta tulus kepada setiap muslim. Didiklah kami ya Allah, untuk memperbaiki akhlak kami semua. Amin.

Kendala-kendala Ukhuwah Islamiyah

Telah menjadi realitas yang memilukan dalam hidup keseharian umat Islam bahwa kita masih sangat sulit untuk bersatu. Bahkan, kita masih menyaksikan pertengkaran dan permusuhan antar sesama muslim. Kenyataan ini sangat menyedihkan dan sangat merisaukan setiap muslim yang memiliki seberkah cahaya iman di hatinya.

Kebencian terhadap sesama muslim, ucapan penghinaan sesama muslim, dan perilaku-perilaku pertengkaran dan permusuhan sesama muslim. Sungguh dan benar-benar mengundang kutuk, laknat, dan adzab murka Allah Yang Maha Perkasa. Astagfirullah al Azhiim.

Dalam renungan panjang pada akar penyimpangan terhadap akhlak-akhlak ukhwuwah Islamiyah, kita menemukan bahwa sebagian akar penyimpangan itu disebabkan oleh :

  • Ujub / melihat diri lebih baik dari orang lain
  • Kebencian / memiliki perasaan benci kepada sesama muslim
  • Cinta Dunia / cinta yang berlebihan terhadap harta, jabatan, istri, suami dan anak
  • Senang pada Dosa / rasa bahagia dikala melakukan dosa
  • Jauh dari Allah / malas beribadah, malas membaca Al-Qur’an, malas berdzikir, dan malas membersihkan hati

Akar-akar penyimpangan ini yang menumbuhkan seluruh bentuk pelanggaran ukhuwah, kesalahan persaudaraan antar sesama muslim.

Untuk itu, diperlukan gerakan revolusi jiwa, ishalun-nafs (perbaikan diri), reformasi kepribadian, dan renovasi ukhuwah Islamiyah, dengan satu tekad : “Tingkatkan Cinta Tulus pada Setiap Muslim!”

Dalam rangka itu, marilah kita berusaha keras untuk mengurangi rasa ujub kita, agar mampu lebih tawadhu’ (rendah hati). Mari kita berjuang untuk menghapus bekas-bekas kebencian pada sesama muslim agar kita mampu membangun rasa cinta yang tulus.

Marilah kita berusaha melihat kebaikan dan kelebihan orang lain, dan marilah menghargai kebaikan dan kelebihan tersebut. Mari kita menerima kekurangan dan kelemahan orang lain, karena kita semua memiliki kekurangan dan kelebihan .

Mari kita mengendalikan lisan kita, sehingga kita kuat menahan diri untuk tidak mengeluarkan kata-kata makian, penghinaan, hujatan, dusta, dan penipuan.

Imam Asy-Syafi’i pernah bersyair / berpuisi :

إذَا رُمْتَ أنْ تَحْيَا سَلِيماً مِنَ الرَّدى * وَدِيْنك مَوْفُوْرٌ وَعِرْضك صَين

“Jika engkau ingin hidup selamat dari kehinaan, pengamalan Agamamu terjaga, dan nama baikmu terpelihara”

فلا يَنْطِقنْ مِنْكَ اللِّسَانُ بسُوءة *فكلكَ سواءت وللناس ألسن

“Maka janganlah engkau mengeluarkan dari lidahmu kata-kata yang buruk, karena semua orang memilki keburukan, dan semua orang juga memiliki lidah”.

وعينك إن أبدت إليك معايباً * فدعها وقل يا عين للناس أعين

“Dan jika matamu memperlihatkan kepadamu aib rahasia orang lain, tinggalkan (hal itu) dan ucapkanlah : “Wahai mata, semua orang juga punya mata”.

وعاشر بمعروف وسامح من اعتدى * ودافع ولكن بالتي هي أحسن

“Dan bergaullah dengan cara yang baik dan maafkanlah orang yang bersalah. Dan tolaklah kejelekan itu, tapi dengan cara yang terbaik”.

Allahumma ya Rabbana. Kami membutuhkan bantuan-Mu untuk dapat tawadhu’. Kami memerlukan pertolongan-Mu untuk dapat memaafkan kesalahan orang lain. Kami sangat ingin meningkatkan cinta tulus kepada setiap muslim, maka arahkanlah kami semua ya Allah …

Allahumma ya Rabbana. Kami memerlukan Rahmat-Mu kepada kami, agar kami semua dapat mengurangi cinta kami kepada dunia. Bersihkanlah hati kami dari sifat serakah dan sifat bathil. Bersihkanlah harta kami dari yang haram dan dari hak orang lain.

Kami memohon Ridha-Mu kepada kami agar rumah tangga kami semua lebih damai dan lebih harmonis. Kami memohon bimbingan-Mu agar kami lebih peduli pada anak yatim dan fakir miskin. Allahumma Amin.

Seruan terakhir

Pertengkaran dan permusuhan antar sesama muslim wajib kita cemaskan, wajib kita risaukan, dan wajib untuk segera kita melakukan taubat nashuha dari dosa-dosa besar yang telah kita lakukan.

Mari tindak lanjuti taubat tersebut dengan gerakan rekonsiliasi umat Islam. Mari menjalin taaruf lintas lembaga Islam. Mari melakukan silaturrahim lintas organisasi Islam.

Mari kita tinggalkan semua bentuk Su’udzhon (sangkaan buruk) terhadap sesama muslim. Mari kita hentikan semua permusuhan di antara kita.

Mari kita stop perdebatan tentang masalah khilafiyah dengan tetap menganjurkan mencari yang lebih benar dan lebih kuat dalilnya. Mari kita bergandengan tangan dan bersatu untuk maju. Bersatu untuk lebih baik.

Mari kita tingkatkan gairah keIslaman kita dengan keaktifan shalat berjamaah di masjid, meghadiri majelis ta’lim secara rutin, meningkatkan dzikir do’a dan tilawah Al-Qur’an.

Mari kita kobarkan semangat ukhuwah Islamiyah dengan saling bermaafan, silaturrahim yang efektif, saling mendo’akan dan saling menasehati dengan bijak. Bagikan Ceramah agama singkat ini kepada sesama muslim. Semoga persaudaraan kita semakin kuat. Amin.

Ceramah Agama Menarik: Jalan Menuju Kesuksesan (Khutbah Idul Adha)

langkah menuju kesuksesan
ekoran.co.id

Segala puji hanya milik Allah Rabbul ‘alamin. Yang maha pengasih, maha penyayang. Kita memujinya dengan seluruh pujian untuk seluruh yang dia miliki berupa nama-nama, sifat-sifat dan kesempurnaan yang tiada habisnya.

Dan atas kesuciannya dari segala yang tidak layak untuk Rububiyahnya, wahdaniyahnya, dan shamadiyahnya.
Segala puji hanya untuuknya atas segala rahmatnya yang dengannya Dia mengasihi seluruh makhluqnya.

Segala puji hanya untuknya, atas karunianya dan pemberiannya, atas jalan keluar yang diberikannya dan atas ilhamnya.

Wahai tuhanku, berikanlah bantuan kepadaku untuk menyukuri nikmatmu yang engkau telah karuniakan kepadaku dan pada orang tuaku dan untuk beramal shaleh yang engkau ridhai, dan masukkanlah aku dengan rahmatmu dalam golongan hamba-hambaMu yang shaleh.

Aku bersaksi bahwa tak ada tuhan selain Allah, sendirinya tak ada sekutu baginya. Dan aku bersaksibahwa Muhammad adalah hamba dan Rasulnya.

Untuk persaksian inilah didirikan timbangan amal, dibuat kitab-kitab amal, dibuatlah Jannah dan neraka. Dengannya terbagilah manusia menjadi Mu’min dan Kuffar, Abrar dan fujjar. Di atasnya didirikan Agama ini, untuknya dihunuskan pedang-pedang untuk Jihad dan persaksian ini adalah haq Allah atas semua hambanya.

Shalawat dan salam yang sempurna dan lengkap untuk nabi kita Muhammad, penutup para Rasul, rahmat untuk alam semesta, Imam para awwalin dan Akhirin.

Baliau dijadikan tauladan yang sempurna untuk seluruh hambanya, untuk menutup segala Risalah, diturunkan kepada beliau Al-Qur’anul majid, kitab termulia dan terlengkap, mencakup seluruh dasar dan tujuan Agamanya yang diperuntukkan untuk segenap manusia.

Dan menjadi mu’jizat abadi dalam huruf-hurufnya dan kandungannya, yang tidak habis-habis keajaibannyadan tak usang karena sering diulang-ulang.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر
لا إله إلا الله الله أكبر ولله الحمد

Hikmah Idul Adha

lebaran idul adha
sumbar.kemenag.go.id

Pada pagi hari yang penuh berkah ini, kita diperkenankan oleh Allah yang maha penyayang, untuk berkumpul dan bersatu untuk menegakkan Syiar Agamanya, mengumandangkan Takbir dan Tahmid untuknya dan mengumumkan serta mempersaksikan Taubat kepadanya.

Semoga Allah Ta’ala berkenan pula untuk menerima Ibadah-Ibadah kita semua.

Hari raya Idul Adha ditandai dengan ibadah qurban yang kita sembelihdan kita bagikan kepada Fuqara’ dan masakin, sejak hari ini dan tiga hari Tasyrik setelahnya.

Peluang-peluang Ibadah dan amal shaleh seperti ini wajib kita syukuri dan wajib kita hayati, agar pelaksanaan ibadah-ibadah ini dapat membentuk sikap jiwa dan pribadi yang semakin dekat dengan ridha dan rahmat Allah.

Ibadah qurban adalah pengumuman bersama dari kita semua, bahwa kita semua rela mengorbankan segala yang kita miliki, untuk mendapatkan ridha Allah.

Selain itu , ia adalah pernyataan sikap secara beramai-ramai bahwa kita semua memandang kecil segenap harta dan benda dan kita tetap menjunjung tinggi agama Allah.

Di sisi lain, Ibada Qurban bararti perwujudan kepedulian social umat islam yang menjadi salah satu ibadah mulia dalam islam. Olehnya itu diharapkan agar ibadah Qurban mewujudkan kerukunan, kedamaian dan kesatuan jiwa seluruh lapisan umat Islam.

Mari kita semua saling bermaaf-maafan. Mari kita semua berbakti pada orang tua, memohon maaf dan ridha ridha mereka. Mari kita kuburkan kejengkelan dan permusuhan, terutama di lingkungan keluarga besar kita dan antar tetangga kita.

Saling memaafkan, dianjurkan pula kepada segenap suami istri, agar kita semua membuka lembaran hidup baru yang harmonis, penuh keamaian dan kebahagiaan.

Kaum muslimin dan para ‘Aidin dan ‘Aidat yang mulia

Hidup adalah pertarungan, persaingan dan perjuangan

Allah SWT telah menciptakan dan mengatur kehidupan manusia di dunia sebagai arena pertarungan, persaingan dan perjuangan. Sehingga tak ada seorang pun di dunia ini yang luput dati sunnatullah ini.

Bukankanh ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa pertarungan itu telah mulai sejak kita di rahim ibu, sebelum kita berbentuk janin lalu keluarlah kita sebagai pemenang.

Demikianlah awal kejadian kita telah ditandai dengan persaingan, pertarungan dan perjuangan.
Setelah itu ketiga kata tersebut tak pernah lagi berpisah dengan kita sampai keidupan fana ini berakhir

Pertarungan, persaingan dan perjuangan senantiasa mewarnai masa kanak-kanak, asia sekolah, ,masa remaj, masa pemuda, setelah berumah tangga, setelah beranak cucu. Bahkan seringkali terasa bahwa perjuangan semakin berat seiring dengan usaha kita yang semakin tua. Demikian ketentuan Allah tak akan berubah.

Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia

Pengertian kesuksesan

Bila hal ini telah kita pahami, maka ada satu hal yang erat kaitannya dengan perjuangan hidup ini, yaitu kesuksesan.

Kesuksesan berarti : Keberhasilan dalam meraih cita-cita. Kemenangan dalam pertaringan , persaingan dan perjuangan hidup.

Kesuksesan adalah obsesi setiap orang. Ia merupakan focus kerja setiap lapisan masyarakat. Kata kesuksesan itu adalah impian seluruh tingkat manusia. Dan sebaliknya, kegahgalan yang berarti kejatuhan, ketidah berhasilan, adalah kata yang paling ditakuti oleh tiap orang.

Nah, sebagi umat Islam, kita wajib memahami konsep Islam, tuntunan Allah, peetunjuk Rasul dalam hal kesuksesan dasn kegagalan.

Siapa yang sukses menurut Allah dan RasulNya? Dan siapa yang gagal menurut Al-Quran dan As-Sunnah? Bagaimana agar kita sukses menurut Islam?

Pemahaman yang benar tentang masalah ini adalah merupakan suatu keharusan dan tuntutan, karena fakta kehidupan masyarakat kita membuktikan bahwa ada pergeseran Aqidah, ada kelemahan Iman dalam hati ini, bahkan sampai pada kalangan kita yang kelihatan taat beragama sekalipun!

Bukankan pergeseran Aqidah, bila kita menilai kesuksesan dan kegagalan hanya dari segi materi? Dan bukankah merupakan penyimpangan Aqidah bila kita memandang orang sukses ialah orang kaya, dan yang miskin itukah yang gagal?

Dan bukankah suatu kelemahan iman kita bila menilai kesuksesan dan kegagalan hanya dari ilmu, setumpuk Ijazah dan sederetan gelar semata?

Bukankah suatu kekeliruan besar bila kita memandang para pejabat, para penguasa itulah orang-orang sukses hanya karena jabatan mereka semata? Padahal kita tahu persis bahwa jabatan itu adalah ujian dan amanah yang sangat sementara?

Dan bukankah satu dosa besar bila kita menghargai dan menghormati orang-orang yang kita anggap sukses atas dasar kekayaan, ilmu dan pangkat semata ? lalu kita merendahkan dan meremehkan orang-orang miskin , orang bodoh, orang lemah, di sekitar kita?

الله أكبر الله أكبر الله أكبر
لا إله إلا الله الله أكبر ولله الحمد

5 Komponen kesuksesan

Kesuksesan menurut Al-Qur’an sangat terkait dengan pelaksanaan misi kehadiran manusia dalam kehidupan ini, yaitu: Ibadah hanya kepada Allah semata. Lalu kemudian terkait dengan jihad, Rahmat Allah, Kebahagiaan yang haqiqi serta Jannah yang abadi.

Itulahg lima komponen kesuksesan menurut hasil tadabbur sederhana terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits-hadits Rasulullah SAW.

Komponen pertama: Ibadah

Ibadah menjadi komponen kesuksesan yang utama karena sangat jelas dan tegas bahwa Ibadah adalah misi kehidupan manusia.

Allah berfirman:

Q.S Adz Dzariyat : 56

Tentu sangat rasiponal bila dikatakan bahwa orang yang sukses, ialah orang yang menunaikan tugas hidupnya dengan sebaik-baiknya.

Orang yang sukses adalah orang yang rajin beribadah, orang yang dekat dengan Allah. Orang yang sukses ialah orang yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan Allah di hari kiamat nanti.

Rasullullah bersabda:

“Tidak bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat , sampai dia ditanya tentang empat perkara:
1. Tentang umurnya di mana dihabiskan.
2. Tentang hartanya dari mana didapatkan dan kemana disalurkan .
3. Tentang ilmunya apa yang dia lakukan dengannya.
4. Tentang tubuhnya/kekuatannya di mana dihabiskan.”

Jadi sangat logis dan sangat rasional jika dikatakan bahwa : Tak ada kesuksesan bagi orang yang tidak beribadah, tidak ada kesuksesan bagi orang yang berbuat Syirik, tidak ada kesuksesan bagi ahli bid’ah. Tidak ada kesuksesan bagi ahli dosa yang selalu menunda tobat!.

Dan tak ada kesuksesan bagi orang yang hanya memikirkan dan memperhatikan dunia, lalu lupa Akhirat!…
Pendek kata, mereka yang disebut diatas itu, adalah orang-orang yang gagal. Lepas dari kaya atau miskinnya mereka,lepas dari pandai atau bodohnya mereka, lepas dari berpangkat atau tidaknya mereka.

Agar kita yakin pada kegagalan orang yang malas beribadah, mari kita merenungkan firman-firman Allah berikut ini:
Q.S Al-Munafiqun : 9.
Q.S Al-Ashr : 2-3.
Q.S Thaha : 123-124.

Kaum Muslimin para ‘Aidiin wal ‘Aidaat yang mulia …

Komponen kesuksesan yang kedua: Jihad

jihad adalah jalan menuju kesuksesan
ivarfied.com

Jihad berarti kesungguhan yang optimal dalam menegakkan nilai-nilai ibadah pada pribadi, keluarga dan masyarakat.

Ia menjadi syarat kesuksesan karena ia adalah sendi utama ibadah, selain bahwa ia adalah merupakan kewajiban tersendiri, ia juga sebagai syarat masuk jannah. Allah SWT. berfirman :

Kesimpulannya, kesuksesan tak dapat dilepaskan dari jihad fisabilillah. Marilah kita menyadari bahwa penyebab utama kemalasan kita beribadah ialah karena kita belum menghadapi ibadah itu dengan semat jihad !

Mari kita menyadari bahwa penyebab utama dari kelesuan amar ma’ruf nahi mungkar, ialah tidak adanya semangat jihad !

Sadarilah  bahwa pelaksanaan nilai-nilai Islam dirumah tangga kita belum meningkat karena tidak adanya semangat jihad.

Mari kita menyadari bahwa krisis ekonomi yang melanda kita secara menyeluruh, masih terus berkepanjangan, karena masih kurangnya semangat jihad kita !

الله أكبر الله أكبر
لا إله إلا الله الله أكبر ولله الحمد

Pengetahuan kita tentang Islam sesungguhnya sudah sangat memadai. Kita semua telah mengetahui wajibnya shalat jamaah.

Semua telah mengetahui wajibnya menuntut ilmu islam, wajibnya berjilbab bagi wanita dewasa, wajibnya da’wah, wajibnya berbakti pada kedua orang tua, berbuat baik pada saudara, menyambung hubungan keluarga. Kita semua telah mengetahui akhlak-akhlak yang mulia.

Namun pengetahuan kita yang banyak itu, masih sdikit yang kita amalkan karena belum membawa unsur jihad dalam ibadah kita.

Padahal sekiranya jihad kita tancapkan dan patrikan kedalam kepribadi kita, niscaya kita merasa berjihad ketika kita meninggalkan pekerjaan menuju masjid, untuk shalat jamaah. Kita akan merasa berjihad ketika kita menghadiri pengajian, para wanita muslimah akan merasa berjihad ketika mereka memakai jilbab.

Kita semua merasa berjihad ketika kita menda’wahi saudara, keluarga dan tetangga kita.
Dengan semangat jihad, kita tinggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk.

Dengan tekad jihad, kita tingkatkan ibadah dan akhlak, dengan jihad kita meraih sukses. Olehnya itu mari kita kobarkan semangat jihad di dada, mari kita tegakkan panji-panji jihad dimasyarakat.

الله أكبر الله أكبر
لا إله إلا الله الله أكبر ولله الحمد

Ibadah ‘Idul Adha yang tengah kita tunaikan pada pagi hari ini dengan shalat, khutbah dan penyembelihan, pembagian daging qurban selama hari Nahar dan hari-hari Tasyriq, semuanya mengajarkan , melatih dan mensosialisasikan nilai-nilai jihad dalam arti yang seluas-luasnya.

Olehnya itu, pada hari-hari jihad ini, marilah kita marilah kita menghayati pengorbanan yang ada padanya, untuk kita kembangkan menjadi sikap kepribadian yang permanen.

Penghayatan pengorbanan dan jihad pada hari-hari qurban ini, berbentuk saling memaafkan, saling silaturrahmi, menggalakkan infak dan pembagian daging qurban secara merata.

Menghindari sikap tamak, serakah dan bakhil. Menghindari perselisihan, pertikaian dan permusuhan, sehingga terciptalah suasana keakraban, kerukunan dan kerjasama positif untuk kebagian dan kebenaran.

Krisis ekonomi yang menimpa kita sekianlama ini, adalah merupakan salah satu akibat ditinggalkannya jihad, karna hanya jihadlah yang akan memuliakan ummat Islam. Ummat Islam ini lemah, ketinggalan, tidak diperhitungkan, semenjak mereka meninggalkan jihad.

Rasulullah SAW. bersabda:

“Jika kamu telah berjual-beli dengan cara yang curang, dan kamu telah lebih memperhatikan peternakan sapi, dan kamu telah bersenang-senang dengan pertanianmu, lalu kamu meninggalkan jihad, niscaya Allah pasti menimpakan kehinaan kepadamu dan DIA tidak akan mencabutnya sampai kamu kembali kepada agamamu”. ( HR.Abu Dawud )

Hadits ini secara jelas menerangkan bahwa meninggalkan jihad berarti meninggalkan agama Islam. Demikian pula pada ayat yang menerangkan pengganti generasi murtad, jihad merupakan salah satu sifat utama mereka.

Allah SWT berfirman :

QS.Al-Maidah : 54

Secara tersirat ayat ini mengisyaratkan bahwa meninggalkan jihad dan sifat takut dari celaan orang adalah sifat orang yang murtad !!!!

Karena sifat generasi pengganti generasi murtad tidak sama dengan generasi yang digantikan
Dan dalam kaitan jihad dengan kemuliaan ummat Islam, Umar bin Khattab pernah menyatakan :

“Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad fisabilillah kecuali Allah menghinakan mereka.
Olehnya itu sekali lagi dikumandangkan mari mengamalkan Islam dengan jiwa jihad jangan takut berkorban, sebab pengobanan itulah yang kelak akan kita syukuri suatu saat nanti, pengorbanan itulah yang akan membuat kita bahagia……”

Mari kita menyadari bahwa orang yang hidup tanpa jihad pun hidupnya penuh dengan pengorbanan. Tapi pengorbanan orang yang berjihad adalah pengorbanan yang mulia, pengorbanan amal shaleh yang tiada henti.

الله أكبر الله أكبر
لا إله إلا الله الله أكبر ولله الحمد

Komponen kesuksesan yang ketiga: Rahmat Allah

Rahmat Allah berarti kasih sayang Allah pada hambaNya yang beriman. Dan Rahmat Allah adalah kata kunci kesuksesan yang haqiqi. Ia sangat berkaitan dengan kata-kata Ridha Allah, Magfirah Alah, Berkah Allah, Taufiq Allah.

Sebagai mu’min dan mu’minat, kita semua tentu meyakini bahwa Allah SWT adalah Al-Mudabbir, pengatur segala sesuatu Maha penguasa atas segala sesuatu.

Keyakinan ini membuat kita mudah memahami keterkaitan kesuksesan dengan Rahmat Allah SWT. Sehingga kita yakin betul bahwa tidak ada kesuksesan yang haqiqi tanpa Rahmat Allah. Hanya dengan Rahmat Alah kita sukses. Orang yang dirahmati allah itulah orang yang sukses…

Olehnya itu, upaya untuk mendapatkan rahmat Allah,itulah yang digalakkan.. Jihad kita dalam mengatur kehidupan kita, diarahkan untuk meraih rahmat Allah . Karena bila kita tidak dirahmati berarti kita gagal, kita celaka.

Hidup tanpa rahmat Allah adalah kegagalan. Hidup tanpa rahmat Allah adalah kehancuran. Hidup tanpa rahmat Allah adalah permusuhan tanpa akhir.

Allah berfirman:

QS Qn-Nuur : 21

QS An-Nisaa : 83

QS Huud : 118-119

Selain itu Allah SWT telah memberikan bimbingan menuju rahmatNya….. apa yang harus ita lakukan agar dirahmati oleh Allah

Allah berfirman :

QS Al-Baqarah : 218

Kaum muslimin para Aidiin & Aidaat yang mulia ……

Komponen Kesuksesan Keempat: Kebahagiaan Hakiki

Komponen Kesuksesan yang keempat yaitu : Kebahagiaan yang hakiki, kebahagiaan yang hakiki ialah perasaan senang yang lestari, sikap jiwa tenang, damai tanpa kecemasan dan kebingungan yang berasal dari rahmat Allah SWT.

Bila kita mencermati kebahagiaan hidup kita, niscaya kita menemukan bahwa kebahagian kita itu paling tidak terbagi tiga :
1- Kebahagiaan Material
2- Kebahagiaan Immaterial
3- Kebahagiaan Hakiki

Kebahagiaan Material ialah kebahagiaan yang bersumber dari bertambahnya ni’mat material seperti dikala mendapatkan rumah baru, mobil baru, baju baru misalnya…….

Allah berfirman :

QS Ali Imran : 14

Kebahagiaan Immaterial ialah : Kebahagiaan yang bersumber dari selain materi, seperti : kebahagiaan dikala nikah, dikala mendapat keturunan, dikala bertemu dengan orang yang dirindukan, dikala selamat dari musibah, misalnya.

Allah SWT berfirman :

QS Ar-Ruum : 21

Kebahagiaan yang hakiki ialah : Kebahagiaan yang bersumber dari keyakinan pada rahmat Allah . Yaitu Allah pasti merahmati dan bahwa seluruh ni’mat dan musibah yang ada ini adalah perwujudan dari rahmat Allah SWT.

Perbedaan yang mendasar antara kebahagiaan yang hakiki dengan kebahagiaan yang semu, ada pada penyebab kebahagiaan. Kebahagiaan yang hakiki iytu disebabkan oleh keyakinan pada rahmat Allah .

Perwujudan rahmat Allah itu bersifat material, immaterial, bahkan juga bersifat musibah dan problem, sebagai ujian, sebagai penghapus dosa dan penambah derajat di sisi Allah SWT.

Sehingga seorang mu’min tidak pernah lepas ingatan dan hubungannya dengan Allah SWT. Segalanya dikembalikan padaNya. Syukur, sabar,tawakkal, istigfar, do’a dan dzikir adalah sikap jiwa dan warna kehidupannya.

Adapun kebahagian semu, ia adalah kebahagiaan yang sementara, kebahagiaan yang sesaat, lalu berubahlah kebahagiaan yang tadinya menggembirakan itu, menjadi kesedihan, kecemasan, kegelisahan, pertikaian yang berkepanjangan.

Disini kita semua patut merenungi nlai kebahagiaan hidup kita selama ini. Karena tidak semua ni’mat yang kita terima dari Allah itu bersumber dari rahmat Allah.

Betapa banyak ni’mat yang membawa kesedihan, pertikaian dan malapetaka. Jika seandainya semua ni’mat Allah itu adalah perwujudan dari rahmat Allah, berarti orang kayalah yang paling banyak mendapat rahmat Allah, orang yang paling tinggi pangkatnyalah yang paling dirahmati Allah, Orang yang paling pintarlah yang paling dirahmati Allah.

Tentu tidak demikian. Karena kita semua tahu bahwa rahmat Allah itu tidak dapat diraih kecuali dengan syarat-syarat tertentu yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Seperti firman Allah SWT :

Qs Al-Baqarah : 218

Qs At-Taubah : 71

Kemudian, rahmat Allah SWT-lah yang membuat seorang mu’min itu bahagia secara permanen. Kebahagiaannya tidak lagi terletak pada materi, pujian dan kesehatan.

Orang yang dirahmati Allah dapat bahagia di tengah problem, dapat bahagia dan tenang di tengah musibah, ia dapat bahagia dalam perjuangan dan pengorbanan. Itulah kebahagiaan para Nabi dan Rasul. Itulah kebahagiaan para wali Allah, para tentara sepanjang zaman.

الله أكبر الله أكبر
لا إله إلا الله الله أكبر ولله الحمد

Komponen kelima: Jannah yang abadi

Komponen kesuksesan yang ke lima ialah: Jannah yang abadi. Syurga Allah yang kekal selama-lamanya adalah kesuksesan mutlaq, keberhasilan puncak yang tiada taranya.

Disanalah tempat peristirahatan orang-orang yang sukses, orang-orang teladan. Di sanalah tempat pensiun para Mujahidin yang sukses.

Adapun orang-orang yang sukses di dunia ini, menurut ukuran materi, menurut pandangan hawa nafsu, sebenarnya itu adlah kesuksesan yang menipu, kebeshasilan yang sangat sementara, bahkan boleh jadi ia adlah awal kebinasaan yang tiada hentinyaa.

Mari kita renungkan ayat yang mulia ini:

(QS.Al-An’am :43-44)

Jadi kalau di masyarakat kita ada gelar-gelar kesuksesan seperti: pengusaha sukses, pejabat sukses, guru sukses, petai sukses, mahasiswa sukses dan seterusnya. Apalagi jika diberi gelar: pengusaha teladan, ibu teladan, guru teladan, dan seterusnya.

Semua itu tentu kesuksesan material yang parsial dang sangat sementara. Bahkan seringkali bersifat penipuan dan kedustaan.

Adapun orang sukses sejati, orang sukses mutlaq adalah ialah para ahli jannah, tempat orang-orang yang dirahmati Allah.

(QS.Ali-Imran:107)

Dalam ayat ini Allah menyebut Jannah dengan ungkapan rahmah. Hal itu berarti bahwa jannah hanya dapat diperoleh dengan rahmat Allah SWT.

Dalam ayat yang lain Allah Ta’ala menetaaapkan kesuksesan yang haqiqi untuk orang-orang yang taat kepadanya.

Allah berfirman:

(QS. Al-Ahzab:71)

Dan jika di dunia ini semua orang cenderung untuk dekat dengan orang-orang yang dinilai sukses, maka Allah menetapkan orang-orang sukses sejati yang akan menjadi sahabat di jannah kelak.

Allah berfirman:

(QS.An-Nisa:69)

Kaum muslimin para Aidin dan Aidat yang mulia.

Penutup

Itulah lima komponen yang patutu menjadi bahan renungan dan pemahaman bersama kita smua agar perjalanan hidup kita semakin terarah, dan agar semangat perjuangan hidup kita di jalan Allah senantiasa bertambah, yang pada gilirannya akan melahirkan pribadi muslim mujahid yang dinamis.

Karena sampai sekarang, kita masih menghadapi krisis pemikiran yang islami, termasuk cara berpikir materialistis dalam menilai kesuksesan.

Kesalahan cara berfikir inilah yang mengakibatkan kemalasan beribadah, kelesuan dakwah, kkebakhilan yang semakin bertambah, perpecahan dan permusuhan di keluarga dan tetangga tanpa adea penyelesaian dan seterusnya.

Jika penyakit pemikiraan ini tidak ditangani secara cepat, kita akan termasuk pendusta ayat Allah. Pendusta agama Allah.

Marilah kita renungkan firman-firman suci berikut ini:

(QS.Al-Maun:1-3)

(QS. Al-Lail:5-10)

(QS.An-Nur: 52)

Demikianlah Allah menerangkan kepada kita , siapa pendusta agama, mana jalan kemudahaan, jalan kesuksesan dan mana jalan kegagalan, dan siapa yang sukses menurut Allah SWT. Penjelasan yang sangat jelas tersebut kiranya kita yakini dan kita jadikan pegangaan dalam mengatur kehidupan kita.

DO’A

Untuk itu marilah kita semua berdo’a daan bermuanajat kepada Allah yang maha pengasi , maha penyayang yang maha penerima taubat dan maha penguasa, agar Allah SWT berkenan mengampuni dosa dan kesalahan kita selama ini, agar Allah memberikan bantuan dan pertolonganNya kepada kita untuk meyakini firman-firman suciNya dan mengamalkannya secara benar dan istiqamah, hingga kita menghadap kepadaNya dalam keadaan diridhai olehNya. Jangan lupa bagikan materi ceramah agama ini, semoga bermanfaat.

Materi Ceramah Agama: Kehancuran Yang Tidak Disadari (Khutbah Idul Adha)

kehancuran yang tak disadari
pksnongsa.com

Allahu Akbar 2X
Laa Ilaaha Illallah
Allahu Akbar Allahu Akbar
Walillahil Hamd.

Kaum Muslimin wal Muslimat Jamaah Idul Adha yang berbahagia

Alhamdulillah, pada pagi yang agung ini, kita dipertemukan oleh Allah swt dalam satu rangkaian ibadah mulia yang kita persembahkan kepada Allah Azza wajalla.

Pertemuan mulia ini mengandung banyak makna kepribadian dan keummatan, seperti; Persatuan untuk kebangkitan. Kebersamaan untuk berkurban. Menampakkan syiar Islam. Renungan bersama untuk peningkatan perjuangan.

Kita berdo’a semoga kita semua dikaruniai kemampuan untuk mengefektifkan ibadah Idul Adha ini agar ibadah yang mulia membawa berkah dan peningkatan kualitas keislaman kita. Amin.

Kehancuran Hakiki di sana sini

Renungan dan seruan Idul Adha kita kali ini, kita awali dengan renungan singkat pada fenomena kehancuran dalam realitas umat Islam dewasa ini.

Patut kita sadari bahwa ada banyak data dan fakta kehancuran hakiki bangsa Indonesia yang mayoritas muslim ini, Mari kita simak data dan fakta berikut ini:

  • Hasil survei Departemen Kesehatan tahun 2011, ada 62,1% siswa di Indonesia mengaku pernah melakukan hubungan seks dan 21,2% pernah melakukan aborsi. Setiap tahun jumlah aborsi di Indonesia mencapai 2,4 juta jiwa. Parahnya, 800 ribu di antaranya terjadi di kalangan remaja.
  • Menurut Pusat Kajian Perlindungan Anak (PKPA) jumlah pelacuran anak di Indonesia mencapai 30% dari total 150.000 pekerja seks komersial (PSK) yang terdeteksi. Artinya, ada sekitar 45.000 pelacur anak dan remaja di seluruh Indonesia.
  • Empat juta situs porno secara leluasa diakses setiap hari dari Indonesia. Sekitar 97,2 % siswa SMU diperkirakan pernah mengakses situs porno.
  • Berdasarkan data Kementerian Agama, lima tahun terakhir angka perceraian di Indonesia meningkat tajam. Jika lima tahun lalu angka perceraian masih berada di bawah 100 ribu kasus per tahun, kini mencapai lebih dari 200 ribu kasus per tahun. Dari sekitar dua juta pasangan yang menikah setiap tahun, ada sekitar 200 ribu pasangan juga bercerai setiap tahun. Itu berarti, terdapat dari setiap 10 pernikahan, satu di antaranya berakhir dengan perceraian.
  • Depdiknas mencatat jumlah pengangguran terdidik 961 ribu orang. Sekitar 598 ribu diantaranya berstatus sarjana.
  • Badan Narkotika Nasional memperkirakan prevalensi (angka kejadian) penyalahgunaan narkoba di Indonesia akan mencapai 2,8 persen atau setara dengan 5,1 juta orang di tahun 2015.
  • Hasil Audit KPK menunjukkan sekitar 60 % politisi negeri ini adalah koruptor sehingga menempati rangking 1 sebagai Negara yang terkorup se Asia Pasifik.
  • Menurut Kementrian Kehutanan Indonesia, Jumlah Kerusakan hutan di Indonesia telah mencapai 30 juta hektar akibat pembalakan liar.
  • Utang pemerintah hingga Juni 2011 mencapai 1.723, 9 triliun.
  • Indonesia menduduki peringkat ketiga di dunia dalam hal jumlah perokok. Sekitar 60 juta penduduk Indonesia merokok. Kematian akibat penyakit yang berhubungan dengan rokok tiap tahun mencapai 429.948 orang atau 1.172 orang per hari (Profil Tembakau Indonesia,2007). Bahkan, kerugian akibat rokok melebihi pendapatan cukai. Tahun 2005 cukai sebesar Rp 32,6 trilyun dari rokok tetapi biaya pengobatan penyakit akibat rokok mencapai Rp.167 trilyun atau 5 kali lipat cukai rokok. Konsumsi rokok tahun 2008 mencapai 240 miliar batang per hari atau 658 juta batang per hari (tempo interaktif,2009). Ini berarti 330 Miliar “dibakar” oleh perokok Indonesia dalam sehari!

Mengapa semua ini disebut kehancuran?

mengapa kita hancur
dream.co.id

Karena kehancuran hakiki adalah kehancuran aqidah, kehancuran akhlaq, kehancuran kepribadian. Renungan terhadap ayat-ayat dan hadits-hadits kehancuran pada umumnya menjelaskan bahwa kehancuran fisik materil disebabkan oleh kehancuran aqidah dan akhlaq.

Sebagai contoh, mari kita renungkan pernyataan Allah Tabaraka wa Ta’ala berikut ini:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah akan Kami limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (Qs. Al A’raf ayat 96).

Ayat mulia ini menjelaskan bahwa kehancuran fisik materil penduduk negeri itu disebabkan oleh kehancuran aqidah dan akhlaq mereka dalam bentuk pengingkaran terhadap ayat-ayat Allah swt.

Selanjutnya mari kita renungkan pernyataan Rasulullah tercinta saw yang diawali dengan kronologi yang disampaikan oleh Aisyah R.A:

Dari Aisyah RA, beliau meriwayatkan :

“Sesungguhnya Quraisy pernah resah dan cemas atas perkara yang menimpa seorang wanita Al Makhzumiyah yang telah mencuri (dan akan dipotong tangannya). Mereka bertanya-tanya: “ Siapa yang bisa meminta amnesti untuknya dari Rasulullah saw?” Mereka memberi saran: “ Tak ada yang berani berbicara tentang itu dengan rasulullah saw selain anak kesayangan beliau, yaitu Usamah bin Zaid RA. Lalu Usamah mencoba membicarakan hal itu dengan Rasulullah saw, lalu Rasulullah saw marah dan menghardik:” Apakah kamu meminta meringankan hukuman pada satu hukum dari hukum-hukum Allah?”. Lalu Rasulullah saw berdiri dan berpidato: “ Sesungguhnya orang-orang sebelum kamu itu dihancurkan oleh Allah karena jika orang terhormat mereka melakukan pencurian, mereka biarkan. Tapi, jika orang lemah mereka yang mencuri, mereka laksanakan padanya hukum Allah. Demi Allah, jika sekiranya Fathimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya”. Hadits Muttafaq ‘alaih.

Hadis yang mulia ini secara sangat jelas mengamanahkan keadilan hukum dan menjelaskan bahwa ketidakadilan hukum adalah sumber kehancuran. Bahkan itulah kehancuran hakiki.

Allahu Akbar Allahu Akbar
Laa Ilaaha Illallah
Allahu Akbar Allahu Akbar
Walillahil Hamd.

Mari kita lanjutkan tadabbur ayat kehancuran yang lain:

(QS. Al Isra’: 16 -17).

  1. Kedua ayat yang mulia ini menjelaskan kepada kita beberapa pelajaran, antara lain:
    1. Kelompok Mutrafin (kelompok yang suka bermewah-mewahan) wajib di da’wahi, wajib dinasehati, agar taat kepada Allah.
    2. Kelompok Mutrafin secara umum punya kecenderungan untuk menolak ajaran Allah, menolak nasehat dan punya kecenderungan untuk senang berbuat dosa, sehingga mereka menjadi kelompok yang fasik.
    3. Kehancuran fisik materil satu masyarakat adalah akibat dari kehancuran akhlaq, terutama dari kelompok Mutrafin mereka.
    4. Adzab Allah yang antara lain berbentuk kehancuran fisik materil, diturunkan oleh Allah swt sebagai akibat dosa manusia.

Pemahaman inilah yang kita gunakan untuk mengamati dan menganalisa kondisi bangsa kita tercinta ini, dengan sekian banyak data dan fakta kehancuran aqidah dan kehancuran akhlaq, yang berarti bahwa sesungguhnya bangsa ini sedang mendesak Allah untuk menurunkan adzabNya. Naudzubillah.

Astagfirlullah al ‘Azhim Alladzi Laa Ilaaha Illahuwal Hayyul Qayyum wa Atuubu Ilaih 3x.

Kaum Muslimin wal Muslimat, Al Muta’ayyidin wal Muta’ayyidat yang semoga dirahmati Allah.

Bangkit dari kehancuran Memperbaiki Kerusakan

Kehancuran aqidah dan akhlaq yang sedemikian dahsyatnya, tak boleh membuat kita pesimis, apalagi berputus asa. Fakta kehancuran dimana-mana, justru adalah peluang da’wah dan ishlah, membangun peradaban Islam dan amal jariyah raksasa.

Mari kita bayangkan bagaimana kondisi bangsa arab sebelum diutusnya Nabi Muhammad saw. Disana terjadi kerusakan aqidah dan akhlaq yang luar biasa. Lalu Nabi Muhammad saw tampil melakukan perbaikan seorang diri pada mulanya.

Dan mari kita sadari bahwa beberapa bentuk kehancuran aqidah dan akhlaq zaman jahiliyah itu terulang lagi pada zaman kita saat ini.

Berbahagialah kita yang dikaruniai iman, hidayah, ilmu yang semestinya memotivasi kita secara kuat dan berkesinambungan untuk melakukan perbaikan dan kebangkitan. Memperbaiki kerusakan dan bangkit dari keterpurukan.

Janganlah kita mencontoh kaum munafik yang dijelaskan oleh Allah dalam Al Qur’an:

(Dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. mereka menjawab: “Sesungguhnya Kami orang-orang yang Mengadakan perbaikan.”Ingatlah, Sesungguhnya mereka Itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar). (QS. Al Baqarah 11 – 12).

Kaum munafik merasa membangun, padahal mereka merusak. Lihatlah para koruptor. Mereka merasa membangun, padahal mereka kaum perusak.

Dan Lihatlah para kontraktor pendusta mereka merasa membangun padahal pada hakikatnya mereka merusak. Para pedagang yang menipu, bisnismen yang curang, mereka melakukan mark up dan kwitansi kosong. Mereka adalah perusak.

Lihatlah para pejabat, aparat hukum, aparat keamanan yang memakan suap dan melakukan PUNGLI. Mereka kaum perusak sejati.

Para ustadz dan para ulama yang mengajarkan taklid buta dan kultus individu. Lihatlah mereka yang menyunat bantuan-bantuan sosial, kemanusiaan, keagamaan.

Lihatlah mereka yang pekerjaannya adalah menyebar dosa dan maksiat di tengah masyarakat. Mereka semua adalah perusak dan penghancur umat. Mereka inilah obyek da’wah kita. Mereka harus diajak bertaubat kepada Allah swt, lalu ikut pada gerakan penyelamatan umat.

Allahu Akbar Allahu Akbar
Laa Ilaaha Illallah
Allahu Akbar Allahu Akbar
Walillahil Hamd.

Marilah kita jadikan pernyataan nabi Syu’aib A.S yang diabadikan dalam Al qur’an, sebagai semboyan kita semua:

“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali” (QS. Hud: 88).

Langkah-langkah Perbaikan:

langkah perbaikan
blog.stekom.ac.id

Jika kita sungguh-sungguh ingin berubah dan merubah. Jika kita benar-benar ingin bangkit dan memperbaiki kerusakan yang terjadi, maka marilah kita mengamalkan langkah-langkah berikut ini:

1. Menambah ilmu setiap hari

Ilmu akan senantiasa menjadi syarat kebangkitan dan kemajuan. Orang yang berilmu adalah orang yang senantiasa haus pada ilmu. Kita dituntut untuk membangun kebiasaan membaca buku setiap hari. Kita mesti meramaikan majelis-majelis ilmu, kajian-kajian ilmiyah. Kita dituntut menguasai keterampilan-keterampilan hidup yang sangat dibutuhkan untuk kemajuan kita.

2. Peningkatan Iman

Peningkatan iman adalah langkah kedua setelah penambahan ilmu dan keterampilan. Oleh karena tak ada iman tanpa ilmu. Peningkatan iman, senantiasa memerlukan penambahan ilmu dan keterampilan. Itulah sebabnya, penambahan ilmu dan keterampilan harus diarahkan kepada peningkatan iman secara berkesinambungan. Karena ilmu tanpa iman, itulah sumber kehancuran hakiki.

3. Peningkatan Ibadah

Peningkatan ibadah adalah syarat mutlak kebangkitan dan perbaikan. Inilah barometer peningkatan iman. Ibadah seseorang senantiasa sejajar dengan imannya. Kita sungguh-sungguh merindukan keramaian masjid pada shalat subuh yang sama ramainya dengan shalat jum’at. Kita sungguh-sungguh mengharapkan kaum muslimah senantiasa rajin ke masjid.

4. Peningkatan Akhlaq

Peningkatan akhlaq adalah tindak lanjut logis dari peningkatan ibadah. Karena ibadah yang efektif, pasti menghasilkan akhlaq mulia. Kerendahan akhlaq dalam semua bentuknya dan pada semua level adalah bukti nyata rendahnya efektifitas ibadah kita secara umum. Karena itu, ibadah kita mesti diarahkan kepada perbaikan akhlaq seperti; membiasakan sifat jujur, tawadhu, lemah lembut, pemaaf, dermawan, menjauhi dosa, cinta amal dan seterusnya.

5. Peningkatan da’wah

Gerakan da’wah adalah semangat yang tak pernah padam untuk menyebarkan kebaikan, mengajak sesama manusia kepada kebenaran. Inilah inti gerakan da’wah ishlah di masyarakat. Inilah gerakan kebangkitan dan pembangunan. Inilah gerakan penyelamatan dan reformasi sejati.

Inilah 5 langkah perbaikan yang sinergis dan saling berkaitan. Mari kita renungkan:

  1. Ilmu itu tidak selamanya meningkatkan iman. Ilmu yang meningkatkan iman ialah ilmu yang dipelajari dengan niat ikhlas dan dibarengi dengan tafakkur dan tadabbur.
  2. Peningkatan iman selamanya menghasilkan peningkatan ibadah. Karena pembuktian iman itu dilihat dari ibadah. Dan tak ada peningkatan ibadah tanpa peningkatan iman.
  3. Peningkatan ibadah , tidak selamanya memperbaiki akhlaq. Banyak orang yang baik ibadahnya tapi jelek akhlaqnya. Itu karena perbaikan akhlaq adalah hasil penghayatan nilai-nilai pendidikan akhlaq yang dibawa oleh setiap ibadah. Dan kalau ada orang yang bagus akhlaqnya tapi jelek ibadahnya, itu tanda bahwa akhlaqnya bukan karena iman kepada Allah swt.
  4. Peningkatan Da’wah. Peningkatan da’wah adalah konsekuensi peningkatan ibadah dan akhlaq. Peningkatan ibadah dan akhlaq pasti menghasilkan cinta kepada ibadah dan cinta kepada akhlaq mulia. Tidak akan sempurna cinta kita kepada ibadah dan akhlaq mulia kalau kita tidak mengajak orang lain untuk beribadah dan berakhlaq. Inilah da’wah.

Allahu Akbar Allahu Akbar
Laa Ilaaha Illallah
Allahu Akbar Allahu Akbar
Walillahil Hamd.

Kesimpulan

Diakhir taushiyah Idul Adha yang mulia ini, ada baiknya kita menyimpulkan renungan dan sentuhan imani ini sebagai berikut:

  1. Sesungguhnya telah terjadi kehancuran aqidah dan akhlaq pada tubuh umat islam di negeri kita tercinta ini. Itu terbukti pada merajalelanya syirik dan maksiat dalam semua bentuknya dan pada semua kalangan, di semua level secara umum.
  2. Fenomena kehancuran ini penting untuk kita sadari, jangan diingkari. Dan jangan ditutup tutupi. Serta jangan pula dipandang remeh/sepele. Ini adalah masalah serius. Ini adalah api yang menyala-nyala. Ini adalah perjalanan menuju kehancuran fisik materil karena murka dan adzab Allah. Na’udzubillah.
  3. Kita wajib melakukan gerakan kebangkitan dan penyelamatan umat, melalui 5 langkah ishlah. Kita wajib melakukannya secara bersama-sama.

Seruan Imani

Wahai umat islam, marilah kita bertaubat kepada Allah. Marilah kita mengamalkan perintah Allah dan menjauhi larangannya.

Wahai para pemimpin, pimpinlah umat ini dengan al Qur’an dan As Sunnah. Pimpinlah umat ini dengan adil. Berikanlah teladan yang baik kepada mereka.

Wahai para pendidik, didiklah umat ini dengan panduan iman. Didiklah umat ini untuk berakhlaq mulia. Didiklah umat ini dengan keteladanan yang baik.
Wahai kaum wanita, jadilah wanita shalehah. Jadilah wanita yang dicintai oleh Allah swt. Tutuplah auratmu.

Wahai para remaja dan pemuda. Jadilah pejuang Islam yang bijak. Jadilah pemimpin-pemimpin muda yang shaleh dan shalehah. Percepatlah menikah dan perbanyaklah keturunan yang shaleh dan shaleha..

Wahai para orang tua. Para Ibu dan para Bapak. Jadilah pejuang Islam yang teladan. Jadilah pendidik generasi yang baik. Tuntunlah generasi ini ke jalan kebenaran.

Percepatlah pernikahan putera-puteri kita. Mudahkanlah mereka menikah. Bantulah mereka untuk menemukan jodoh mereka. Kurangilah uang mahar dan tarif panai’. Jangan persulit mereka menikah secara islami.

Wahai umat islam. Marilah kita mengakui kekurangan dan kesalahan kita, lalu kita perbaiki dan kita bangkit memperbaiki orang lain di sekitar kita.

Allahu Akbar Allahu Akbar
Laa Ilaaha Illallah
Allahu Akbar Allahu Akbar
Walillahil Hamd.

Penutup

Demikianlah nasehat Idhul Adha kita kali ini, disampaikan sebagai nasehat kepada yang menyampaikannya terlebih dahulu, kemudian untuk umat islam tercinta, disampaikan sebagi wujud cinta dan rasa tanggungjawab kepada Allah swt.

Nasehat ini disampaikan sebagai upaya untuk meraih hikmah dan berkah ibadah Idul Qurban, sebagai momentum kebangkitan dan perbaikan yang menyeluruh, disampaikan dengan harapan dan do’a, semoga diberkahi oleh Allah swt, kita pahami, kita sepakati, dan kita amalkan.

Kebenaran yang ada padanya itu dari Allah swt. Dan jika di dalamnya ada kesalahan dan kekhilafan, kami mohon dinasehati. Dan kami beristigfar kepada Allah serta memohon maaf kepada sesama manusia. Bagikan Ceramah agama ini, semoga bisa menjadi nasehat bermanfaat bagi sesama kaum muslimin. Amin.

Astagfirlullah Al ‘Azhim Alladzi Laa Ilaaha Illahuwal Hayyul Qayyum wa Atuubu Ilaih

Materi Ceramah Agama Menarik: Bimbinglah HambaMu ini Untuk Takut KepadaMu ya Allah

hati takut kepada Allah
wanitasalihah.com

¬الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، وبعد

Kalimat tauhid: لا إله إلا الله adalah panduan hidup kita semua. Kalimat mulia inilah yang mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya kita berpikir dan bagaimana seharusnya kita mengatur kehidupan kita ini.

Kalimat suci ini menanamkan keyakinan dalam hati kita bahwa: Tak ada yang kita cintai lebih dari Allah. Tak ada yang kita takuti lebih dari Allah. Tak ada yang kita harapkan lebih dari Allah. Tak ada yang kita taati lebih dari Allah. Tak ada yang kita sembah selain Allah satu-satuNya. Tidak ada duaNya.

Point kedua yang ditanamkan oleh kalimat Tauhid ialah: Tak ada ditakuti lebih dari Allah Azza Wajalla.

Rasa takut kepada Allah Azza Wajalla ialah rasa takut pada murka Allah dan adzab Allah Azza Wajalla. Rasa takut yang menyertai penyembahan kita kepada Allah Azza Wajalla. Rasa takut yang mendorong kita untuk menjauhi dosa dan menghindari larangan Allah Azza Wajalla.

Rasa takut yang menggerakkan hati kita untuk menyesali dosa dan kelalaian dan menggerakkan lidah kita untuk mengulang-ulangi istighfar. Rasa takut yang menyelimuti kita ketika kita mengkhusyukkan diri di hadapan Allah Azza Wajalla.

Rasa takut dalam membayagkan api neraka dan adzab Allah yang amat pedih. Wal’ iyadzu billah. Rasa takut dalam menghayalkan adzab kubur. Wana’udzu billah min dzalik.

Rasa takut seperti ini penting dan wajib, bahkan prioritas untuk kita hadirkan dalam hati kita. Karena tak ada iman tanpa rasa takut kepada Allah Azza Wajalla. Semakin sering kita merasa takut kepada Allah, itulah indikasi meningkatnya iman kita. Dan bila sebaliknya, semakin jarang kita merasakan takut kepada Allah, itulah bukti nyata kelemahan iman kita.

Allah swt berfirman:

فَلاَ تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِي إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“….Karena itu janganlah kamu takut kepada mereka,
tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang beriman.”
(QS: Ali Imran: 175)

Ayat mulia ini secara tegas melarang kita takut kepada selain Allah , dalam pengertian takut penghambaan, takut penyembahan. Adapun takut yang bersifat manusiawi seperti takut dikejar anjing/ dipatok ular/ ditabrak mobil, tentu semua ini dibenarkan, tidak termasuk dalam larangan yang terdapat pada ayat ini.

Dalam ayat lain, Allah swt berfirman:

فَلاَ تَخْشَوْا النَّاسَ وَاخْشَوْنِي

“….Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia,
tetapi takutlah kepadaKu… .” (QS. Al-Maidah : 44)

Ayat mulia ini melarang kita takut pada sesama manusia, yaitu takut yang menghalangi kita untuk taat kepada Allah Azza Wajalla Seperti takut dimaki, takut dibenci, takut diboikot, takut dipukul, takut diperangi oleh sesama manusia. Lalu karena takut itulah sehingga kita berbuat dosa atau meninggalkan kewajiban.

Seperti seorang wanita dewasa tidak mau mamakai jilbab karena takut dimaki/ takut dibenci oleh keluarganya/ lingkungannya. Rasa takut seperti ini dilarang oleh Allah Azza Wajalla. Karena sewajibnya kita lebih takut kepada Allah dari pada sesama manusia.

Contoh lain: Seorang karyawan/ pegawai melakukan penipuan/ dusta/ korupsi/ meninggalkan shalat, karena takut dipecat dari jabatannya/ pekerjaannya. Ini juga rasa takut yang dilarang oleh ayat ini. Karena seorang mukmin diwajibkan untuk takut pada murka dan adzab Allah Azza Wajalla melebihi rasa takutnya kepada yang lain.

Meskipun demikian, diantara sekian banyak contoh rasa takut kepada sesama manusia yang dilarang oleh Allah Azza Wajalla, ada yang dikecualikan, yaitu jika nyawa kita terancam. Dibolehkan kita memilih rukhshah (keringanan) bila kita dipaksa untuk berbuat dosa dengan ancaman kematian, Dengan syarat bahwa hati kita tetap membenci dosa tersebut. Allah Azza Wajalla berfirman:

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإِيمَانِ
وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنْ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, kemurkaan Allah menimpanya dan baginya adzab yang besar.” (QS: An-Nahl: 106)

Adapun dosa yang dilakukan karena rasa takut pada satu bahaya selain kematian, itulah kelemahan iman yang sepatutnya kita sadari dan kita benahi, agar iman kita terjaga, kembali menguat dan senantiasa meningkat.

Dengan meningkatkan rasa takut kepada Allah Azza Wajalla, kita membangun keberanian sejati menghadapi selain Allah Azza Wajalla. Sebaliknya, bila rasa takut kita kepada Allah rendah, niscaya kita akan takut terhadap segala sesuatu. Maksudnya, kita semakin takut berkorban untuk Allah Azza Wajalla.
Mari kita renungkan firman Allah Azza Wajalla :

فَأَمَّا مَنْ طَغَى. وَءَاثَرَ الْحَيَوةَ الدُّنْيَا. فَإِنَّ الْجَهِيْمَ هِىَ الْمَأْوَى.
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسُ عَنِ الْهَوَى. فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِىَ الْمَأْوَى.

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS: An-Nazi’at: 37-41)

Dari ayat-ayat yang mulia ini kita dapat menangkap korelasi yang indah antara rasa takut kepada Allah Azza Wajalla dengan kepatuhan kepadaNya. Yaitu bahwa orang yang melampaui batas-batas ajaran Allah, banyak berbuat dosa, lebih mementingkan kenikmatan dunia, adalah orang yang tidak memiliki rasa takut kepada Allah Azza Wajalla. Karena itulah sehingga ia diancam masuk neraka. Na’udzubillah.

Sebaliknya orang yang takut kepada Allah Azza Wajalla, pasti kuat menahan nafsunya yang negatif, mampu mengendalikan dirinya, sanggup disiplin dengan batas-batas ajaran Allah swt, untuk mengejar kenikmatan di akhirat. Karena itu maka ia dijamin masuk syurga. Allahumma Amin.

Demikianlah peranan dan urgensi khauf kepada Allah Azza Wajalla, ia tidak hanya ibarat rem pada kendaraan, tetapi ia juga sebagai motivator yang efektif untuk berlari menuju Allah Azza Wajalla.

Karena rasa takut kepada Allah Azza Wajalla tidaklah membuat kita menjauh dari Allah, tapi justru berlari mendekat kepadaNya. Berlari mengejar ampunanNya, ridhaNya, berkahNya, RahmatNya. Allahumma Amin.

Ada beberapa kiat yang dianjurkan untuk membangun rasa takut kepada Allah , antara lain:

1. Merenungkan ayat-ayat Allah  dalam Al-Qur’an, terutama yang menjelaskan tentang adzab neraka. Seperti pada surah Al-Kahfi : 29, surah An-Nisa : 56, Surah Al-Waqi’ah : 41-57, Surah Al-Haaqqah : 25-37.

2. Membayangkan adzab neraka setiap kali kita akan berbuat dosa/ telah berbuat dosa.

3. Mengulang-ulangi lafazh-lafazh istighfar:

Astaghfirullah (Aku memohon ampunan Allah) atau Astaghfirullahal Azhim (Aku memohon ampunan Allah yang Maha Agung) atau Astaghfirullah Alladzi La Ilaha Illah Huwal Hayyul Qayyum wa Atubu Ilaih (Aku memohon ampunan Allah yang tiada Tuhan selain Dia yang Maha Hidup dan Maha Mengurus mahlukNya, dan aku bertaubat kepadaNya) atau Rabbighfirli Wa Tub Alayya (wahai Tuhanku, ampunilah aku dan terimalah taubatku).

Kita dianjurkan untuk mengulang-ulangi lafazh-lafazh istighfar tadi sebanyak mungkin, paling tidak 100 X sehari lalu kita tambah jumlahnya sedikit demi sedikit. Wirid ini dilakukan sambil mengingat dosa-dosa kita yang sangat banyak.

Kiat-kiat seperti ini sangat kita perlukan untuk meningkatkan rasa takut kepada Allah , terutama bila kita menyadari bahwa fluktuasi iman kita terjadi setiap saat. Peningkatan rasa takut kepada Allah, insya Allah efektif melejitkan peningkatan iman.

Kita perlu mentargetkan tetesan air mata karena takut kepada Allah . Kita sangat memerlukan tetesan air mata khusyu’ dalam shalat, khusyu’ dalam do’a, khusyu’ dalam tilawah Al-Qur’an. Kita sangat memerlukan tangis penyesalan terhadap dosa-dosa yang pernah kita perbuat. Inilah tangis yang membahagiakan.

Inilah tetesan air mata yang membasuh hati dari noda-noda dosa dan kelalaian. Inilah air mata yang akan menyelamatkan kita dari adzab neraka. Insya Allah. Inilah tetesan air mata yang akan memasukkan kita ke bawah naungan Allah  di padang mahsyar nanti. Amin.

Marilah kita memulai kembali langkah-langkah penuh berkah untuk menguatkan kiat-kiat meningkatkan rasa takut kepada Allah . Marilah kita mengajak keluarga, putera-puteri kita dan masyarakat kita untuk takut kepada Allah . Bagikan Ceramah agama ini, Lalu fastaqim (Beristiqamahlah)!

FASTAQIM EDISI-48

Materi Ceramah Agama Singkat Tentang Mengalahkan Hawa Nafsu

ceramah agama mengalahkan hawa nafsu
hipwee.com

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، وبعد

Telah menjadi sunnatullah bahwa manusia diberi potensi yang bernama hawa nafsu. Potensi ini ibarat pisau bermata dua : Bisa digunakan untuk kebaikan, bisa pula digunakan untuk kejelekan.

Hawa nafsu adalah dua kata yang bermakna sama dalam pengertian bahasa Indonesia. Keduanya berarti keinginan, kecenderungan, gairah, semangat, dorongan batin. (Lihat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi ketiga, hal 393, 770)

Dalam struktur bahasa Arab, susunan kalimat ini berbunyi : hawa fin Nafsi. Artinya : keinginan, dorongan yang kuat, cinta dalam jiwa. (Bisa dilihat dalam Al-Mu’jam Al-Wasith, hal. 1001).

Kata hawa nafsu, walaupun pada dasarnya merupakan potensi yang dapat diarahkan kepada kebaikan, dapat pula diarahkan kepada kejelekan, tapi penggunaanya lebih banyak pada kejelekan, karena akar kata dari “hawa” dalam bahasa Arab berarti : jatuh dari ketinggian. Karena itu maka, kata ini berkonotasi negatif.

Karena itulah maka hawa nafsu harus ditekan, harus dikendalikan, dikuasai, dikalahkan, ditahan. Mengapa? Karena hawa nafsu itu sudah identik dengan dorongan untuk berbuat negatif, yang dilarang oleh Allah swt. Allah swt berfirman :

وَأَمَّا َمنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّه وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ اْلَهَوَى فَإِنَّ اْلجَنَّةَ هِيَ اْلَمأْوَى

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).” (QS : An-Nazi’at: 40-41)

Kita semua mempunyai hawa nafsu. Karena itu, maka kita semua mempunyai keinginan, kecenderungan, dorongan batin, bisikan jiwa untuk berbuat yang tidak baik, berbuat dosa, melakukan pelanggaran dan penyimpangan, dalam arti yang seluas-luasnya. Allah swt berfirman :

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا. فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan
kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (QS : Asy-Syams : 7-8)

Hawa nafsu mendorong kita untuk malas shalat berjamaah di masjid. Hawa nafsu mendorong kita untuk malas shalat sunnah. Hawa nafsu mendorong kita untuk malas membaca al-Qur’an, malas membaca buku-buku bacaan Islam.

Malas ke pengajian. Hawa nafsu mendorong kita untuk mendekati zina. Hawa nafsu mendorong kita untuk mendekati narkoba. Hawa nafsu mendorong kita untuk korupsi, mencuri, berlaku zalim. Na’udzubillah. Allah swt berfirman :

إِنَّ النَّفْسَ لأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ

“Karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan” (QS : Yusuf : 53)

Iman kita berfungsi untuk menahan hawa nafsu, mengendalikan hawa nafsu, mengalahkan hawa nafsu. Iman yang dapat melakukan fungsi-fungsi itu, hanyalah iman yang kuat. Iman yang lemah, selalu dikalahkan oleh hawa nafsu.

Demikianlah pertarungan dan peperangan batin itu senantiasa terjadi dalam diri kita hampir setiap saat. Pertarungan antara hawa nafsu dengan iman. Siapa pemenangnya itulah yang mendominasi tutur kata dan perilaku kita.

Bila ada satu amal kita kerjakan tanpa didahului dengan pertarungan batin, berarti iman kita sudah cukup kuat untuk melakukan amal itu dengan mudah, sehingga tidak ada lagi perlawanan dari hawa nafsu.

Demikian pula sebaliknya bila ada satu dosa, kita kerjakan tanpa didahului dengan pertarungan batin, apalagi dosa yang telah menjadi kebiasaan dan kesenangan kita (Na’udzubillah), itu indikasi bahwa iman kita sangat lemah sekali sehingga tidak berdaya sama sekali, untuk menahan hawa nafsu. Yang umum ialah bahwa ibadah dan dosa kebanyakannya diawali dengan pertarungan sengit antara iman dan hawa nafsu.

Alangkah bahagianya orang yang melaksanakan ibadah dan amal shaleh dengan demikan mudahnya, demikian ringannya, karena telah menjadi kebiasaan bahkan kebutuhannya. Itulah tanda kemenangan iman terhadap hawa nafsu.

Itu adalah hasil perjuangan dan latihan yang lama, mungkin bertahun-tahun, sampai terbentuklah kepribadian yang cinta ibadah, butuh ibadah, haus ibadah, cinta kebaikan, butuh kebaikan, haus kebaikan.

Sebaliknya, alangkah ruginya orang yang melakukan dosa dan pelanggaran tanpa ada perlawanan dari imannya sedikitpun, karena ia sangat menikmati dosa, dia sangat kecanduan dosa, dia sangat haus pada dosa, kebahagiaannya ada pada dosa.

Imannya terlau lemah sehingga tidak bisa melawan hawa nafsunya. Imannya terlalu lemah sehingga ia tidak bersedia memaksa diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Ia tidak bersedia berkorban untuk kebaikan dirinya sendiri.

Orang yang seperti ini biasanya tidak bahagia di masjid, tapi bahagia di tempat dosa. Tidak bahagia ketika membaca Al-Qur’an, tapi bahagia ketika membaca tulisan-tulisan dosa. Tidak bahagia di pengajian, tapi bahagia di perkumpulan orang lalai dan berdosa.

Tidak bahagia berkumpul dengan orang shaleh, tapi sangat berbahagia ketika berkumpul dengan orang-orang yang senang berbuat dosa. Orang yang seperti ini, kurang senang pada nasehat, kurang senang pada pembicaraan tentang ibadah, amal, akhlak, kematian, akhirat.

Tapi sangat senang sekali pada pembicaraan tentang dosa hura-hura, foya-foya, persaingan materi, persaingan pangkat, jabatan, persaingan pada kekayaan, perabot, kendaraan, pakaian, emas, dan seterusnya. Demikianlah hawa nafsu mengalahkan iman yang lemah, membungkam iman yang lemah. Ketika itu hawa nafsu telah menjadi Tuhan dalam kepribadian. Na’udzubillah.

Allah swt berfirman :

أَفَرَأَيْتَ مَنْ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ أَفَلا تَذَكَّرُونَ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”
(QS : Al-Jatsiyah : 23).

Dari ayat mulia ini dapat difahami bahwa ada orang berilmu yang sesat. Ada orang berilmu yang menuhankan hawa nafsunya. ada orang berilmu yang tertutup pendengarannya, hatinya dan matanya. Jadi ilmu semata tidak cukup membuat seseorang itu terarah dan terpimpin. Ilmu semata tidak cukup membuat kita shaleh.

Ilmu yang baik ialah ilmu yang menghasilkan iman, meningkatkan, menguatkan iman. Iman yang kuat ialah iman yang mengalahkan hawa nafsu. Sehingga ibadah menjadi mudah, amal shaleh menjadi kebutuhan, akhlak mulia jadi kebahagiaan.

Iman yang kuat membuat kita sedih setelah berbuat dosa, menyesal setelah kita bersikap lalai, khilaf, lupa. Merasa susah, risau, cemas terhadap kekurangan dan kelemahan imannya.

Sehingga ia senantiasa termotivasi untuk menebus semua dosa, kelalaian, kelemahannya, dengan memperbanyak ibadah, sedekah, da’wah, dzikir, do’a dan semua bentuk kebaikan.

Sebelum iman kita mencapai tingkat kekuatan yang memadai, kita dituntut untuk rajin berlatih, berlatih siang dan malam untuk mengalahkan hawa nafsu. Caranya ialah kita harus rajin memaksa diri untuk beribadah untuk menjauhi dosa, untuk berbuat baik. Paksa diri sangat diperlukan untuk memperkuat iman.

Perhatikanlah bagaimana olahragawan atau atlet berlatih. Perhatikanlah bagaimana tentara dan polisi berlatih. Bukankan mereka memaksa diri dalam berlatih? Bukankah mereka melawan hawa nafsu agar tidak malas berlatih?

Demikian pula dengan latihan-latihan penguatan iman. Harus ada pemaksaan diri. Harus ada pengorbanan. Perhatikanlah bagaimana siswa dan mahasiswa yang rajin belajar. Bukankah mereka melawan hawa nafsu, sehingga mereka tidak malas belajar?

Bukankah mereka menahan rasa kantuk dan capek? Demikian pula dengan latihan-latihan penguatan iman. Inilah yang disebut dengan jihadunnafs, perjuangan melawan hawa nafsu.

Ini pula yang disebut dengan mujahadah, optimalisasi kesungguhan beribadah dan beramal shaleh. Inilah program harian kita, jika kita sungguh-sungguh ingin mencapai iman yang kuat. Yaitu iman yang senantiasa menglahkan hawa nafsu.

Untuk memudahkan pelaksanaan latihan-latihan imaniyah kita, sebaiknya kita mencari lingkungan pergaulan yang mendukung. Bersahabat dengan orang shaleh, sangat memudahkan pelaksanaan latihan memperkuat iman. Mari kita renungkan firman Allah swt :

وَا صْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالغَدَوةِ وَالعَشِى يُرِيدُ وَجْهَهُ وَلاَ تَعْدُ عَنْكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةِ اْلَحيَاةِ الدُّنْيَا وَلاَ تُطِع مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَا تَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Dan Bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS : Al-Kahfi : 28)

Kiat yang terakhir setelah paksa diri dan bersahabat dengan orang yang shaleh, ialah : Perbanyak dzikir dan do’a. Memperbanyak dzikir, termasuk membaca Al-Qur’an, sesungguhnya menyambung hati dengan Allah swt. Dengan demikian, iman jadi kuat.

Memperbanyak do’a sesungguhnya merupakan pembuktian rasa butuh kita kepada Allah swt, kesungguhan kita mau menguatkan iman dan mengalahkan hawa nafsu. Dzikir dan do’a kita harus dijamin sesuai dengan ajaran Rasulullah saw. Karena itu kita wajib belajar dan senatiasa belajar tiada henti. Fastaqim (beristiqamahlah)

Akhir Kata

Demikianlah renungan cinta dan seruan ukhuwah yang diharapkan dapat menyentuh dan menggugah setiap hati yang beriman kepada Allah Swt.

Hanya kepada Allah Swt jualah kita berharap dan bermohon, Semoga Allah mengkaruniakan keikhlasan dan kesucian hati kepada kita semua. Semoga Allah Swt berkenan untuk memudahkan langkah kita untuk mewujudkan kedamaian, kesatuan dan persatuan, antar segenap elemen Umat Islam tercinta ini. Allahumma Amin.

Semoga kumpulan ceramah agama ini bisa menjadi rujukan bagi anda yang sedang mencari bahan untuk ceramah atau pindato. Semoga kita senantiasa menjadi da’i yang berjuang menyebarkan dan membela islam. Bagikan materi ceramah agama ini dan semoga menjadi amal jariyah untuk anda. Amin

Tinggalkan komentar