17+ Contoh Karya Ilmiah Lengkap dan Cara Membuatnya

Contoh Karya Ilmiah – Karya ilmiah tentu saja sudah sangat sering didengar bagi pelajar. Apalagi untuk kelas mahasiswa, ini sudah menjadimakanan sehari-hari yang tidak pernah telat. Namun, meski demikian tidak salahnya kamu baca kembali artikel terkait karya ilmiah untuk memperdalam pemahaman kamu pada karya tulis yang satu ini.

Sebagian pelajar atau mahasiswa, masih ada pula yang belum terlalu memahami apa dan bagaimana itu karya ilmiah itu. Padahal ada banyak sekali contoh karya ilmiah yang bisa dijadikan sebagai panduan dalam membuat karya ilmiah. Memahami bentuk dan cara membuat karya ilmiah sangatlah penting dan tidak bisa diabaikan.

Karya ilmiah yang dimaksud disini adalah karya tulis ilmiah. Nah, bagi kamu yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai karya ilmiah, jawabannya bisa ditemukan disini. Berikut ulasan tentang pengertian berikut contoh karya ilmiah beserta beberapa hal terkait dengan karya ilmiah ini.

Pengertian Karya Tulis Ilmiah

Pengertian dan contoh Karya Ilmiah
profitbydigital.com

Karya ilmiah atau lebih jelasnya disebut dengan karya tulis ilmiah merupakan karya tulis yang disajikan secara ilmiah. Maksudnya adalah karya tulis ini memiliki aturan tersendiri dalam penyajiannya.

Sebelum membuat karya tulis ilmiah, ada proses penelitian secara mendalam. Sehingga karya ilmiah bisa dikatakan sebagai laporan hasil penelitian apapun bentuk dan jenisnya.

Dalam kata lain karya tulis ilmiah ini diartikan sebagai karya yang disajikan secara tertulis sesuai dengan keilmuan. Dasarnya sendiri bisa berupa hasil pengamatan, penelitian, maupun peninjauan pada bidang tertentu.

Hasil penelitian pada bidang tertentu disusun dalam karya tulis ilmiah sesuai metode yang telah berkembang. Hasil dari susunan ini pun pada akhirnya harus bisa dipertanggungjawabkan.

Tujuan dari pada dibuatnya karya ilmiah ini adalah untuk memberikan suatu informasi secara logis kepada pembaca. Untuk penyusunannya pun juga bersifat sistematis.

Biasanya pembuatan karya ilmiah tujuannya adalah dalam rangka memberikan jawaban dari suatu pertanyaan. Karya tulis ilmiah bisa jadi juga hanya untuk pengembangan dari karya tulis ilmiah sebelumnya.

Baca juga: Cara membuat surat lamaran kerja yang baik dan benar

Jenis Jenis Karya tulis Ilmiah

Jenis Jenis Karya tulis Ilmiah
tengrinews.kz

Berbicara mengenai jenis-jenis karya tulis ilmiah, sebenarnya ada banyak sekali jenis karya ilmiah yang bisa ditemui, seperti makalah, esai, skripsi, disertasi dan masih banyak lagi. Itu pun hanya sebagian dari karya tulis ilmiah yang cukup populer. Pada artikel ini juga akan disajikan beberapa jenis karya tulis ilmiah berikut penjelasannya.

Karya tulis ilmiah yang pertama adalah laporan. Laporan merupakan sebuah bentuk karangan yang berisi rekaman sebuah kegiatan tentang sesuatu yang sedang diteliti atau dikerjakan. Dalam penyusunannya, laporan disusun se-obyektif mungkin.

Jenis karya ilamiah yang selanjutnya adalah makalah. Jenis karya ilmiah ini tentu saja sudah sangat banyak ditemukan. Contoh karya ilmiah makalah sangat banyak dijumpai, terutama di Indonesia.

Makalah ini biasanya ditulis oleh siswa atau mahasiswa sehubungan dengan pemenuhan tugas dari bidang study tertentu. Sumbernya bisa dari penelitian maupun buku.

Karya tulis ilmiah yang juga tidak kalah populer adalah skripsi, tesis dan disertai. Skripsi merupakan karangan ilmiah yang dibuat untuk meraih gelar sarjana.

Sedangkan tesis yang membuatnya adalah mereka yang sedang menyelesaikan study S2nya. Pembahasannya lebih dalam lagi dari skripsi. Lalu untuk disertasi dibuat untuk mencapai gelar doctor sebagai gelar tertinggi universitas.

Karya ilmiah lainnya yang juga populer dikalangan para pelajar mahasiswa adalah seperti kritik dan esai. Kritik merupakan karangan yang berisi tentang penilaian suatu karya secara objektif mengenai baik maupun buruknya.

Sedangkan esai merupakan jenis karya tulis yang semacam kritik akan tetapi lebih subjektif. Maksud dari subjektif sendiri dalam esai yang dikemukakan lebih pada pendapat pribadi penulisnya.

Selain itu yang juga merupakan karya ilmiah adalah resensi. Resensi merupakan hasil pengulasan atau penilaian dari sebuah buku. Resensi ini disebut juga dengan book review.

Biasanya penyampaian resensi ini melalui surat kabar atau majalah. Tujuan pembuatannya sendiri adalah memberi tahu masyarakat tentang sebuah buku sehingga bisa menimbang layak tidaknya buku tersebut dibeli.

Dengan memahami jenis jenis karya ilmiah, maka kamu bisa dengan mudah mengetahui jenis dari contoh karya ilmiah yang kamu temukan.

Sifat Sifat Karya Tulis Ilmiah

Sifat dan contoh karya ilmiah
poltava.to

Sebelum menulis karya ilmiah, kamu perlu mengetahui apa saja sifat-sifat dari karya tulis ilmiah ini. Sifat-sifat dari karya tulis tersebut dilihat dari berbagai segi. Jika dilihat dari segi bahasa, maka karya tulis ilmiah harus menggunakan bahasa yang baik dan benar, sesuai kaidah yang berlaku dan mudah dipahami.

Untuk segi penyusunan, karya ilmiah disusun secara sistematis dengan tata urutan yang jelas. Fakta yang digunakan di dalam karya ilmiah harus bisa dipercaya.

Untuk pengembangannya diusahakan agar mudah diterima akal sehat sehingga pembaca tidak kesulitan memahami apa yang disampaikan.

Mengenai isinya, karya ilmiah harus dibuat dengan isi yang lengkap dan sempurna. Selain itu, untuk penggambaran, harus diusahakan karya tulis ilmiah dapat menimbulkan gambaran sesuai kebutuhan, tujuan maupun kondisi penerima.

Baca juga: Cara membuat cv lamaran kerja

Cara Membuat Karya Tulis Ilmiah

Cara Membuat Karya Ilmiah
deirdrebreakenridge.com

Dengan membaca dan mempelajari berbagai contoh karya ilmiah, lalu memahami dengan baik cara membuatnya, amka kamu akan bisa dengan mudah menyusun karya ilmiah yang benar dan menarik.

Sebelum kamu mulai membuat karya ilmiah, kamu perlu mengetahui apa saja yang harus dipersiapkan. Adapun cara penyusunannya, tidaklah sesulit yang dibayangkan oleh para pemula.

Dalam pembuatan karya ilmiah, pertama kamu perlu menentukan topik secara umum yang dipilih. Kemudian kamu perlu merumuskan tujuan dengan baik. Barulah setelah itu karya ilmiah dikembangkan.

Terkait dengan masalah topik yang diangkat, setelah ditentukan, perlu diteliti lagi. Hal ini akan membuat mereka semakin sulit dijangkau. Perlu juga untuk mengidentifikasi sejauh apa pembaca karyamu.

Selain itu juga penting menentukan berapa banyak informasi yang tersedia dalam karya tulis dengan topik yang akan diangkat.

Baca juga: Contoh daftar pustaka

Contoh Karya Tulis Ilmiah yang Baik dan Benar

Contoh Karya Ilmiah Sederhana
adazing.com

Sebelum kamu membuat karya ilmiah, sebaiknya kamu mempelajari dengan baik tata cara pembuatan karya ilmiah yang baik dan benar. Selain itu, mempelajari contoh karya ilmiah orang lain juga sangat penting sebelum kamu memulai penelitianmu. Berikut contoh karya ilmiah yang bisa kamu pelajari:

Meningkatkan Pemahaman Pembelajaran IPA dengan Menggunakan Metode Diskusi

BAB 1
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan salah satu pelajaran inti yang diajarkan di Sekolah Dasar. Penyelenggaraan pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitarnya, serta pengembangan lebih lanjut menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari.

Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman secara langsung untuk mengembangkan kompetensi dalam menjelajahi dan memahami alam sekitar secara alamiah, sehingga pendidikan IPA di Sekolah Dasar dapat dijadikan bekal pemerolehan keterampilan peserta didik untuk mengenali dunia sekitarnya.

Dalam undang-undang no. 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, pada bab 1 pasal 1, disebutkan bahwa:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara .

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam semesta secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan berupa faktor-faktor, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja. Tetapi juga merupakan suatu proses penemuan.

Oleh karena itu, pembelajaran IPA akan lebih bermakna bagi peserta didik jika dalam prosesnya dapat menunjukan keterkaitan antara materi pembelajaran dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga menghasilkan pengalaman yang memperkaya kehidupan peserta didik.

Olehnya karena itu, permulaan dari menguasai Ilmu Pengetahuan seharusnya sejak Sekolah Dasar penguasaan konsep-konsep IPA sesuai tingkat merupakan hal yang harus dicapai.

Penguasaan Konsep IPA dinyatakan dengan nilai hasil belajar IPA, jadi pada prakteknya pembelajaran IPA untuk anak-anak Sekolah Dasar harus dimodifikai agar anak-anak dapat mempelajarinya.

Ide-ide dan konsep-konsep tersebut harus disederhanakan agar sesuai dengan kemampuan anak untuk memahaminya.

Pendidikan IPA diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.

Adapun hasil belajar IPA yang diharapkan adalah menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja, dan bersikap ilmiah serta berkomunikasi sebagai salah satu aspek penting dalam kecakapan hidup peserta didik.

Hasil belajar IPA dipengaruhi oleh besarnya usaha-usaha yang dicurahkan baik dari guru maupun peserta didik dalam belajar IPA dan kesempatan yang diberikan kepada peserta didik untuk menentukan pemahaman yang mendalam tentang kehidupan sehari-hari.

Oleh karena itu, pembelajaran IPA disekolah hendaknya dirancang untuk memupuk tumbuhnya sikap ilmiah dan menciptakan pola berfikir logis yang menjadi landasan dalam proses ilmiah untuk menghasilkan produk ilmiah, sebagaimana tercantum dalam kurikulum.

Menurut psikolog Jean Piaget menyatakan bahwa siswa Sekolah Dasar terutama yang duduk dikelas V berumur 7-11 tahun, berada pada tahapan operasional kongkrit yang memiliki secara kongkrit .

Sehingga dalam pembelajaran hendaknya guru memberikan konsep yang jelas dan kongkrit agar diperoleh struktur ilmu yang baik ini diperlukan karena pada dasarnya pendidikan di Sekolah Dasar menjadi landasan untuk pendidikan pada jenjang berikutnya.

Pendidkan Sekolah Dasar hendaknya dilakukan dengan cara-cara yang benar agar menjadi landasan yang kuat untuk jenjang pendidikan berikutnya .

Kenyataan yang terjadi, berdasarkan pengamatan terhadap penyelenggaraan pembelajaran IPA di Sekolah Dasar saat ini masih berjalan dengan dengan Verbalistik yang menekankan hafalan bukan pemahaman dan berorientasi semata-mata kepada penguasaan mata pelajaran.

Pembelajaran materi IPA yang dilakukan guru hanya bersifat text book oriented. Akibatnya pembelajaran menjadi kurang membuat siswa aktif serta menyenangkan.

Sehingga pada saat pembelajaran berlangsung, siswa cenderung kurang serius dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Siswa hanya memahami secara teori melalui pengerjaan soal.

Pada siswa kelas V SD Ananda Kecamatan Gunungputri ternyata menguasai IPA secara teoritis, namun ketika dilakukan pengalama secara langsung masih belum memahami betul konsep logika yang dipelajarinya.

Dalam belajar pengamatan perlu dilakukan, karena melalui pengamatan maka suatu objek dapat terekam dalam memori cukup lama. Terbukti dari hasil pengujian kompetensi yang dilakukan (arsip nilai yang dimiliki guru) menunjukkan bahwa rata-rata nilai Uji Kompetensi materi IPA adalah 62,18 padahal Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan adalah 65.

Terdapatnya masalah-masalah pembelajaran dikelas V tersebut perlu diselesaikan melalui suatu penilaian tindakan kelas.

Salah satu komponen pengajaran, tidak kalah pentingnya dari komponen lainnya dalam kegiatan belajar mengajar. Tidak ada satupun kegiatan mengajar yang tidak menggunakan metode pengajaran.

Ini berarti guru memahami benar kedudukan metode sebagai alat motivasi dalam kegiatan belajar mengajar.

Proses belajar megajar di SD Ananda Kecamatan Gunungputri selalu menggunakan metode-metode yang konvensional seperti ceramah, sehingga biasanya menghasilkan siswa yang pasif dan sangat tergantung pada guru satu-satunya sumber ilmu.

Dengan demikian proses belajar mengajar mengalir satu arah saja dari guru ke murid, sehingga murid hanya duduk diam, dengar, dan catat.

Untuk itu penulis ingin mencoba menerapkan pembelajaran yang lebih menyenangkan yaitu menggunakan metode Diskusi dengan harapan proses pembelajaran berjalan dengan aktif dan berjalan dua arah, yakni dari guru ke murid atau sebaliknya.

Dari masalah diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul

“Meningkatkan Pemahaman Pembelajaran IPA dengan Menggunakan Metode Diskusi pada Siswa Kelas V SD Ananda Kecamatan Gunungputri.”

B. IDENTIFIKASI MASALAH

Adapun jenis-jenis masalah yang dapat di identifikasi sebagai berikut:

1. Adanya ketidak jelasan mengenai penerapan metode Diskusi terhadap siswa kelas V Sekolah Dasar.

2. Melalui penerapan metode Diskusi diharapkan siswa akan lebih mudah memahami pembelajaran IPA tersebut.

3. Tanggapan siswa terhadap penerapan metode Diskusi sangat antusias.

C. PEMBATASAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah yang di identifikasi maka penulis membatasi masalah pada :

“Meningkatkan Pemahaman Pembelajaran IPA dengan Menggunakan Metode Diskusi pada Siswa kelas V SD Ananda Kecamatan Gunungputri.”

D. PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi, serat pembatasan fokus penelitian yang telah diuraikan diatas, maka perumusan masalah didalam penelitian ini adalah sebagi berikut:

1. Bagaimanakah pelaksanaan penggunaan metode diskusi siswa kelas V SD ANANDA dalam meningkatkan pemahaman pembelajaran IPA?

2. Bagaimanakah tingkat pemahaman pembelajaran IPA siswa kelas V setelah dipergunakan metode diskusi?

3. Bagaimanakah hasil pembelajaran IPA yang menggunakan metode diskusi siswa kelas V SD ANANDA?

E. TUJUAN PENELITIAN

Memperhatikan masalah yang timbul dalam pembelajaran diperlukan usaha-usaha agar terdapapat peningkatan hasil pemahaman belajar siswa. Dengan tujuan adalah:

1. Untuk meningkatkan pemahaman belajar siswa kelas V Sekolah Dasar selama proses pembelajaran melalui metode Diskusi

2. Untuk meningkatkan prestasi belajar pada siswa kelas V SD Ananda Kecamatan Gunungputri dengan menggunakan pembelajaran metode Diskusi

3. Untuk mempermudah siswa dalam memahami proses pembelajaran IPA yang menggunakan metode Diskusi

F. METODOLOGI PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah metode pendekatan Kualitatif, yaitu metode yang menggambarkan proses atau peristiwa yang sedang berlangsung untuk melihat keterkaitan antara variabel yang ada di dalam kejadian atau hal-hal yang melatar belakanginya.

a. Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dikelas V SD ANANDA yang berlokasi di Desa Bojongkulur kecamatan Gunungputri, Bogor. Dengan alasan peneliti merupakan bagian dari lingkungan sekolah tersebut, sehingga peneliti ingin meningkatkan pemahaman belajar IPA siswa kelas V dengan menggunakan metode Diskusi

• Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanankan selama 3 (tiga) bulan pada semester genap (II) yaitu pada bulan Februari sampai bulan Maret sampai bulan Juni tahun 2012.

b. Populasi dan Sampel

Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD ANANDA kecamatan Gunungputri yang berjumlah 20 orang siswa, dengan sampel diambil sebanyk 60% dari siswa kelas V, yakni berjumlah 12 orang siswa. Cara pemilihan dan penetapan sampel yakni dengan teknik acak atau random sampling.

Adapun partisipasi yang terlibat dalam penelitian ini adalah Kepala Sekolah SD Ananda kecamatan Gunungputri dan rekan sejawat yang merupakan guru di sekolah tersebut yang bertindak sebagai observer.

Observer yang dipilih dipercaya akan berkolaborasi dan dapat bekerja sama untuk memberi input, kritik dan saran yang membangun demi lancarnya penelitian ini.

c. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan salah satu bagian penting dalam kegiatan penelitian. Pada bagian ini di uraikan mengenai langkah-langkah yang dilakukan dalam pengumpulan data sebagai berikut:

1. Tahap Persiapan, yaitu mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan alat pengumpul data seperti observasi, angket, wawancara.

2. Tahap Pelaksanaan, yaitu melakukan observasi langsung kelapangan lalu mengadakan wawancara dengan responden dan penyebaran angket sesuai dengan jumlah sampel.

3. Tahap Pengumpulan Data, yaitu data hasil observasi berupa catatan dan hasil wawancara maupun angket yang telah di isi oleh responden di kumpulkan untuk analisis data, dengan merupakan rumus prosentase

d. Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen penelitian merupakan alat ukur yang di gunakan untuk memperoleh informasi. Instrumen pengumpul data ( IPD ) yang digunakan pada penelitian ini adalah berupa observasi, wawancara, angket atau kuessioner, dan dokumentasi.

1. Observasi

Observasi atau pengamatan secara langsung yang di lakukan ialah saat mengobservasi pelaksanaan penggunaan metode diskusi pada pembelajaran siswa kels V.

2. Angket

Dalam angket terdapat beberapa macam pertanyaan yang berhubunga erat dengan masalah penelitia yang hendak dipecahkan, disusun, dan disebarkan ke responden untuk memperoleh informasi dilapangan.

Angket tersebut disebarkan kepada murid-murid kelas V SD ANANDA yang menjadi sampel dalam penelitian yakni sebanyak 20 anak. Karena jawaban yang diperoleh murid dari murid-murid tersebut akan menjadi data penting yang akan dianalisa sebagai hasil penelitian.

3. Wawancara

Teknik pengumpulan data dengan cara mengadakan percakapan langsung dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada responden dan hasilnya yang berupa jawaban yang dicatat.

Pada teknik wawancara ini peneliti dating berhadapan muka secara langsung dengan memberikan pertanyaan kepada responden. Kemudian hasilnya dicatat sebagai informasi penting dalam penelitian.

Wawancara dilakukan dengan kepala sekolah SD ANANDA Kecamatan Gunungputri Ibu Vera Bulan DL, yakni untuk mendapatkan informasi mengenai latar belakang berdirinya SD ANANDA Kecamatan Gunungputri beserta profil sekolah.

Wawancara juga dilakukan guru kelas V, yakni Ibu Inarima untuk mengetahui apakah selama pembelajaran IPA, pernh digunakan metode diskusi dikelas.

e. Teknik Analisa Data

Teknik analisis data yang digunakan peneliti adalah penghitugan presentase (%) maksudnya untuk melihat perbandingan besar atau kecilnya frekuensi tiap item jawaban dari responden.

Perhitungan diatas menempuh langkah-langkah sebagai berikut:

1. Membuat table dengan kolom alternatif jawaban dan presentasenya.

2. Mencari frekuensi jawaban dengan cara menjumlahkan nilai dari setiap alternative jawaban. Mencari perhitungan frekuensi dengan rumus :

P = F/N X 100 %

Keterangan:

P = Presentase yang dicari
F = Jumlah pemilihan dalam tiap jawaban
N = Jumlah Sampel
100% = Bilangan Tetap

G. SISTEMATIKA PENULISAN

Dalam penyusunan skripsi ini penulis membagi tulisanya terdiri dari lima bab, yaitu dibahas dalam beberapa sub bab secara garis besar dapat dijelaskan sebagai berikut:

BAB I : PENDAHULUAN

Dalam bab ini yang terdiri dari:

A. Latar Belakang Masalah,
B. Identifikasi Masalah,
C. Pembatasan Masalah,
D. Perumusan Masalah,
E. Tujuan Penelitian
F. Metodologi Penelitian
G. Sistematika Penulisan

BAB II : LANDASAN TEORI

A. Hakikat belajar dan pembelajaran
B. Pengertian ilmu pengetahuan alam ( IPA )
C. Hasil belajar IPA
D. Metode Diskusi

BAB III : HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi data objek penelitian

1. Sejarah Berdirinya SD ANANDA
2. Visi, Misi dan Tujuan Sekolah
3. Letak Geografis SD ANANDA
4. Struktur Organisasi
5. Keadaan Guru
6. Keadaan Siswa
7. Sarana dan Prasarana
8. Kegiatan Ekstra Kurikuler
9. Fakta dan Data yang ditemukan di Lapangan
10. Penggunaan Metode Diskusi dalam Kegiatan Pembelajaran IPA pada materi “Struktur Bumi dan Matahari”
11. Hasil Belajar IPA Siswa Kelas V SD Ananda Setelah Mengikuti Pembelajaran menggunakan Metode Diskusi.

BAB IV: ANALISA HASIL PENELITIAN

A. Fakta / data temuan penelitian
B. Analisis data
C. Pembahasan

BAB V: PENUTUP

Terdiri dari :

A. Kesimpulan yang disampaikan penulis berdasarkan masalah-masalah yang diselesaikan
B. Saran-saran.

DAFTAR PUSAKA
LAMPIRAN

Setelah pendahuluan, selanjutnya adalah BAB Landasan Teori. Pada contoh karya ilmiah ini, kita telah menyusun secara lengkap bagian-bagian dari karya ilmiah, termasuk landasan teori. Berikut penjelasan atau contoh Landasan Teori dai sebuah karya ilmiah

Bab II
LANDASAN TEORI

A. Hakikat Belajar dan Pembelajaran.

Belajar merupakan peristiwa sehari-hari di sekolah. Belajar merupakan sesuatu yang kompleks. Kompleksitas belajar tersebut dapat di pandang dari dua subjek, yaitu dari siswa dan dari guru.

Dari segi siswa, belajar dialami sebagai suatu proses. Siswa mengalami proses mental dalam menghadapi bahan belajar. Bahan belajar tersebut berupa keadaan alam, hewan, tumbuh-tumbuhan, manusia, dan bahan yang telah terhimpun dalam buku-buku pelajaran.

Salah satu tugas guru adalah mengajar. Dalam kegiatan mengajar ini tentu saja tidak dapat dilakukan sembarangan, tetapi harus menggunakan teori-teori dan prinsip-prinsip belajar tertentu agar bisa bertindak secara tepat.

Oleh karenanya, sebagai calon guru perlu mempelajari teori dan prinsip-prinsip belajar yang dapat membimbing aktivitas dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar.

Kegiatan belajar tersebut dapat dialami oleh orang yang sedang belajar. Di samping itu, kegiatan belajar juga dapat di amati oleh orang lain. Belajar yang dialami oleh seorang siswa ada hubungannya dengan usaha pembelajaran, yang dilakukan oleh guru.

Belajar adalah proses yang diarahkan kepada tujuan, proses berbuat melalui berbagai pengalaman, belajar adalah proses melihat, mengamati, memahami sesuatu . Belajar juga merupakan komponen ilmu pendidikan yang berkenaan dengan tujuan dan bahan acuan interaksi baik yang bersifat terbuka atau tersebunyi.

Oleh karena itu, individu yang belajar adalah individu yang mengalami perubahan sebagai akibat dari proses belajar tersebut. Belajar pada pelaksanaannya merupakan suatu proses.

a. Teori Dasar

• Moh Uzer, Usman dan Lilies Setiawati bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku pada diri individu berkata adanya interaksi antara individu dengan lingkungan sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya.

• W.S Winkel bahwa belajar adalah suatu aktivitas mental psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan sikap.

• Berdasarkan uraian teori diatas maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu kebutuhan bagi setiap manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya karena belajara berarti mengalami berbuat, bereaksi, berpikir secara kritis.

b. Teori Penunjang

Jean Piaget (2004:14) mengataka bahwa perkembangan kognitif anak dapat dibedakan antara beberapa tahap seiring dengan perkembangan anak berdasarkan usianya, yaitu:

• 0-2 tahun : sensori motorik
• 2-6 tahun : pra operasional
• 7-11 tahun: operasional kongkrit
• > 11 tahun : operasional formal

Belajar terjadi secara bertahap dan berjenjang. Jenjang belajar menunjukkan tingkat kesulitan dan kedalaman penguasaan pengetahuan melalui berbagai pendekatan seperti berbagai penerapan metode pembelajaran, serta medianya yang memperkuat pernyataan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan yang meliputi berbagai aspek.

Belajar merupakan peristiwa sehari-hari. Kegiatan belajar tersebut dapat dialami oleh orang yang sedang belajar . Seseorang akan belajar lebih efektif dan mengingat lebih kuat kalau melibatkan emosi anak ketika berhadapan dengan materi yang dipelajarinya.

Jadi dapat diartikan bahwa proses belajar yang berlangsung secara bertahap dan berjenjang akan lebih bermakna jika emosi seseorang ikut terlibat saat mempelajari materi yang sedang diajarkan.

Oleh karena itu, individu dalam melakukan proses belajar lebih baik melakukan banyak latihan karena pengetahuan yang diperoleh dari belajar akan lebih lama tinggal dalam kesadaran dan ingatan.

Dengan mengetahui hakikat belajar sebagai suatu perubahan, maka untuk mengetahui hasil dari proses belajar adalah dengan melihat adanya perubahan dari individu yang mengalami proses belajar tersebut.

Hal ini akan tampak berupa tanda-tanda perilaku individu yang berubah. Adapun perhatian utama dalam belajar adalah perilaku verbal dari individu, yaitu kemampuan menangkap informasi mengenai ilmu pengetahuan yang diterimanya dalam belajar.

Salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar sesuatu adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya yang menyangkut perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif) dan keterampilan (psikomotor) maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif).

Dalam pelajaran IPA, metode atau cara yang digunakan dalam penerapannya harus melalui proses pembelajaran yang masuk akal, sesuai dengan kenyataan dan karakteristik anak.

Proses belajar merupakan proses komunikasi yang melibatkan pengiriman pesan (guru), penerima pesan (siswa) dan pesan itu sendiri (materi pelajaran). Kadang-kadang dalam proses pembelajaran terjadi kegagalan komunikasi, artinya materi pelajaran yang disampaikan guru tidak dapat diterima siswa dengan optimal.

Kenyataan yang terjadi pada penyelenggaraan pembelajaran IPA dilapangan banyak guru belum menyadari pentingnya memilih media pembelajaran yang baik untuk memudahkan peserta didik memahami pelajaran serta menjadikan belajar sebagai proses yang bermakna dan menyenangkan, kurang terencananya pemilihan media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan, pertumbuhan dan perkembangan peserta didik serta kemampuan intelektual yang tepat untuk mendukung kemampuan belajar.

Mengingat pentingnya media pembelajaran yang tepat untuk pembelajaran, maka pada prakteknya harus disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi peserta didik.

Mengajar merupakan salah satu usaha yang dilakukan oleh guru agar siswa dapat menerima pelajaran dengan baik, sedangkan yang dimaksud dengan belajar itu sendiri proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi dan respon, kemudian perubahan perilaku juga melalui pengalaman baik secara langsung maupun tidak langsung.

Belajar dengan prosesnya sangat bermanfaat, sebab dengan mengalami secara langsung kesalahan persepsi akan dapat dihindari. Namun pada kenyataanya tidak semua bahan pelajaran disajikan melalui pengalaman secara langsung.

Media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh kemampuan, keterampilan, dan sikap.

Sejalan dengan itu, belajar dapat dipahami sebagai usaha atau berlatih supaya mendapat suatu kepandaian. Dengan kata lain, individu yang belajar akan memperoleh perubahan baik tantang pengetahuan, sikap, keterampilan maupun kreativitasnya sebagai implikasi dari kegiatan belajar.

Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh dari proses atau kegiatan belajar yang dapat berupa pengetahuan, sikap, keterampilan maupun kreativitasnya.

Pengetahuan yang dimaksud adalah berupa fakta, istilah, dan prinsip-prinsip, sikap yang dimaksud adalah perhatian, penghargaan, nilai, perasaan dan emosi, sedangkan keterampilan maupun kreativitas yang dimaksud adalah berupa keterampilan dan kreativitas dalam memecahkan masalah.

Oleh karena itu, untuk memperoleh hasil belajar dilakukan evaluasi atau cara untuk mengukur tingkat penguasaan siswa diharapkan dapat mencapai tujuan belajar yaitu kemampuan yang dapat dimiliki siswa setelah mengalami proses belajar.

Penggunaan media pembelajaran adalah salah satu upaya agar siswa memperoleh gambaran kongkrit tentang konsep yang harus dipahami. Bagaimana siswa menerima materi ajar memiliki pengaruh pada pencapaian kentutasan belajar tersebut.

Hal ini sejalan dengan materi yang harus diberikan kepada siswa kelas V lebih banyak jika dibandingkan dengan jumlah jam pengajar sains yang tersedia.

Pengetahuan guru hanya terbatas pada buku cetak yang dimiliki para siswa, sehingga dalam pembelajarannyapun hanya berpatokan pada buku cetak semata.

Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan, ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek, yakni penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi.

Ranah psikomotorik berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak yang terdiri dari enam aspek, yakni gerak refleks, keterampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual, keharmonisan atau ketepatan, gerakan keterampilan kompleks, dan gerakan ekspresif serta interpretatif.

Dari pernyataan diatas, dapat dikatakan bahwa pencapaian belajar dapat dilihat dari pencapaian bentuk perubahan perilaku yang cenderung menetap dari ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik dari proses yang dilakukan dalam waktu tertentu, tetapi dari ranah tersebut yang menjadi objek penilaian untuk hasil belajar, ranah kognitiflah yang paling banyak dinilai karena tujuan utama penilaian adalah mengukur kemampuan para siswa dalam menguasai bahan pelajaran.

Dari berbagai pendapat para ahli tentang hasil belajar diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku siswa secara nyata setelah dilakukan proses belajar mengajar yang dilihat dari tiga aspek, yaitu (1) aspek kognitif, (2) aspek afektif, (3) aspek psikomotorik.

Adapun baik buruknya hasil belajar dapat dilihat dari hasil pengukuran yang berupa evaluasi, selain mengukur hasil belajar penilaian juga dapat ditujukan kepada proses pembelajaran untuk mengetahui sejauh mana tingkat keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran tersebut.

Semakin baik proses pembelajaran dan keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran, maka hasil yang diperoleh siswapun akan lebih tinggi sesuai dengan tujuan yang dirumuskan sebelumnya.

B. Pengertian Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)

Ilmu Pengetahuan Alam atau Sains (Science) diambil dari kata latin Scientia yang harafiahnya adalah pengetahuan, tetapi kemudian berkembang menjadi khusus Ilmu Pengetahuan Alam atau Sains.

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sebagai proses ,merupakan langkah-langkah yang ditempuh para ilmuwan untuk melakukan penyelidikan dalam rangka mencari penjelasan tentang gejala-gejala alam.

Langkah tersebut adalah merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, merancang eksperimen, mengumpulkan data, menganalisis dan akhirnya menyimpulkan. Dari sini tampak bahwa karakteristik yang mendasar dari Ilmu Pengeahuan Alam (IPA) ialah kuantifikasi artinya gejala alam dapat berbentuk kuantitas.

Ilmu alam terbagi menjadi 2 kelompok yaitu ilmu alam dan ilmu hayat. Ilmu alam ialah ilmu yang mempelajari zat yang membentuk alam-semesta sedangkan ilmu hayat mempelajari makhluk hidup di dalamnya.

Kata IPA merupakan singkatan dari “Ilmu Pengetahuan Alam”, kata “Ilmu Pengetahuan Alam” merupakan terjemahan dari kata-kata bahasa inggris : Natural Science adalah istilah yang digunakan pada rumpun ilmu dimana objeknya adalah benda-benda alam dengan hukum-hukum yang pasti dan umum, berlaku kapanpun dan dimanapun.

Dari pengertian tentang IPA, merupakan pengetahuan dari hasil kegiatan manusia yang diperoleh dengan menggunakan langkah-langkah ilmiah dan didapatkan dari hasil eksperimen atau observasi yang bersifat umum sehingga akan terus disempurnakan.

Maka dapat diartikan bahwa IPA adalah Ilmu pengetahuan yang mempelajari alam dan gejala-gejalanya. Pengertian tentang IPA tersebut tampak bahwa IPA bukan sekedar kumpulan ilmu pengetahuan semata, tetapi IPA juga merupakan suatu proses penemuan.

Ilmu alam mempelajari aspek-aspek fisik dan nonmanusia tentang Bumi dan alam sekitarnya. Ilmu-ilmu alam membentuk landasan bagi ilmu terapan, yang keduanya dibedakan dari ilmu sosial, humaniora, teologi, dan seni.

Cabang-cabang utama dari ilmu alam adalah Astrologi, Biologi, Ekologi, Fisika, Geologi, Geografi fisik berbasis ilmu, Ilmu Bumi, dan Kimia.

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berupaya membangkitkan minat manusia agar mau meningkatkan kecerdasan dan pemahamannya tentang alam seisinya yang penuh dengan rahasia yang tidak ada habis-habisnya.

Dengan tersingkapnya tabir rahasia alam itu satu persatu, serta mengalirnya informasi yang dihasilkannya, jangkauan IPA semakin luas dan lahirlah sifat terapannya, yaitu teknologi adalah lebar.

IPA membahas tentang gejala-gejala alam yang disusun secara sistematis yang didasarkan pada hasil percobaan dan pengamatan yang dilakukan oleh manusia. Mata pelajaran ini pula digunakan dalam UN dan UASBN.

C. Hasil Belajar IPA

Hasil belajar IPA merupakan perubahan tingkah laku yang berupa pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diperoleh siswa setelah berinteraksi dengan lingkungan. Hasil belajar akan diperoleh secara nyata dan diamati apabila sering berlatih dan dialami sendiri oleh siswa.

IPA adalah proses berbagai gejala alam dengan cara tertentu yang sifatnya analisis, cermat, lengkap dengan menghubungkan gejala alam yang satu dengan yang lain tentang suatu sudut pandang yang baru tentang objek yang diamatinya.

Hasil belajar IPA adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari proses belajar yang berlangsung secara bertahap dan berjenjang untuk mendapatkan pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungan yang diperoleh dengan cara berpikir logis dan sistematis dalam memahami gejala alam serta sikap ilmiah dalam menemukan fakta tentang gejala alam tersebut.

Berhubung dengan adanya aspek kognitif, efektif, dan psikomotorik yang penjabarannya begitu luas, maka untuk mengukur pemahaman siswa terhadap pembelajaran IPA salah satunya dengan hasil belajar IPA pada siswa kelas V SD ANANDA Kecamatan Gunungputri.

Ranah kognitif yang paling banyak dinilai karena tujuan utama penilaian adalah mengukur kemampuan para siswa dalam menguasai bahan pelajaran. Jadi yang dimaksud dengan hasil belajar IPA adalah tingkat penguasaan siswa atas sejumlah bahan yang diperoleh dari proses belajar mengajar setelah siswa mengikuti proses pembelajaran IPA.

Semua pendidik professional harus mempelajari dan mengenal jiwa dan perkembangan peserta didiknya, baik secara teoritis maupun praktis. Dengan menguasai pengenalan peserta didik, maka peserta didik akan mampu mengelola proses belajar mengajar dengan baik.

Oleh karena itu, agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik sesuai yang direncanakan, maka pemahaman tentang perkembangan dan sifat-sifat peserta didik sangat penting untuk dikuasai bagi seorang pendidik.

Karakteristik siswa kelas V berada pada tahap operasional kongkrit karena rentang usia 7 – 11 tahun. Pada tahap ini siswa sudah mulai menggunakan aturan-aturan yang jelas dan logis, kecakapan berpikir logisnya terbatas pada benda-benda yang bersifat kongkrit, melakukan klarifikasi dan pengelompokkan serta pengaturan masalah secara mendasar.

Sebagai pendidik harus mempelajari jiwa dan perkembangan peserta didiknya, baik secara teoritis maupun praktis. Melalui penguasaan pengenalan perkembangan peserta didik, maka peserta didik sebagai pendidik mampu mengelola proses belajar mengajar dengan baik.

Agar proses belajar mengajar yang dilaksanakan dapat berjalan dengan baik sesuai yang direncakan maka pemahaman tentang perkembangan dan sifat-sifat peserta didik sangat penting untuk dikuasai bagi seorang pendidik.

Keaktifan siswa merupakan faktor utama dalam kegiatan utama pembelajaran. Untuk dapat memproses dan mengolah perolehan belajar secara efektif, pembelajaran dituntut untuk aktif secara fisik, intelektual, dan emosional.

Keaktifan siswa berhubungan erat dengan minat siswa. Keaktifan siswa juga sangat bergantung pada metode dan model pembelajaran yang dipilih oleh guru.

Jika strategi penyampaian pembelajaran kurang melibatkan siswa, misalnya bersifat eksplantori atau hanya ceramah saja, maka siswa kurang aktif dalam pembelajaran. Sehingga minat terhadap pembelajaran pun rendah.

Implikasi prinsip keaktifan bagi siswa berwujud perilaku-perilaku seperti mencari sumber informasi yang dibutuhkan, menganalisis hasil percobaan, membuat hasil karya tulis, mengerjakan tugas sesuai guru, mengajukan pertanyaan kepada guru, berdiskusi dan bekerja sama dengan temannya dalam mengerjakan tugas, mau mencatat apa yang dipelajari, serta berusaha menyelesaikan tugas yang diberikan guru secara tepat dan sebagainya.

Pembelajaran yang menyenangkan juga dapat memusatkan perhatian siswa secara penuh dalam belajar sehingga waktu curah perhatian siswa tinggi. Perhatian yang tinggi pada apa yang dipelajajari akan sangat membantu dan memudahkan siswa dalam mempelajari materi pelajaran.

D. Metode Diskusi

Pembelajaran kooperatif sebenarnya bukan suatu metode pembelajaran yang baru, melainkan telah dikenal abad pertama setelah masehi ketika para pilusuf Yunani mengemukakan bahwa agar seseorang dapat belajar, maka ia harus partner dalam belajar. Hal ini mengandung pegertian bahwa dalam melaksanakan kegiatan belajarnya, memerlukan teman atau mitra belajar.

Berbeda dengan metode kerja kelompok, dalam pembelajaran kooperatif bukan hanya sekedar bekerja, tetapi juga penstrukturannya. Pembelajaran kooperatif dapat didefinisikan sebagai sistem kerja. Belajar kelompok yang berstruktur .

Yang termasuk didalam struktur ini adalah lima unsur pokok, yaitu saling ketergantungan positif, tanggung jawab individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama, dan proses kelompok.

Dalam pembelajaran kooperaif ini, siswa-siswi dikelompokkan dalam kelompok-kelompok kecil sehingga mereka akan lebih leluasa berpendapat sehingga dalam kelompok kecl ini akan menjamin semua siswa berkesempatan mengeluarkan pendapatnya.

Dengan demikian, siswa diberi kesempatan untuk dapat terlebih secara aktif dalam proses berfikir pada kegiatan belajarnya.

Kelompok-kelompok dalam pembelajaran kooperatif ini terdiri dari siswa yang kemampuannya berbeda-beda sehingga mereka diberi kesempatan untuk saling membelajarkan (peer teaching) sehingga siswa yang berkemampuan akademik tinggi akan membantu teman-teman lainnya dalam menyelesaikan tugas-tugas mereka.

Jadi metode pembelajaran ini memberdayakan bantuan siswa lain untuk meningkatkan pemahaman penguasaan bahan pelajaran.

Pembelajaran koopertif sebagai metode pembelajaran memiliki kelebihan :

• Pertama, memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan konsep sendiri dan cara memcahkan masalah.

• Ke-dua, memberikan kesempatan kepada siswa untuk menciptakan kreativitas untuk melakukan komunikasi dengan teman sekelompoknya.

• Ke-tiga, membiasakan siswa untuk bersikap terbuka namun tegas.

• Ke-empat, meningkatkan motivasi belajar siswa karena interaksi berkembang antar siswa.

• Ke-lima, membatu guru dalam pencapaian tujuan pembelajaran karena langkah-langkah kooperatif mudah diterapkan disekolah.

• Ke-enam, mendorong inovasi guru untuk menciptakan media pengajaran karena media begitu penting dalam pembelajaran kooperatif.
Selain memiliki kelebihan, metode pembelajaran ini juga memiliki kelemahan:

• Pertama, diperlukan waktu yang cukup lama untuk diskusi.

• Kedua, seperti belajar kelompok biasa, siswa yang pandai lebih banyak menguasi jalannya dsikusi sehingga siswa yang kurang pandai kurang memiliki kesempatan untuk mengeluarkan pendapatnya.

• Ketiga, siswa yang terbiasa dengan kelompok merasa asing dan sulit untuk bekerja sama.

Keberhasilan dalam belajar menurut pembelajaran kooperatif bukan hanya dapat diperoleh dari guru melainkan bisa juga dari kerjasama dengan pihak lain yang terlibat dalam pembelajaran itu, yaitu teman sebaya.

Kerjasama tersebut terdapat dalam kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih dan keberhasilannya diperngaruhi oleh keterlibatan setiap individu dalam kelompok itu sendiri.

Jadi, belajar menurut belajar kooperatif bukan semata-mata ditentukan oleh kemampuan individu secara utuh melainkan juga diperoleh dari kerja sama didalam kelompok belajar kecil yang struktur dengan baik.

Agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara maksimal maka usaha yang harus dilakukan adalah dengan mengefektifkan pembelajaran.

Agar pembelajaran dapat lebih efektif sebaiknya dalam pembelajaran ditanamkan unsur-unsur dasar belajar kooperatif. Pertama, siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam atau berenang bersama”.

Selain itu harus berbagi tugas dan berbagi tanggung jawab diantara anggota kelompoknya serta berbagi kepemimpinan. Sementara mereka memperoleh keterampilan bekerja sama selama belajar.

Akhirnya, siswa akan mempertanggung jawabkan secara individual terhadap materi yang dipelajari dalam kelompok kooperatif.

Ironisnya, metode pembelajaran cooperatif learning ini belum banyak diterapkan dalam pendidikan walaupun orang Indonesia sangat membanggakan sikap gotong royong dalam kehidupan masyarakat.

Kebanyakan pengajar enggan menerapkan system kerjasama didalam kelas karena beberapa alasan. Alasan yang utama adalah kekhawatiran bahwa akan terjadi kekacauan di kelas dan siswa tidak belajar jika mereka di tempatkan dalam grup.

Selain itu, banyak orang memiliki kesan negatif mengenai kegiatan kerja sama atau belajar dalam kelompok. Banyak siswa juga tidak senang disuruh bekerja sama dengan yang lain.

Siswa yang tekun merasa harus bekerja melebihi siswa yang lain dalam grup mereka. Sedangkan siswa yang kurang mampu, minder, ditempatkan dalam satu grup dengan siswa yang lebih pandai. Siswa yang tekun akan merasa temannya yang kurang mampu hanya menumpang saja pada hasil jerih payah mereka.

a. Penerapan Metode Diskusi

Metode pembelajaran Diskusi merupakan salah satu dari sekian banyak teknik dalam metode pembelajaran kooperatif yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling berkomunikasi secara aktif dalam menyelesaikan tugas-tugas mereka.

Metode pembelajaran ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat, dan mengungkapkan bahwa metode pembelajaran ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan semua tingkatan anak didik .

Dalam metode pembelajaran ini, siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil, kemudian setiap anggota kelompok masing-masing tersebut. Setiap kelompok kemudian diberi pertanyaan-pertanyaan berbentuk Lembar Diskusi Siswa (LDS) untuk dijawab dalam kurun waktu yang telah ditentukan.

Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, mereka diskusi untuk memutuskan jawaban yang paling tepat dan harus memastikan bahwa setiap anggota kelompok mengetahui jawabannya.

Karena selanjutnya pertanyaan-pertanyaan tersebut akan dibahas secara keseluruhan dalam diskusi kelas secara acak (random) dengan dipimpin oleh guru. Artinya, guru akan memanggil secara acak (random) kelompok serta nomor siswa yang harus melaporkan hasil kerjasama mereka.

Jika siswa menjawab dengan benar, kelompoknya akan mendapat satu point. Hingga akhirnya akan diputuskan kelompok terbaik pada saat itu di akhir proses pembelajaran, yaitu yang mengumpulkan point yang paling banyak.

Pengelompokan dalam metode pembelajaran ini berupa pengelompokan heterogen yang mempunyai ciri yang menonjol dalam pembelajaran kooperatif .

Pengelompokan heterogen ini pula yang membedakan pembelajaran kooperatif dan belajar kelompok secara tradisional yang biasanya berupa pengelompokan homogen.

Heterogenitas kelompok ini bisa dibentuk dengan memperhatikan keanekaragaman gender, latar belakang, sosial ekonomi dan etnik serta kemampuan akademis.

Dalam hal kemampuan akademik, kelompok belajar kooperatif biasanya terdiri dari siswa berkemampuan akademis tinggi, sedang dan kemampuan akademis kurang.

Pengelompokkan tersebut bertujuan supaya siswa berkemampuan akademis tinggi akan membantu teman-teman sekelompoknya yang lain yang berkemampuan akademis lebih rendah, walau bagi siswa yang berkemampuan akademis sedang hal ini tidak terlalu diperlukan.

Kelompok heterogen ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk slaing mengajar (peer tutoring) dan saling mendukung sehingga memudahkan pengelolaan kelas karena dengan adanya satu orang yang berkemampuan akademis tinggi, guru mendapatkan satu asisten untuk anggota lain dalam satu kelompoknya.

Pengelompokan bisa sering diubah (untuk setiap kegiatan) atau dibuat agak permanen, misalnya siswa tetap dalam kelompok yang sama selama satu caturwulan atau satu semester. Masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan.

Jika kelompok sering diubah, siswa akan mempunyai lebih banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan siswa-siswa yang lainnya. Namun membentuk kelompok-kelompok baru ini akan memakan waktu, baik itu waktu persiapan maupun waktu di kelas.

Dalam metode pembelajaran kooperatif, penataan ruang kelas perlu memerhatiakan prisip-prinsip tertentu. Bangku perlu ditata sedemikian rupa sehingga semua siswa dapat melihat guru atau papan tulis dengan jelas serta melihat rekan-rekan kelompoknya dengan baik dan berada dalam jangkauan kelompoknya dengan merata.

Kelompok-kelompok yang dibentuk ini dapat berada dalam proses dekat satu sama lain tetapi tidak menganggap antara satu kelompok dengan kelompok lainnya.

b. Pembelajaran IPA dengan Menggunakan Metode Diskusi

Metode punya andil yang cukup besar dalam kegiatan bel;ajar mengajar. Kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki anak didik, akan ditentukan oleh kerelevansian penggunaan suatu metode yang sesuai dengan tujuan.

Itu berarti tujuan pembelajara akan dapat tercapai dengan penggunaan metode yang tepat. Sesuai dengan standar keberhasilan yang terpatri dalam suatu tujuan. Metode yang dapat dipergunakan dalam kegiatan belajar mengajar bermacam-macam. Penggunaannya tergantung dari rumusan tujuan.

Dalam mengajar jarang ditemukan guru yang menggunakan satu metode, tetapi kombinasi dari dua atau beberapa metode. Penggunaan metode dimaksud untuk menggairahkan peserta didik.

Dengan bergairahnya belajar anak didik tidak sukar untuk mencapai tujuan pengajaran. Karena bukan aura yang memaksakan anak didik untuk mencapai tujuan, tetapi anak didiklah yang sadar untuk mencapai tujuan .

Dalam kegiatan belajar mengajar terdapat dua hal ikut menentukan keberhasilan, yakni pengaturan proses belajar megajar, dan pengajaran itu sendiri dan keduanya mempunyai saling ketergantungan satu sama lain.

Kemampuan mengatur proses belajar mengajar yang baik, akan menciptakan situasi yang memungkinkan anak belajar. Sehingga merupakan titik awal keberhasilan pengajaran. Siswa dapat belajar dalam suasana wajar, tanpa tekanan dan dalam kondisi yang merangsang untuk belajar.

Dalam kegiatan belajar mengajar siswa memerlukan sesuatu yang memungkinkan berkomunikasi secara baik dengan guru, teman, maupun lingkungannya. Kebutuhan akan bimbingan, bantuan, dan perhatian guru yang berbeda untuk setiap individu siswa .

c. Sebelum menggunakan metode Diskusi

Yang diterapkan dikelas, diberikan tes awal (pretes) terlebih dahulu. Fungsi dari tes ini adalah :

1. Mempersiapkan peserta didik dalam proses belajar maka dengan pretes maka pikiran mereka akan terfokus pada soal-soal yang akan mereka kerjakan.

2. Untuk mengetahui tingkat kemajuan peserta didik sehubungan dengan proses pembelajaran yang dilakukan. Hal ini dapat dilakukan dengan membandingkan hasil pretes dengan postes.

3. Untuk mengetahui kemampuan awal yang telaah dimiliki oleh peserta didik mengenai ajaran yag yang akan dijadikan topic dalam proses pembelajaran .

Langkah-langkah penerapan metode Diskusi yaitu sebagai berikut : Siswa dibagi dalam kelompok. Setiap kelompok terdiri dari beberapa siswa. Guru memberikan tugas dan msing-masing kelompok mengerjakannya.

Kelompok memutuskan jawaban yang paling benar dan memastikan setiap kelompok mengetahui jawaban ini. Guru memanggil salah satu kelompok. Kelompok siswa yang dipanggil melaporkan hasil kerjanya.

Dalam penerapan metode Diskusi memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide dan memepertimbangkan jawaban yang paling tepat dan benar. Selain itu, teknik ini juga mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerjasama mereka.

Untuk mengetahui apakah ada peningkatan terhadap prestasi belajar sesudah mendapat pengajaran, maka diberikan tes akhir (protes). Fungsi dari tes ini adalah :

1. Mengetahui tingkat penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang telah ditentukan baik secara individu ataupun kelompok.

2. Untuk mengetahui kompetensi dan tujuan-tujuan yang dapat dikuasi oleh peserta didik, serta kompetensi dan tujuan-tujuan yang belum dikuasai.

3. Untuk mengetahui peserta didik yang mengalami kesulitan dalam belajar.

4. Sebagai bahan acuan untuk melakukan perbaikan terhadap proses pembelajaran yang telah dilaksanakan, baik dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasi.

Pada karya ilmiah, wajib menyertakan hasil penelitian yang telah dilakukan sendiri di lapangan. Kamu bisa mempelajari cara menyusun hasil penelitian pada contoh karya ilmiah ini. Silahkan pelajari contoh hasil penelitian di bawah ini.

BAB III
HASIL PENELITIAN

A. DESKRIPSI DATA OBJEK PENELITIAN
1. Sejarah berdirinya SD ANANDA kecamatan Gunungputri

Dalam pembahasan ini penulis akan memberikan gambaran tentang sejarah berdirinya Sekolah ANANDA. Sesuai dengan hasil penelitian yang penulis dapatkan.

Sekolah ini merupakan sekolah Swasta Yayasan yang berdiri pada 09 Januari 2006 sesuai dengan akta notaris no 06. Dengan ijin Disdik 21.1/576/Disdik/2002&421.2/075/Disdik/2008. Bermula dari mengelola TK ANANDA, setahun kemudian barulah mendirikan Sekolah Dasar Umum dan Sekolah Menengah Pertama.

Sekolah ANANDA bediri diatas tanah seluas 2000 M2 dan telah terakreditasi A oleh BAN-S/M tahun 2009. Dan dibangun menjadi 3 lantai, untuk sementara yang baru beroperasi dua lantai karena lantai 3 direncanakan untuk SMP dan pada saat ini siswa SMP baru tahun pertama.

2. Visi, Misi dan Tujuan Sekolah

Visi : Menjadi salah satu sekolah umum unggulan di Indonesia yang diakui mutunya.

Misi :

1. Menghasilkan lulusan yang berkualitas, cerdas, berakhlak mulia, sehat jasmani dan rohani serta mampu bersaing dengan lulusan sekolah lainnya.

2. Menyiapkan generasi yang unggul dibidang iptek.

3. Menumbuhkan penghayatan terhadap ajaran agama sehingga terbangun insan yang saleh, cendekia, dan berbudi pekerti luhur.

4. Membentuk sumber daya manusia yang aktif , kreatif, inovatif, dan berprestasi sesuai dengan perkembangan zaman.

5. Membangun citra sekolah sehingga mitra terpercaya di masyarakat.

6. Melaksanakan pembelajaran yang efektif

7. Menyediakan sarana dan prasarana yang diperlukan dalam kegiatan belajar siswa untuk mendukung pengembangan potensi peserta didik agar berkembang secara optimal.

8. Memberikan jaminan pelayanan yang prima dalam berbagai hal untuk mendukung proses belajar mengajar yang harmonis dan selaras.

Tujuan : Terdepan, terbaik, dan terpercaya dalam hal :

1. Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
2. Pengembangan potensi, kecerdasan dan minat.
3. Perolehan nilai UAN
4. Persaingan masuk jenjang SMP dan MTs
5. Berbagai kompetisi akademik dan nonakademik
6. Persaingan secara global.
7. Pelayanan.
8. Letak Geografis SD ANANDA.

Secara geografis, SD ANANDA terletak di Kp. Parung, Jalan Yaspiar no. 37 Bojong Kulur, Gunungputri, Bogor. SD ANANDA terletak di antara perumahan Bumi Mutiara, Villa Nusa Indah V, dan Villa Nusa Indah III.

Struktur Organisasi SD ANANDA Kecamatan Gunungputri

3. Keadaan guru SD ANANDA

Kualifikasi guru SD ANANDA digambarkan pada table berikut ini :

Tabel 1
DATA PENDIDIK / GURU DAN STAFF

No Nama Guru NUPTK Jabatan Status Ket.
1. Vera Bulan DL Tobing 1562742645300023 Kepala Sekolah GTY –
2. Ayu Devi Fifi Yanti 0547743646300093 Guru Kelas II GTY 30 Jp
3. Nemsi Pakpahan 5062744645300013 Guru Kelas II GTY 32 Jp
4. Abdul Manan, S.Pd 9650755657200022 Guru Kelas IV GTY 28 Jp
5. Tumiar Pasaribu 6538753655300042 Guru Kelas III GTY 32 Jp
6. Elli Yulia, S. Pd 0035755657300093 Guru Kelas II GTY 32 Jp
7. Janer Sinambela, S. Pd 0052761663200043 Guru TIK GTY 18 Jp
8. Rohayati Nainggolan Guru Kelas I GTY 32 Jp
9. Inarima Guru Kelas V GTY 32 Jp
10. Syaifullah Ahmad Guru Orkes GTY 26 Jp
11. Henni Sugianti Guru Kelas GTY 17 Jp
12. Etty Clara Guru Bantu GHY 30 Jp
13. Dwi Wijanarti Guru Kelas VI GTY 36 Jp
14. Rena Fresty Guru Bahasa Inggris GTY 34 Jp
15. Lidwina H Guru Kelas II GTY 18 Jp
16. Evi Komalasari, S. Pd Guru Kelas IV GTY 30 Jp
17. Titin Hadiyanti Guru Komputer GTY 26 Jp
18. Dedy Renaldi, S. Sos Guru Kesenian GTY 17 Jp
19. Melan B.S

4. Keadaan Siswa SD ANANDA

Sebagaimana telah di kemukakan diatas, Sekolah Dasar ANANDA terus mengalami peningkatan (jumlah siswanya) dari tahun ke tahun, untuk lebih jelasnya dilihat table berikut ini :
Tabel 2

KEADAAN SISWA TAHUN PELAJARAN 2011 – 2012

NO Kelas Laki-laki Perempuan Jumlah
1 I 25 23 48
2 II 12 15 27
3 III 21 15 36
4 IV 23 23 46
5 V 20 23 43
6 VI 19 13 32

Tabel 3
KEADAAN SISWA DARI TAHUN PERTAMA HINGGA SEKARANG
No Bulan Kls I Kls II Kls III Kls IV Kls V Kls VI Jmlh
1. Juli 48 27 38 46 43 32 234
2. Agustus 48 27 38 46 43 32 234
3. September 48 27 38 46 43 32 234
4. Oktober 48 27 38 46 43 32 234
5. November 48 27 38 46 43 32 234
6. Desember 48 27 38 46 43 32 234
7. Januari 48 27 38 46 43 32 234
8. Februari 48 27 38 46 43 32 234
9. Maret 48 27 38 46 43 32 234
10 April 48 27 38 46 43 32 234
11. Mei
12. Juni

GRAFIK GRG
GRAFIK PERKEMBANGAN JUMLAH SISWA

5. Sarana Dan Prasarana

SD ANANDA adalah salah satu sekolah swasta umum yang di dalamnya memerlukan sarana dan prasarana baik berupa gedung maupun peralatan sekolah lainnya.

Tabel 4

SARANA DAN PRASARANA SD ANANDA

No Nama Bangunan atau Barang Jumlah Ukuran
1. Ruang Belajar 11 Ruang 6 x 7 m
2. Ruang Kepala Sekolah 1 Ruang 4 x 4 m
3. Ruang Guru 1 Ruang 7 x 8 m
4. Ruang Pos Satpam 1 Ruang 2 x 2 m
5. WC Guru 2 Ruang 2 x 2 m
6. WC Murid 4 Ruang 1,5 x1,5 m
7. Lapangan Upacara 1 Halaman Luas
8. Meja Murid 200 45 x 100 x 70 cm
9. Kursi Murid 400 35 x 110 x 45 cm
10. Lemari Guru 10 50 x 165 x 150 cm
11. Meja Guru 11 45 x 100 x 70 cm
12. Kursi Guru 22 50 x 165 x 150 cm
13. Papan tulis 11 122 x 240 cm
14. Lab. IPA 1 Ruang 4 x 3 m
15. Lab. Komputer 1 Ruang 8 x 8 m
16. UKS dan Perpustakaan 1 Ruang 2 x 3 m
17. Musholla 1 Ruang 15 x 15 m
18. Kantin 1 Ruang 2 x 2 m
19. Tempat Parkir 1 Halaman Luas

Administrasi sekolah yang ada di Sekolah ANANDA meliputi bebrapa administrasi yaitu:

a. Administrasi Akademik

• Silabus
• Program Semester I dan II
• Silabus Pembelajaran Tematik
• Jadawal kegiatan pembelajaran
• Rencana kerja tahunan
• RPP

b. Administari kesiswaan

• Buku induk
• Buku mutasi
• Rangkuman mutasi
• Rekapitulasi keadaan siswa
• Daftar hadir murid
• Jurnal kemajuan

c. Administarsi kepegawaian

• Keadaan guru
• Daftar hadir guru
• Data pegawai

d. Administrasi humas

• Buku tamu Dinas
• Buku tamu Umum
• Agenda surat masuk dan keluar
• Ekspedisi

e. Administrasi sarana dan prasarana

• Buku daftar inventaris
• Buku penerimaan
• Daftar alat-alat inventaris

f. Administrasi kelas

• Diagram organisasi
• Jadwal piket
• Jadwal pelajaran
• Absen murid
• Grafik absen

6. Kegiatan Ekstra Kurikuler

Untuk meningkatkan mutu pendidikan, kegiatan ekstra kurikuler di SD ANANDA selain mengadakan kegiatan belajar menajar inti sesuai dengan kurikulum sekolah ini juga mengadakan kegiatan ekstra kurikuler yang menggunakan sisa waktu yang ada, terutama pada hari sabtu. Yaitu, futsal, karate, menari, bahasa inggris dan komputer.

B. FAKTA DAN DATA YANG DITEMUKAN DI LAPANGAN

Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi, serat pembatasan fokus penelitian yang telah diuraikan diatas, maka perumusan masalah didalam penelitian ini adalah sebagi berikut:

1. Pelaksanaan penggunaan metode diskusi terhadap siswa kelas V SD ANANDA dalam meningkatkan pemahaman pembelajaran IPA.

Penggunaan Metode Diskusi dalam Kegiatan Pembelajaran IPA di kelas V SD ANANDA , fakta dan temuan lapangan yang terlihat jelas dari pelaksanaan penggunaan metode diskusi dalam proses pembelajaran IPA adalah saat peneliti melakukan diskusi langsung dikelas V, pada bab Struktur Bumi dan Matahari.

Dalam diskusi tersebut, dilakukan pembuktian bahwa Bumi dan Matahari tersusun dari lapisan-lapisan. Berikut merupakan langkah-langkah dalam pelaksanaan penggunaan metode Diskusi tersebut adalah:

a. Siswa dibagi dalam kelompok kecil, yang terdiri dari beberapa siswa
b. Guru memberikan tugas, dan masing-masing kelompok mengerjakannya
c. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya / mengetahui jawabannya
d. Guru memanggil salah satu kelompok siswa, kelompok yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka
e. Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menanggil kelompok lainnya secara bergantian.
f. Kesimpulan

2. Tingkat pemahaman pembelajaran IPA terhadap siswa kelas V setelah dipergunakan metode diskusi.

Setelah dilakukan metode diskusi dalam pembelajaran, siswa dapat terlatih cara berfikir yang ilmiah dan mampu menemukan sendiri berbagai jawaban, dengan diskusi siswa mampu menemukan hasil kebenaran dan teori yang dipelajari dan siswapun mampu mengerjakan tugas dengan benar dan pembelajaranpun dapat menyenangkan dan tidak monoton.

Siswapun tidak merasakan kejenuhan dalam pelaksanaan pelajaran IPA. Setelah dilakukan tes pencapaian hasil belajar, maka didapatkan hasil sebagai berikut :

Tabel 5

NILAI ULANGAN HARIAN SISWA DALAM MENJAWAB SOAL-SOAL IPA
no Nama Siswa Nilai TES KKM
1 Adine Elysa 92 >KKM
2 Alina Libna Rosa 92 >KKM
3 Angelica Aurelia 72 >KKM
4 Argi Agustino 52 KKM
6 Bagus Jordan 92 >KKM
7 Belina Patricia 100 >KKM
8 Benardo Silaban 92 >KKM
9 Clara Novita Berliana 92 >KKM
10 Daniel Eben Siagian 76 >KKM
11 Diva Dinar Fasya 68 >KKM
12 Ellysa Forarti 64 KKM
14 Enike J. Valerie 80 >KKM
15 Giovanni Septiananda 84 >KKM
16 Gupita Ad 68 >KKM
17 Hizkia Darmawantoro 96 >KKM
18 Hizkia Ricky Martin 68 >KKM
19 Jeremy Marchelino 76 >KKM
20 Juan Vito 88 >KKM

3. Hasil belajar IPA siswa kelas V SD ANANDA setelah mengikuti pelajaran menggunakan metode Diskusi.

Hasilnya mengalami peningkatan yang sangat baik, data ini diambil dari data yang diperoleh dari guru kelas peneliti sendiri data-data tersebut diambil dari hasil ulangan siswa, nilai PR siswa dan dari hasil soal test yang diberikan oleh peneliti kepada siswa.

Dari data tersebut dapat diperoleh hasil belajar siswa yang sangat baik, ykni hanya 8% siswa saja yang belum berhasil mencapai nilai criteria ketuntasan minimal (KKM), sedangkan 92% yang lainnya telah berhasil mencapai/ melebihi nilai KKM, yakni di atas nilai 65.

Selanjutnya bagian yang sangat penting dari karya tulis ilmiah ialah bagian analisa hasil penelitian. Pada contoh karya ilmiah ini, kita telah memberikan contoh yang bisa kamu pelajari di bawah ini.

BAB IV
ANALISA HASIL PENELITIAN

A. Data Temuan Hasil Penelitian
1. Pelaksanaan penggunaan metode diskusi terhadap siswa kelas V Sekolah Dasar dalam meningkatkan pemahaman pembelajaran IPA

“Moh Uzer, Usman dan Lilies Setiawati bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku pada diri individu berkata adanya interaksi antara individu dengan lingkungan sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya.”

Temuan dilapangan yang terlihat jelas dari pelaksanaan penggunaan metode diskusi dalam proses pembelajaran IPA adalah saat peneliti melakukan praktek langsung dikelas V, pada bab Struktur bumi dan matahari dalam kehidupan sehari-hari.

Diskusi tersebut, dilakukan untuk membuktikan bahwa bumi dan matahari tersusun dari lapisan-lapisan. Berikut merupakan langkah-langkah dalam pelaksanaan metode diskusi tersebut:

a. Siswa dibagi dalam kelompok kecil, yang terdiri dari beberapa siswa

b. Guru memberikan tugas, dan masing-masing kelompok mengerjakannya

c. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya / mengetahui jawabannya

d. Guru memanggil salah satu kelompok siswa, kelompok yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka

e. Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menanggil kelompok lainnya secara bergantian.

f. Kesimpulan

Dari kegiatan diskusi yang dilakukan, para siswa dapat mengalami keterlibatan fisik dan mental serta emosional. Siswa juga mendapat kesempatan untuk melatih kekompakan dalam melaksanakan IPA.

Terbukti sebanyak 92% dari siswa dapat memahami diskusi yang mereka lakukan, serta 84% dari siswa dapat menyimpulkan hasil diskusi yang mereka lakukan.

Dengan kegiatan diskusi yang mereka lakukan mereka mengalami pengalaman yang dialami secara langsung sehingga dapat tertanam dalam ingatannya. Dimana 96% dari mereka menyatakan bahwa setelah melakukan diskusi, mereka dapat memahami pelajaran yang disampaikan oleh guru.

2. Tingkat Pemahaman Pembelajaran IPA Terhadap Siswa Kelas V Setelah dipergunakan Metode Diskusi.

“W.S Winkel bahwa belajar adalah suatu aktivitas mental psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan sikap.”

Setelah dilakukan metode diskusi dalam pembelajaran, siswa dapat terlatih cara berfikir yang ilmiah dan mampu menemukan sendiri berbagai jawaban.

Dengan diskusi siswa mampu menemukan hasil kebenaran dan teori yang dipelajari dan siswapun mampu mengerjakan tugas dengan benar dan pembelajaranpun dapat menyenangkan dan tidak monoton. Siswapun tidak merasakan kejenuhan dalam pelaksanaan pelajaran IPA.

3. Hasil Pembelajaran IPA yang Menggunakan Metode Diskusi Pada Siswa Kelas V SD ANANDA.

Setelah dilakukan pelaksanaan metode diskusi dalam pembelajaran IPA, peneliti memberikan tes pencapaian hasil belajar terhadap para siswa yang menjadi sampel dalam penelitian dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM) 65 untuk mengetahui tingkat hasil pembelajaran IPA dengan menggunakan metode diskusi.

Hasil pembelajaran IPA dengan menggunakan metode diskusi.dari hasil yang dicapai oleh para siswa, diketahui berapa besar nilai prosentase siswa yang mencapai nilai KKM dan prosentase siswa yang tidak mencapai nilai KKM.

Selain itu, hasil dari pembelajaran IPA yang menggunakan metode diskusi berdampak pada cara belajar siswa dimana siswa ikut terjun langsung dan terlibat dalam proses pembuktian suatu teori dengan melakukan pengalaman praktis yang sederhana dan mudah. Setelah dilakukan tes pencapaian hasil belajar, maka didapat hasil diskusi sebagai berikut :

Tabel 6
NILAI ULANGAN HARIAN SISWA DALAM MENJAWAB SOAL-SOAL IPA
no Nama Siswa Nilai TES KKM
1 Adine Elysa 92 >KKM
2 Alina Libna Rosa 92 >KKM
3 Angelica Aurelia 72 >KKM
4 Argi Agustino 52 KKM
6 Bagus Jordan 92 >KKM
7 Belina Patricia 100 >KKM
8 Benardo Silaban 92 >KKM
9 Clara Novita Berliana 92 >KKM
10 Daniel Eben Siagian 76 >KKM
11 Diva Dinar Fasya 68 >KKM
12 Ellysa Forarti 64 KKM
14 Enike J. Valerie 80 >KKM
15 Giovanni Septiananda 84 >KKM
16 Gupita Ad 68 >KKM
17 Hizkia Darmawantoro 96 >KKM
18 Hizkia Ricky Martin 68 >KKM
19 Jeremy Marchelino 76 >KKM
20 Juan Vito 88 >KKM

Berikut merupakan tabel hasil angket mengenai penggunaan metode diskusi yang dilakukan dikelas V:

Tabel 7
TABEL PENGGUNAAN METODE DISKUSI DIKELAS V

NO PERTANYAAN YA TIDAK
F % F %
1 Apakah pernah dilakukan penggunaan metode diskusi dalam pelajaran IPA disekolah ? 20 100% 0 0%
2 Apakah kamu paham dengan diskusi yang dilakukan ? 18 92% 2 8%
3 Apakah dalam penggunaan metode diskusi terasa mudah ? 17 88% 3 12%
4 Apakah kamu menemui kesulitan dalam penggunaan metode diskusi ? 4 24% 16 76%
5 Apakah kamu ingin mencoba melakukan diskusi yang sudah kamu lakukan disekolah untuk dilakukan dirumah bersama teman-temanmu? 16 76% 4 24%
6 Apakah guru menjelaska diskusi apa yang dilakukan? 19 96% 1 4%
7 Apakah kamu bisa menarik kesimpulan dari diskusi yang sudah kamu lakukan? 17 84% 3 16%
8 Apakah kamu suka dengan penggunaan metode kepala bernomor yang kemu lakukan ? 20 100% 0 0%
9 Apakah setelah melakukan diskusi kamu paham dengan pelajaran yang disampaikan guru? 19 96% 1 4%
10 Apakah diskusi yang kamu lakukan dapat membuktikan sesuatu? 17 86% 3 14%
Jumlah 167 842% 33 158%

Hasil rata-rata 167/10
= 16.7
=17 842/10
=84,2
=84,2% 33/10
=3.3
=3 158/10
=15.8
=15,8%

Analisa hasil angket penggunaan metode diskusi

1. Berdasarkan data tabel diatas, responden yang menyatakan pernah dilakukan diskusi IPA disekolahnya, ya 100% dan tidak 0%.

2. Responden yang paham dengan diskusi yang dilakukan, ya 92% dan tidak 8%

3. Responden yang menyatakan diskusi yang dilakukan mudah, ya 88% dan tidak 12%

4. Responden yang menemui kesulitan saat melakukan diskusi, ya 24% dan tidak 76%

5. Responden yang ingin mencoba diskusi yang sudah dilakukan disekolah untuk dilakukan dirumah, ya 76% dan tidak 24%

6. Responden yang menyatakan bahwa guru menjelaskan tentang diskusi apa yang dilakukan, ya 96% dan tidak 4%

7. Responden yang bisa menarik kesimpulan dari diskusi yang sudah kamu lakukan, ya 84% dan tidak 16%

8. Responden yang suka dengan diskusi yang dilakukan, ya 100% dan tidak 0 %

9. Responden yang setelah melakukan diskusi, paham dengan poelajaran yang disampaikan guru, ya 96% dan tidak 4%

10. Responden yang menyatakan bahwa diskusi yang dilakukan dapat membuktikan sesuatu, ya 86%, dan tidak 14%

Jadi 17 siswa dengan rata-rata 85% menjawab ya, 3 siswa dengan rata-rata 15% menjawab tidak

Dari tabel diatas terlihat bahwa nilai yang dicapai oleh para siswa cukup memuaskan. Yakni hanya 12% dengan jumlah 2 siswa saja yang belum berhasil mencapai nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM). Sedangkan 88% dengan jumlah 18 siswa yang telah berhasil mencapai/melebihi nilai KKM, yakni diatas nilai 65.

B. Analisa Data

Setelah data terkumpul dan dihitung banyaknya frekuensi dengan klasifikasi alternatif jawaban angket, lalu data diolah menggunakan prosentase. Analisis data menggunakan tabel prosentase dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Membuat tabel dengan alternatif jawaban, frekuensi dan prosentasenya.

2. Mencari frekuensi dengan cara menjumlahkan nilai dari setiap alternatif jawaban.

3. Mencari frekuensi keseluruhan dengan menjumlahkan frekuensi-frekuensi dari setiap alternatif jawaban.

4. Mencari perhitungan frekuensi dengan rumus :

P= F/N X 100 %
Keterangan:

P :Prosentase yang dicari
F :Jumlah pemilih dalam setiap jawaban
N :Jumlah sampel
100% :Bilangan tetap

5. Melaksanakan analisa dan menafsirkan berdasarkan data yang telah diolah sebagai hasil jawaban responden

C. Analisa Angket
1. Pelaksanaan Penggunaan Metode Diskusi dalam Pembelajaran IPA di SD ANANDA Kecamatan Gunungputri

a. Hasil Angket

Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa siswa kelas V SD ANANDA mengalami peningkatan yang sangat baik hal ini dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 8
TABEL PEMAHAMAN METODE DISKUSI

No Pernyataan Ya Tidak
F % F %
1 Apa kamu suka pelajaran IPA? 20 100% 0 0%
2 Apakah kamu merasa kesulitan saat menjawab soal latihan yang berhubungan dengan diskusi yang telah kamu lakukan? 18 92% 2 8%
3 Apakah kamu merasa lebih bersemangat belajar IPA jika dilakukan diskusi? 17 88% 3 12%
4 Apakah belajar IPA terasa sangat membosankan? 4 24% 16 76%
5 Apakah pelajaran IPA terasa sulit? 16 76% 4 24%
6 Apakah nilai IPA diraportmu bagus? 19 96% 1 4%
7 Apakah kamu ingin menjadi seorang ilmuwan? 17 84% 3 16%
8 Apakah kamu memperhatikan alam semesta? 20 100% 0 0%
9 Apakah dengan belajar IPA, kamu lebih mencintai lingkungan? 19 96% 1 4%
10 Apakah dengan belajar IPA, kamu semakin ingin tahu tentang teknologi? 17 84% 3 16%
Jumlah 167 840% 33 160%

Hasil rata-rata 167/10
= 16.7
=17 840/10
=84
=84% 33/10
=3.3
=3 160/10
=16
=15%

2. Hasil Pembelajaran IPA yang Menggunakan Metode Diskusi di SD ANADA Kecamatan Gunungputri

a. Hasil Angket
Tabel 9
HASIL PEMBELAJARAN IPA

No Pernyataan Alternatif Jawaban
F Ya F Tidak
1 Apa kamu suka pelajaran IPA? 19 96% 1 4%
2 Apakah kamu merasa kesulitan saat menjawab soal latihan yang berhubungan dengan diskusi yang telah kamu lakukan? 4 20% 16 80%
3 Apakah kamu merasa lebih bersemangat belajar IPA jika dilakukan diskusi? 20 100% 0 0%
4 Apakah belajar IPA terasa sangat membosankan? 1 4% 19 96%
5 Apakah pelajaran IPA terasa sulit? 4 20% 16 80%
6 Apakah nilai IPA dirapotmu bagus? 18 88% 2 12%
7 Apakah kamu ingin menjadi seorang ilmuwan? 17 72% 3 28%
8 Apakah kamu memperhatikan alam semesta? 18 92% 2 8%
9 Apakah dengan belajar IPA, kamu lebih mencintai lingkungan? 19 96% 1 4%
10 Apakah dengan belajar IPA, kamu semakin ingin tahu tentang teknologi? 18 92% 2 8%

b. Analisa Hasil Angket Hasil Pembelajaran IPA

1. Berdasarkan data tabel diatas, responden yang menyukai pelajaran IPA, ya 96% dan tidak 4%

2. Responden yang merasa kesulitan saat menjawab soal latihan yang berhubungan dengan diskusi yang telah dilakukan, ya 20% dan tidak 80%

3. Responden yang bersemangat belajar IPA jika dilakukan diskusi, ya 100% dan tidak 0%

4. Responden yang menyatakan bahwa belajar IPA terasa membosankan, ya 4% dan tidak 96%

5. Responden yang menyatakan bahwa pelajaran IPA terasa sulit, ya 20% dan tidak 12%

6. Responden yang mendapatkan nilai IPA yang bagus dirapot, ya 88% dan tidak 12%

7. Responden yang ingin menjadi seorang ilmuwan, ya 72% dan tidak 28%

8. Responden yang suka memperhatikan alam semesta, ya 92% dan tidak 8%

9. Responden yang menyatakan dengan belajar IPA lebih mencintai lingkungan, ya 96% dan tidak 4%

10. Responden yang dengan belajar IPA semakin ingin tahu tentang teknologi, ya 92%, dan tidak 8%

D. Pembahasan Data

Berdasarkan data hasil peneltian yang tertera pada tabel-tabel diatas dapat diketahui bahwa metode diskisi mampu memberikan kondisi belajar yang dapat mengembangkan kemampuan berfikir dan kreatifitas secara optimal.

Siswa diberi kesempatan untuk menyusun sendiri konsep-konsep dalam struktur kognitifnya, selanjutnya dapat diaplikasikan dalam kehidupannya.

Hal ini terbukti dari pertanyaan yang diajukan kepada responden mengenai pernyataan mereka bahwa dengan dilakukan metode diskusi, 96% dari mereka lebih memahami pelajaran yang disampaikan.

Responden merasa tidak kesulitan dalam menjawab tes yang diberikan guru, sebanyak 80% responden yang menyatakan tidak merasa kesulitan saat menjawab soal latihan yang berhubungan dengan diskusi.

Dan 88% dari mereka menyatakan bahwa diskusi yang mereka lakukan dapat membuktikan suatu teori.

Dalam metode diskusi, guru dapat melibatkan keterlibatan fisik dan mental, serta emosional siswa. Siswa mendapat kesempatan untuk melatih keterampilan proses agar memperoleh hasil belajar yang maksimal.

Pengalaman yang dialami secara langsung dapat tertanam dalam ingatannya. Keterlibatan fisik dan mental serta emosional siswa diharapkan dapat diperkenalkan pada suatu cara atau kondisi pembelajaran yang dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan juga perilaku yang inovatif dan kreatif.

Pembelajaran dengan metode diskusi melatih dan mengajarkan siswa untuk belajar konsep fisika sama halnya dengan seorang ilmuwan fisika. Diantara para responden, 72% diantaranya ingin menjadi seorang ilmuwan.

Dimana seorang siswa belajar dengan aktif dengan mengikuti tahap-tahap pembelajarannya dengan demikian, siswa akan mennemukan sendiri konsep sesuai dengan hasil yang diperoleh selama pembelajarannya.

Penerapan pembelajaran dengan metode diskusi akan membantu siswa untuk memahami konsep. Pemahaman konsep dapat diketahui apabila siswa mampu mengutarakan secara lisan, tulisan, maupun aplikasi dalam kehidupannya.

Dengan kata lain, siswa memiliki kemampuan untuk menjelaskan, menyebutkan, memberikan contoh, dan menerapkan konsep terkait dengan pokok bahasan.

Dalam proses belajar mengajar dengan metode diskusi ini siswa diberikan kesemapatan untuk mencari sendiri atau melakukan sendiri jawaban permasalahan mengenai suatu objek.

Dengan demikian, siswa dituntut untuk mengalami sendiri, mencari kebenaran, atau mencoba mencari suatu hukum atau dalil, dan menarik kesimpulan atas proses yang dialaminya. Sejumlah 84% responden menyatakan bahwa mereka dapat menarik kesimpulan dari diskusi yang mereka lakukan.

Dari hasil data menarik kesimpulan 86% atas proses yang dialaminya itu. Sejumlah 86% responden menyatakan bahwa mereka dapat menarik kesimpulan diskusi yang dilakukan.

Dengan demikian, dapat diperoleh hasil pembelajaran IPA yaitu berupa:

1. Kemampuan siswa untuk mengetahui apa yang di pelajari.

2. Kemampuan siswa untuk memprediksi apa yang belum di pelajari, dan kemampuan untuk menguji tindak lanjut hasil diskusi.

3. Siswa dapat mengembangkankan sifat berfikir secara ilmiah.

Dari hasil tes soal IPA, satu orang siswa mendapatkan nilai di atas KKM dan mendapatkan nilai yang tinggi berdasarkan nilai yang didapat, dibandingkan dengan peserta didik lainnya.

Berikut ini adalah data-data peserta didik yang mendpatkan nilai tertinggi dikelas V SD ANANDA sebagai berikut :

1. Nama Siswa : Belina Patricia P.
Umur : 11 tahun.
Jenis kelamin : Perempuan
Nama orang tua : Jhon Pardede
Pekerjaan orang tua : Pegawai swasta
Alamat orang tua : Perumahan Villa II Blok KG 2/17
Bojong Kulur, Gunungputri, Bogor
Pada dasarnya siswa ini mempunyai konsentrasi tinggi karena dapat mengerjakan soal-soal tes IPA dalam waktu 7 menit.

Dari hasil soal tes IPA yang didapat ada 2 orang siswa yang mengalami kesulitan dalam memamahami pembelajara IPA disbanding dengan siswa lainnya. Berikut ini adalah data siswa yang mengalami kesulitan yang ditemukan dikelas V SD ANANDA:

2. Nama siswa : Argi Agustino
Umur : 11 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Nama orang tua : Feri
Pekerjaan orang tua : Pegawai swasta

Alamat orang tua : Perumahan Villa II blok CC/12
Bojong Kulur, Gunungputri, Bogor

Pada dasarnya siswa ini siswa yang pandai, hanya kurang konsentrasi dalam mengerjakan soal IPA, perhatian kedua orang tuanya kurang karena kedua orang tuanya sibuk bekerja.

3. Nama siswa : Ellysa Forarti
Umur : 11 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Nama orang tua : Bahri
Pekerjaan orang tua : Pegawai Swasta
Alamat orang tua : Perumahan Puri Nusa Pala

Pada dasarnya siswa ini pandai hanya saja kurang konsentrasi dan kurang ketelitian dalam mengerjakan soal-soal IPA

Jangan lupa membuat penutup pada karya ilmiah yang kamu susu. Berikut contoh penutup dari contoh karya ilmiah yang kita angkat pada tulisan ini.

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, maka peneliti dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:

• Pelaksanaan pengguna metode diskusi sangatlah efektif dalam menunjang aktifitas pembelajaran IPA dikelas, hal ini dikarenakan metode diskusi memiliki berbagai kelebihan, diantaranya guru dapat mengembangkan keterlibatan fisik dan mental, serta emosional siswa. Dengan penggunaan metode diskusi, siswa dapat terlatih dalam cara berpikir yang ilmiah (scientific thinking) siswa menemukan bukti kebenaran dari teori sesuatu yang dipelajarinya.

• Tingkat pemahaman dalam diskusi terhadap hasil pembelajaran IPA sangatlah besar diantarnya membekali siswa kemampuan untuk mengetahui apa yang diamati, kemampuan untuk memprediksi apa yang belum diamati, dan kemampuan untuk menindak lanjuti hasil diskusi, serta dikembangkannya sikap ilmiah. Pengaruh lainnya ialah siswa menjadi lebih memahami pelajaran yang disampaikan oleh guru dikelas, sehingga mereka dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan.

• Hasil pembelajaran IPA dengan menggunakan metode diskusi terlihat sangat baik dan memuaskan, dari hasil tes pencapaian hasil belajar maka dapat disimpulkan, bahwa sebagian besar siswa mendapat nilai diatas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

B. Saran

Yang dapat peneliti sampaikan kepada beberapa pihak, yakni diantaranya kepada:

1. Guru/Pendidik

• Agar memilih dan menggunakan metode yang tepat dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran, salah satunya adalah penggunaan metode diskusi dalam kegiatan pembelajaran IPA.

• Agar lebih kreatif dan inovatif dalam mengadakan kegiatan pembelajaran dikelas, sehingga siswa merasa lebih termotivasi dalam mengikuti kegiatan belajar dan tidak cenderung bosan.

• Agar melaksanakan metode diskusi dalam pembelajaran IPA dengan terencana dan terarah, sehingga siswa memahami maksud dari pelaksanaan metode diskusi yang mereka lakukan.

• Agar menjelaskan kepada siswa, apa saja yang digunakan dalam pelaksanaan metode diskusi yang akan dilakuakan, serta menjelaskan maksud dan tujuan dari dilakukannya diskusi tersebut.

2. Siswa

• Agar terus menggali wawasan mengenai IPA tidak hanya dari sekolah, namun juga dari luar sekolah.

• Agar memperhatikan materi pelajaran yang disampaikan guru, sehingga dapat menyerap ilmu yang disampaikan oleh guru.

• Agar melakukan kegiatan diskusi dengan aktif dan tertib sehingga mengetahui maksud dari kegiatan diskusi yang dilakukan dengan arahan guru.

 

Akhir Kata

Karya ilmiah beserta contohnya ini bisa kamu temukan diberbagai tempat. Sedangkan dilihat dari berbagai bentuk dan jenisnya maka bisa dinilai bahwa karya ilmiah ini sangatlah dirahasiakan.

Demikianlah ulasan mengenai contoh karya ilmiah yang bisa kamu jadikan sebagai bahan referensi dalam pembuatan karya tulis ilmiah yang benar dan menarik. Terimakasih dan semoga bermanfaat.

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.