37+ Contoh Materi Kultum Singkat dan Menarik

Kultum singkat – Salah satu media dakwah yang sangat efektif dan banyak diamalkan di tengah-tengah masyarakat ialah kegiatan kultum singkat. Dalam kultum singkat, anda bisa menyampaikan berbagai macam ilmu di tengah-tengah masyarakat.

Materi yang disampaikan dalam kultum singkat hendak menarik dan berbobot agar para hadirin yang mendengarkan kultum singkat yang anda sampaikan tertarik dan antusias dengan apa yang anda sampaikan.

Namun seringkali seseorang kesulitan dalam menyusun materi kultum atau ceramah agama yang menarik dan berbobot. Nah, kalau anda membutuhkan materi kultum singkat yang menarik, di sini terdapat beberapa contoh materi kultum singkat yang patut anda coba.

Beberapa contoh materi kultum atau contoh ceramah singkat yang telah kami kumpulkan sangat cocok dijadikan sebagai bahan nasehat islami dalam berbagai forum dan sesuai dengan semua kalangan.

Contoh Kultum Singkat ke-1: Kiat Memaafkan Orang Lain

kultum singkat padat
trikriau.com

Kehidupan sosial kita diwarnai dengan “gesekan” berupa ketersinggungan, kekecewaan, kesalahpahaman, kemarahan, kecemburuan, bahkan perselisihan pendapat, pertengkaran, makian, hujatan, perceraian, pencurian, perampokan, bahkan pembunuhan dan peperangan.

Itulah “gesekan-gesekan” kehidupan sosial. Kita akrab dengan gesekan-gesekan itu. Kita temukan di media massa setiap hari, dan kita alami sebagiannya.

Sisi gelap suasana kehidupan sosial ini sangat menggangu kesenangan dan kebahagiaan kita. Bayangkan bagaimana perasaan anda jika orang yang anda sangat cintai dan dia pun mencintai anda tiba-tiba berubah menjadi sangat membenci anda.

Bayangkanlah bagaimana perasaan Suami-Isteri yang baru saja bercerai, dengan dua anak yang masih kecil-kecil. Bayangkan bagaimana perasaan orang-orang yang bermusuhan, lalu saling memaki, saling menghujat, saling mempermalukan.

Ada baiknya kita memandang sisi gelap suasana batin ini dengan Posotif Thinking / At-Tafkir Al-Ijabi, yaitu bahwa semua itu sebagai pelengkap kehidupan. Dan gesekan itulah yang membuat hidup ini menjadi indah.

Oleh karena keindahan hidup ini salah satu sumbernya ialah fenomena berpasangan. Yaitu bukan hanya pria yang berpasangan dengan wanita, jantan berpasangan dengan betina, tapi langit berpasangan dengan bumi, matahari berpasangan dengan bulan, siang dengan malam, bahkan arus positif berpasangan dengan arus negativ.

Di sisi lain, cinta berpasagan dengan benci, bahagia berpasangan dengan sedih, dst. Pasangan-pasangan kontradiktif itulah yang menjadikan hidup ini indah. Kita tidak akan pernah merasakan nikmat kesehatan jika sekiranya tidak ada penyakit, tidak ada orang yang sakit. Kita tidak merasakan nikmatnya kedamaian jika sekiranya tidak ada kekacauan.

Dengan berfikir positif seperti ini, kita akan menerima gesekan-gesekan hidup ini sebagai penyedap rasa kehidupan ini yang menggairahkan, memotivasi dan mengarahkan hidup ini agar kita senantiasa berada di jalan Allah Swt.

Cara berfikir seperti inilah yang akan membuat kita menjadi orang yang peramah, pemaaf, pendamai yang bahagia dan membahagiakan.

Bila kesalahan dan kekhilafan merupakaan sifat yang ada pada setiap orang, maka semestinya peramah dan pemaaf juga menjadi sifat yang seharusnya kita miliki. Sebah hanya dengan demikian, maka gesekan itu akan memperindah kehidupan kita, akan memperkuat kepribadian kita, dan akan memperkokoh hubungan social kita.

Untuk memaafkan kesalahan orang lain kita memerlukan :

1. Memperbesar rasa cinta dan kasih sayang kepada orang lain.

2. Mengakui dan menyadari seluruh kekurangan dan kekhilafan kita, dan bahwa kita pun menuntut untuk dipahami, dimaklumi, dan dimaafkan.

3. Meyakini bahwa sifat pemaaf itu membahagiakan dan sifat pemarah dan pendendam itu menyusahkan.

4. Meyakini bahwa sifat pemaaf itu – walaupun berat – tapi itulah jalan yang benar untuk memperkuat kepribadian, kedewasaan diri, dan menjadikan kita sebagai orang yang lebih bijak.

5. Meyakini bahwa sifar pemaaf itu, cara efektif untuk meraih Maghfirah / Ampunan dari Allah Swt.
Perjuangan untuk menjadi seorang hamba pemaaf akan mengajarkan kita banyak hikmah, banyak kebahagiaan, kemuliaan dan keindahan suasana batin dan kejernihan pikiran. Itulah ciri orang yang bertaqwa.

الَّذِيْنَ يُنْفِقُونَ فيِ السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالْكَاظِمِيْنَ الغَيْظَ وَالعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِ وَاللهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ ( ال عمران : 134

Artinya : yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, dan memaaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

خُذْ العَفْوَّ وَأْمُر بِالمَعْرُوفِ وَأْعْرِضْ عَنِ الجَاهِلِيْنَ

“ Jadilah engkau pemaaf dan surulah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh” Dan demikianlah janji Allah Swt.

وَلاَ يَأْتَلِ أُوْلُوا الفَضْلِ مِنْكُم وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أولى القُرْبىَ وَالمَسَاكِين وَالمُهَاجِرِيْنَ فيِ سَبِيْلِ الله وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا عَلىَ أَنْ تحُِبُّ أَنْ يَغْفِرَالله ُلَكُم وَاللهَ ُغَفُوْرٌ رَحِيْمٌ ( النـور : 22

“ Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) memberi (bantuan) kepada kaum kerabatnya, orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada, apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu ? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. An-Nur: 22).

Inilah jalan perjuangan kita. Mari kita jalani bergandengan, bersama-sama menuju Rahmat dan Ridha Allah Swt. Semoga contoh ceramah singkat ini bermanfaat.
Wallahul Muwaffiq

Materi Kultum Singkat ke-2: Tentang Ibadah Sosial

Contoh Materi Kultum Singkat: Tentang Ibadah Sosial
panjimas.com

Pada contoh ceramah singkat kali ini, kita akan mengulas tentang ibadah sosial. Ibdah sosial ialah ibadah atau amal kebaikan yang tidak hanya berhubungan dengan Allah tapi juga dengan sesama manusia.

Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu alihi wa salllam bersabda:

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ رَجُلاً جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ ؟ وَأَيُّ الأَعْمَالِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللهِ أَنْفَعُهُمْ . وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ :سُرُوْرٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ، أَوْ تَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً، أَوْ تَقْضِيْ عَنْهُ دَيْنًا، أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوْعًا. وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِيْ الْمُسْلِمِ فِيْ حَاجَتِهِ، أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي الْمَسْجِدِ شَهْرًا. وَمَنْ كَفَّ غَضَبَهُ، سَتَرَ اللهُ عَوْرَتَهُ .وَمَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَلَوْ شَاءَ أَنْ يُمْضِيَهُ أَمْضَاهُ، مَلأَ اللهُ قَلْبَهُ رِضًى يَوْمَ الْقِيَامَةِ. وَمَنْ مَشَى مَعَ أَخِيْهِ الْمُسْلِمِ فِيْ حَاجَتِهِ حَتَّى يُثْبِتَهَا لَهُ، أَثْبَتَ اللهُ تَعَالَى قَدَمَهُ يَوْمَ تَزِلَّ الأَقْدَامُ. وَإِنَّ سُوْءَ الْخُلُقِ لَيُفْسِدُ الْعَمَلَ كَمَا يُفْسِدُ الْخَلُّ الْعَسَلَ )حَدِيْثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ ابْنُ أَبِي الدُّنْيَا فِيْ ” قَضَاءِ الْحَوَائِجِ ” وَالطَّبَرَانِيُّ فِيْ ” الْكَبِيْر ” صَحِيْحُ الْجَامِعِ الصَّغِيْر: 174

Dari Umar Bin Al-Khatthab Radhiyallahu ‘Anhu, beliau mengatakan :

“Pernah datang seorang pria kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kemudian dia bertanya : “ Siapakah yang paling dicintai oleh Allah ?” Dan “ Amal apakah yang paling disenangi oleh Allah ?”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “ Orang yang paling dicintai oleh Allah ialah orang yang paling banyak manfaatnya ( kepada orang lain ). Dan amal yang paling disenangi oleh Allah ialah : Kegembiraan yang engkau masukkan ke hati sesama muslim, atau engkau menghilangkan darinya satu kesusahan, atau engkau membayarkan utangnya, atau engkau menghilangkan rasa laparnya.

Dan sungguh bahwa aku berjalan bersama saudaraku sesama muslim untuk menyelesaikan satu urusannya, lebih aku senangi dari pada i’tikaf di masjid selama sebulan. Dan barangsiapa menahan marahnya, niscaya Allah akan menutupi aibnya.

Dan barangsiapa menahan marahnya yang jika ia mau melampiaskannya, ia mampu melampiaskannya, (tapi ia menahannya), niscaya Allah akan memenuhi hatinya dengan ridha pada hari kiamat.

Dan barangsiapa berjalan bersama saudaranya sesama muslim untuk satu keperluannya sampai ia menyelesaikannya, niscaya Allah akan meneguhkan kakinya pada hari banyak kaki yang tergelincir ( Hari Akhirat ). Dan sesungguhnya akhlak yang buruk itu merusak amal, sebagaimana cuka merusak madu ”

Hadits hasan, diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abid-Duniya dalam Kitab “ Qadha-ul Hawa-ij “ dan Imam At-Thabarani dalam “ Al-Mu’jam Al-Kabir “ Lihat : Shahih Al-Jami’ As-Shaghir Hadits No : 174

Beberapa Pelajaran:

1. Kesungguhan para sahabat Radhiyallahu Anhum untuk menjadi orang yang paling dicintai olah Allah, dan melakukan amal-amal yang paling disenangi oleh Allah.

Kesungguhan ini nampak jelas pada pertanyaan-pertanyaan mereka kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, yang sekaligus membuktikan kesungguhan mereka untuk menambah ilmu. Semua ini adalah refleksi dari jiwa yang hidup, jiwa yang sehat.

2. Orang yang paling dicintai oleh Allah ialah yang paling banyak memberikan kontribusi positif kepada orang lain. Ungkapan ini tidaklah terpisah dengan kaidah-kaidah kesempurnaan iman secara keseluruhan, oleh karena Islam adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan antara satu dengan yang lain.

Ungkapan ini adalah motivasi yang sangat kuat agar kita menjadi anggota masyarakat yang aktif, kreatif, inovatif dalam rangka menebar kebaikan sebanyak-banyaknya kepada seluruh lapisan masyarakat kita.

Kesungguhan untuk menjadi hamba Allah yang dicintai oleh Allah sangat memotivasi kita untuk menjadi orang yang dinamis, cerah dan bahagia dengan amal-amal shaleh yang senantiasa kita lakukan. Semua ini adalah refleksi jiwa yang hidup, jiwa besar, jiwa yang kuat.

3. Amal-amal shaleh yang sangat disenangi oleh Allah SWT dalam Hadits ini, seluruhnya merupakan agenda kerja orang yang ingin menjadi orang yang paling bermanfaat bagi masyarakatnya sebagai wasilah untuk dicintai Allah SWT. Agenda kerja itu ialah:

• Aktif menggembirakan orang lain.

• Senang membantu orang lain (dalam bentuk positif apapun).

• Memberi makan orang yang lapar.

• Menahan marah/menyalurkannya secara positif.

Agenda kerja ini hanya akan berjalan jika jiwa kita hidup, jiwa kita sehat, jiwa kita kuat.

4. Bahaya Akhlak yang buruk. Akhlak yang buruk itu berbentuk prilaku yang secara sadar dilakukan untuk menyakiti hati orang lain, menyusahkan orang lain. Seluruh kebiasaan yang berdampak seperti itu adalah ancaman terhadap keutuhan dan kesempurnaan amal shaleh kita.

Seluruh amal shaleh yang dengan susah-payah kita bangun dan kita kumpulkan, dapat rusak dan runtuh karena kebiasaan-kebiasaan buruk kita yang menyakiti orang lain seperti memaki, merendahkan, menggunjing, mengadu domba, menipu, bersikap kasar, dst.

Ini adalah ancaman dari sikap-sikap juz’iyah (parsialisme) dalam pembangunan kepribadian. Ini berarti bahwa kita dituntut untuk membangun kepribadian kita secara sadar dan optimal, secara syamil dan tawazun, menuju cinta kasih Allah Rabbul Izzati wal Jalal.

Semoga Hadits yang mulia ini dapat memotivasi kita untuk menjadipribadi-pribadi Sya’bi, figur-figur Jamahiri yang dekat dengan masyarakat, dicintai oleh lingkungannya, berkepribadian yang dinamis, berjiwa bersih, senantiasa maju menuju Cinta Kasih Allah Dzul Jalal wal Ikram. Amin.

Demikianlah contoh ceramah singkat atau kultum singkat menarik yang mudah-mudahan bisa diamalkan sekaligus dijadikan bahan materi dakwah.

Wallahu A’lam Bis-Shawab
Wa Shallallahu Wa Sallama ‘Ala Nabiyyina Muhammad

Kultum Singkat ke-3: Efektifitas Ibadah

kultum singkat padat berbobot
tanjabtimkab.go.id

Setiap ibadah yang disyariatkan dijamin pasti membawa manfaat bagi setiap muslim yang mengamalkannya. Sebagai contoh, dzikir, dijamin oleh Allah swt pasti membahagiakan (Q.S. Ar-Ra’ad: 28).

Ibadah shalat disebutkan oleh Allah swt sebagai pencegah dari perbuatan fahsya’(zina dan seluruh pendahuluannya) dan munkar (seluruh bentuk dosa). (Q.S. Al-Ankabut : 45).

Ibadah shaum disyari’atkan oleh Allah swt untuk mencapai tingkat taqwa yang optimal. Ibadah zakat diwajibkan untuk mensucikan hati dari sifat bakhil dan serakah dan membersihkan harta dari hak orang lain. (Q.S. At-Taubah : 103).

Secara umum seluruh ibadah dan amal shaleh berkhasiat sebagai penenang hati dan penghapus dosa.
Keyakinan ini sepatutnya menjadi dasar evaluasi dan introspeksi bagi kita, untuk mengukur seberapa besar manfaat ibadah itu terasa dalam hidup kita.

Oleh karena semangat ibadah kita berbanding lurus dengan khasiatnya dalam diri kita. Artinya, semakin terasa ni’mat ibadah itu, semakin besar pula keinginan kita untuk terus menikmatinya.

Dan kiranya inilah dari pertanyaan mengapa kita cenderung malas beribadah ?. malas beramal ?. karena kita belum merasakan nikmatnya, belum mendapat kan khasiatnya, jadi, agar kita rajin beribadah, tidak ada jalan lain, temukan khasiatnya !

Kiat untuk mendapatkan manfaat ibadah dan amal shaleh ialah penghayatan ibadah melalui :

1. Memahami Fadhilah (Keutamaan) Ibadah.

2. Meyakini Fadhilah Tersebut.

3. Menghadirkan dalam benak fadhilah tersebut pada saat kita beribadah.

4. Menghadirkan dalam benak bahwa ibadah tersebut adalah langkah mendekat kepada Allah swt, sekaligus sebagai upaya mensucikan hati dari penyakit-penyakit dan kotoran-kotoran dosa.

5. Memperbanyak ibadah dan amal yang berkesan, yang menggugah hati, yang sulit untuk dilupakan. Seperti ibadah atau do’a yang dibarengi dengan tangis, karena menyesali dosa dan takut pada azab Allah swt.

Penghayatan ibadah dengan kiat-kiat di atas diharapkan akan memberi rasa nikmat pada ibadah, do’a dan amal shaleh kita. Jika kenikmatan itu telah kita rasakan, niscaya ia akan menjadi kebutuhan yang kita rindukan.

Rasa butuh dan kerinduan itulah yang memotivasi kita secara kuat untuk memperbanyak ibadah dan amal shaleh, dan dari persembahan itulah kita menemukan kebahagiaan dan kedamaian hidup yang hakiki..Amin.

Contoh Materi Kultum Singkat: Dzikir Kepada Allah

contoh ceramah menarik
islamicity.org

Pada materi kultum kali ini, yang akan dibahas ialah tentang dzikir kepada Allah Ta’ala. Dzikir kepada Allah merupakan hal yang wajib bagi setiap hamba. Untuk lebih jelasnya, silahkan simak penjelasan tentang dzikir kepada Allah Azza Wajalla pada contoh ceramah singkat di bawah ini.

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Hari ini adalah hari kelima yang penuh berkah dari bulan istimewa Ramadhan. Teriring do’a kepada Allah Swt semoga kehidupan kita pada hari ini lebih baik dan lebih banyak berkahnya dari hari-hari yang lalu. Semoga kita semua senantiasa dibimbing oleh Allah Swt untuk semakin deat kepadaNya. Amin.

Renungan kita pada hari ini akan difokuskan pada DZIKIR. Renungan ini diawali pada kesadaran kita pada kurangnya kuantitas dzikir kita. Indikasinya bisa kita runtut seperti ini :

Betapa sering kita bangun dari tidur tidak berdzikir, lalu masuk kamar mandi tidak berdzikir, keluar kamar mandi tidak berdzikir, lalu mengganti pakaian tidak berdzikir, lalu bercermin juga tanpa dzikir. Sebelum makan biasanya kita berdzikir, tapi sesudah makan, kadang kita lupa berdzikir.

Pada saat kita keluar rumah, seringkali kita tidak berdzikir. Apalagi ketika masuk rumah, masih sangat banyak muslim yang tidak tahu bahwa ada dzikir tertentu ketika kita masuk rumah.

Jika perkiraan ini benar, maka ini adalah bukti yang kuat bahwa dzikir kita masih kurang. Padahal Allah SWT mewajibkan kepada kita untuk berdzikir yang banyak. Mari kita renungkan firman Allah Swt dalam surah Al Ahzaab (33) 41-42)

Kita semua telah menyadari bahwa dzikir itu adalah bukti iman dan sekaligus sebagai barometernya. Artinya, semakin tinggi iman seseorang, semakin banyak dan semakin baik dzikirnya, sebaliknya, jika dzikir seseorang itu masih kurang, itu adalah indikasi kelemahan imannya.

Dan inilah yang perlu kita risaukan bersama. Mari kita renungkan firman Allah Swt dalam surah Ali Imran (3) : 190-191)

Penyebab Kurangnya Dzikir

Selain faktor lemahnya iman, ada baiknya kita mencari faktor apa saja yang menyebabkan kurangnya dzikir, atau kita membedah lebih dalam lagi, bagaimana kelemahan iman itu menurunkan semangat untuk berdzikir :

1. Tidak tahu bahwa dzikir itu adalah fardhu ‘Ain (kewajiban setiap muslim).

2. Tidak tahu / tidak hafal dzikir tertentu.

3. Sering lupa membaca “Bismillah” dan “Al Hamdulillah”.

4. Kurang bersungguh-sungguh menyelesaikan dzikir-dzikir setiap selesai shalat fardhu.

5. Kurang yakin pada manfaat / khasiat dzikir.

Bagaimana solusinya ?

Meyakini kewajiban dzikir, meyakini manfaat dzikir, mempelajari dan menghafal dzikir-dzikir dari Rasulullah SAW, selalu berniat untuk berdzikir dan selalu bersungguh-sungguh untuk menyempurnakannya.

Dzikir adalah fardhu ‘ain. Dalilnya ialah : Q.S : Al Ahzaab (33) 41-42, Al Baqarah (2) 152, Al Jumu’ah (64) 9-10 dan Al Ankabut (29) 45.

Beberapa manfaat dzikir :

1. Orang rajin berdzikir pasti dibantu oleh Allah Swt dalam segala urusannya. Q.S Al Baqarah (2) : 152.

2. Orang yang rajin berdzikir pasti bahagia dan tentram hidupnya. Q.S Ar Ra’d (13) : 28.

3. Orang yang rajin berdzikir pasti diampuni dosa-dosanaya dan pasti mendapat pahala yang besar. Q.S Al Ahzaab (33) : 35.

Keutamaan dzikir tertentu :

Keutamaan wirid tahlil dan wirid tasbih :

: لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لهَ، لَهُ المُلـْكُ وَلَهُ الَحمْدُ وَهُوَ عَلىَ كُل ِّشَيْءِ قَدِير: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْه أَنَّ رَسُولُ اللِه صَلَّى الله عليه وسلم قال : مَنْ قَالَ

Dari Abu Hurairah R.A, beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda : Siapa yang membaca : “Tidak ada Tuhan selain Allah, sendiriNya, tidak ada sekutu bagiNya, milikNya seluruh kekuasaan dan milikNya seluruh pujian, dan hanya Dialah yang maha berkuasa atas segala sesuatu”

ِفْي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّة، كَانَتْ لَهُ عِدْلُ عَشْرَ رِقَابٍ، وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةَ حَسَنَةٍ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةَ سَيِّئَة، وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَومَهُ ذَلكَ حَتَّى يُمْسِي، وَلَمْ يَأْتِ أَحَد أَفْضَل ِممَّا جَاءَ بِهِ إِلاَّ أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرُ مِنْ ذَلِكَ

Bacaan ini dibaca seratus kali sehari maka ia mendapat pahala sama dengan pahala memerdekakan 10 orang budak. Dan dicatat untuknya seratus kebaikan.

Dihapuskan seratus dosanya dan bacaan tersebut menjadi benteng baginya dari kejahatan syetan sepanjang hari itu, dan tidak ada orang yang lebih banyak pahalanya pada hari itu dari dia, kecuali seorang yang membaca (bacaan) ini lebih banyak lagi.)

مَنْ قَالَ : ” سُبْحَانَ الله وَ بِحَمْدِه” – فِي يَوْم مائَةَ مَرَّة، خُطَّت خَطَايَاهُ وَلَو كَانَ مِثْل زَبَدِ البَحْرِ

Dan siapa yang membaca : “ Maha Suci Allah dan dengan memujiNya “ seratus kali sehari, niscaya digugurkan dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.HR. Bukhari Muslim]Kiat untuk yakin :

1. Renungan pada hakekat iman kita yang berarti percaya sepenuhnya kepada firman firman Allah dan sabda-sabda shahih Rasulullah Saw.

2. Banyak belajar Islam, sering bertanya kepada ustadz / ulama yang terpercaya.

3. Mencoba dan merasakan manfaat dan khasiat dzikir, terutama pada ketenangan dan kebahagiaan hati.

4. Banyak berdo’a memohon keyakinan, hidayah dan taufiq Allah Swt:

رَبنَّاَ لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْلَنَا مِنَ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الوَّهَابُ

“Wahai Tuhan kami, janganlah engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan. Engkau Maha memberi petunjuk kepada kami, karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya hanya Engkaulah Maha Pemberi” . [QS Ali Imran (3) 8]

 وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيْهَا َمعَادِي وَاجْعَل الحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ المَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِيْنِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي ،وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيْهَا مَعَاشِي

“Ya Allah, perbaikilah untukku (pengamalan) agamaku yang menjadi pegangan semua urusaku. Dan perbaikilah untukku (urusan) duniaku yang menjadi tempat kehidupanku. Dan perbaikilah untukku (urusan) akhiratku yang menjadi tempat kembaliku. Dan jadikanlah kehidupanku ini menjadi tambahan untukku dalam semua bentuk kebaikan. Dan jadikanlah kematianku sebagai istirahat dari semua kejelekan” [H.R Imam Muslim]

Allahumma Amin …

Kultum ke-4: Tentang Cara Berpikir Positif

Contoh Materi Kultum Singkat: Tentang Cara Berpikir Positif
umdah.co.id

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu beliau mengatakan : Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda :

“Orang beriman yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari- pada orang mu’min yang lemah. Dan masing-masing punya kebaikan. Bersungguh-sungguhlah dalam segala hal yang bermanfaat bagimu. Mintalah bantuan kepada Allah dan jangan merasa lemah (pessimis) dan jika kamu mendapat satu musibah (kesulitan), jangan berkata : “sekiranya saya melakukan ini, maka akan terjadi seperti ini “Tapi katakanlah : “ Sesungguhnya Allah telah menentukan (keputusan-Nya) dan DIA melakukan apa yang DIA kehendaki “. Oleh karena ucapan “sekiranya” itu membuka peluang kerja bagi syetan “ Hadits shahih diriwayatkan oleh Imam Muslim : 8/56

Beberapa Pelajaran hadits :

1. Agama Islam sangat menekankan kekuatan ummatnya, dalam pengertian yang seluas-luasnya. Untuk itulah sehingga kita diwajibkan memperkuat diri untuk menghadapi musuh. Lihat Surah Anfal (8) Ayat: 60.

2. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan kita untuk senantiasa memikirkan, mementingkan dan mengerjakan hal-hal yang bermanfaat saja. Jangan pikirkan sesuatu yang tidak berguna.

Jangan pentingkan sesuatu yang tidak penting. Jangan kerjakan sesuatu yang tidak mendatangkan manfaat. Ini adalah doktrin cara berpikir positif (At-Tafkir Al-Ijabi/Positif Thingking). Lihat Surah Al-Mu’minun (23) Ayat: 3.

3. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan kita untuk bersungguh-sungguh dalam mengerjakan kebaikan.

Ini adalah perintah untuk membangun sifat rajin, agar kita tidak terbiasa menunda-nunda pekerjaan yang bisa diselesaikan pada waktunya, dan agar kita tidak membiarkan benih-benih kemalasan dalam diri kita tumbuh berkembang.

Sikap sungguh-sungguh dan serius dalam pekerjaan akan mewujudkan profesionalisme dan produktifitas yang tinggi. Dan sesungguhnya penyebab utama kelambanan pengembangan kepribadian kita, lebih disebabkan oleh karena sifat malas yang kita sadari ataupun tidak kita sadari. Solusinya ialah: Paksa Diri (yang tidak membahayakan diri).

4. Meminta Bantuan Allah (Al-Isti’anah Billah) adalah kiat “oper bola” kepada Yang Maha Kuasa. Kiat ini akan selalu menyelamatkan dari sikap putus asa dan kecemasan yang berlebihan.

Kekuatan do’a yang diyakini oleh seorang mu’min mujahid akan senantiasa memberi harapan dan kekuatan batin yang luar biasa dalam menghadapi tantangan apapun, sehingga ia terhindar dari perasaan-perasaan negatif, dan pikiran-pikiran negatif ( Negatif Thingking ).

5. Larangan untuk mengandai-andai terhadap sesuatu yang telah berlalu, adalah penegasan yang kesekian kalinya dalam satu hadits yang mulia ini terhadap pentingnya, bahkan wajibnya cara berpikir positif !. Tinggalkan penyesalan yang mengundang cara berpikir yang negatif.

Ketahuilah bahwa syetan senantiasa mencari peluang dan kesempatan untuk mempengaruhi jiwa dan pikiran kita. Jangan beri peluang kepadanya untuk bekerja dalam diri kita.

Semoga Hadits yang mulia ini senantiasa mengilhami kita untuk bertanya pada diri sendiri: Bagaimana Seharusnya Saya Berpikir Positif Saat Ini ?.

Wa Shallallahu Wa Sallama ‘Ala Nabiyyina Muhammad.

Kultum ke-5: Taubat

Contoh Materi Kultum Singkat: Taubat
republika.co.id

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Kita mengejar kebahagiaan dan ketenangan hidup melalui ibadah dan amal shaleh. Namun ada satu hal yang sangat menghalangi kita untuk meningkatkan Ibadah dan amal shaleh, yaitu dosa – dosa kita !!.

Dosa yang berarti pelanggaran terhadap hukum Allah Swt menorehkan noda hitam di hati, dan membuat hati kita tertutup secara perlahan, memperlemah kekuatan jiwa kita, sehingga kita akan malas beribadah, tidak senang dengan amal shaleh, benci dengan orang-orang shaleh.

Sebaliknya, dosa dan maksiat menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan, senang menghamburkan uang untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, senang membuang-buang waktu tanpa manfaat, senang pada ahli dosa dan maksiat.

Dosa dan pelanggaran itu sumber kesusahan kita, penyebab kecemasan kita, dan penyebab kekosongan hati kita. Dan bila kita merasa sulit untuk menghafal ayat-ayat Al-Qur’an atau hafalan Qur’an kita hilang, penyebabnya adalah dosa.

Bila kita tidak senang mendengar nasehat, penyebabnya adalah dosa. Jika kita merasa sulit untuk khusyu’ penyebabnya adalah dosa. Dosa-dosa kita benar-benar menghalangi kita untuk beribadah dan beramal shaleh.

Tapi Allah Swt yang bersifat Rahman dan Rahim melarang kita berputus asa. Allah Swt menyayangi kita yang banyak berbuat dosa, dengan menyuruh kita bertaubat. Allah Swt berjanji akan menerima taubat kita.

Mari kita renungkan Firman Allah Swt dalam Surah Az-Zumar (39) : 53-55 dan dalam Surah At-Tahrim (66) : 8.

Taubat akan meringankan beban batin kita. Taubat akan memudahkan langkah kita untuk ibadah dan amal shaleh. Taubat akan melahirkan inspirasi-inspirasi positif untuk berbuat baik. Taubat akan menjernihkan pikiran, membahagiakan hati.

Mari kita renungkan Firman Allah Swt dalam Surah An-Nur (24) : 31.

5 Langkah Taubat

Untuk taubat yang efektif, kita perlu mengikuti 5 langkah berikut ini ;

1. Menghentikan dosa saat ini, tidak ditunda.

2. Menyesali semua dosa yang telah kita lakukan.

3. Memperbanyak Istighfar. Mengamalkan Wirid Istighfar 100 x Setiap pagi dan sore/malam.

4. Mengembalikan hak orang lain, atau memohon halalnya atau memohon maaf.

5. Membuat rencana-rencana perbaikan diri yang lebih jauh.

Bila kita berniat Ikhlash, ingin mendapatkan Ridha Allah Swt lalu kita bersungguh-sungguh mengamalkan langkah-langkah taubat ini, yakinlah bahwa Allah Swt pasti memudahkan urusan kita, memberkahi usaha kita, menyelesaikan problem dan kesusahan kita, sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah Swt dan Rasulullah Saw.

Akhirnya, mari kita mulai meninggalkan semua perbuatan yang kita tahu bahwa itu dosa. Mari kita mulai membiasakan diri dengan wirid Istighfar. Mari kita membaca Sayyidul Istighfar.

Mari kita saling mema’afkan. Mari stop kezhaliman kepada orang lain. Mari kita mulai mengamalkan rencana kebaikan. Jangan tunda niat untuk beramal Shaleh.

Perjuangan untuk mengamalkan semua ini, wajib didukung dengan do’a khusyu’, terutama dengan do’a yang diajarkan oleh Allah Swt dan diajarkan oleh Rasulullah Saw, antara lain :

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُو نَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ

“Wahai Tuhan kami, kami telah menzhalimi diri kami (dengan dosa-dosa kami) dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami pasti termasuk orang yang rugi”. [QS. Al-A’raf (7) : 23]

اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْماً كَثِيرْاً وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ فَاغْفِرْلِي مَغْفِرةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيْم

“Ya Allah sesungguhnya aku telah menganiaya diriku dengan kezhaliman yang banyak (dosa-dosa) dan tidak ada yang mengampuni dosa selain Engkau, maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku, sesungguhnya hanya Engkaulah yang Maha Mengampuni, lagi Maha Penyayang.

Kultum ke-6: Syukur

Contoh Materi Kultum Singkat: Syukur
youtube.com

Renungan Hari pertama bulan Mulia Ramadhan

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Al-Hamdulillah, Bulan Suci yang kita nanti-nantikan telah tiba. Al-Hamdulillah, Allah Swt telah memberikan nikmat umur kepada kita, sehingga kita masih dapat menikmati bulan yang penuh berkah ini.

Al-Hamdulillah, kita telah mulai Shalat Taraweh / Qiyamullail yang tenang dan khusyu’ tadi malam, dan kita telah mulai membaca Juz pertama dari Al-Qur’an yang mulia, kita telah mulai ibadah shaum yang wajib ini dan menikmati dzikir dan do’a yang khusyu’ pada hari yang sangat istimewa ini.

Bahagia hati ini menyaksikan Ummat Islam beramai-ramai memenuhi Masjid dan Mushallah, tak terkecuali anak-anak pun turut memadati rumah-rumah Allah.

Bahagia hati ini berkumpul dengan Isteri / Suami, anak-anak dan seisi rumah di hadapan hidangan sahur. Kita sahur bersama dengan suka cita dan bahagia. Bahagia hati ini shalat shubuh berjamaah dengan menyertakan Isteri / Suami dan putera / puteri.

Al-Hamdulillah, terima kasih Ya Allah.. Kami bersyukur kepada-Mu atas nikmat Iman yang Engkau karuniakan kepada kami. Dengan iman inilah, kami dapat menikmati semua pemberian-Mu ya Allah.

Dengan iman inilah kami dapat bahagia dengan Bulan suci Ramadhan, kami dapat gembira dengan Ibadah, Tilawah, Dzikir dan Do’a. dengan Iman, berkumpulnya ummat Islam di masjid menjadi pemandangan yang sangat indah, sangat menyenangkan, Subhanallah.

Kami yakin bahwa tanpa Iman, kami pasti sesat. Tanpa iman hati kami pasti keras, ibadah terasa sangat berat, tak ada cinta kepada-Mu, tak ada takut kepada-Mu, tak ada harapan kepada-Mu. Lalu kepada siapa kami bergantung selain kepada-Mu.

Ya Allah.. terima kasih atas nikmat Iman, Ya Allah.. Kami bersyukur atas nikmat Iman. Kami merasa mulia dengan nikmat Iman.

Dan kami yakin bahwa nikmat inilah pemberian Allah yang paling mahal. Nikmat inilah modal satu-satunya yang kami miliki untuk hidup tenang, bahagia, damai, mulia, kuat dan selamat di dunia dan di Akhirat. Allahu Akbar.

Mari kita renungkan Firman Allah Swt dalam surah Al-Hujurat (49):7,8 dan 17.

Pada siang hari yang penuh berkah ini kita sedang lapar, haus, dan lelah, tapi semoga kita semua bahagia. Kebahagiaan itulah berkahnnya Ibadah.

Kita bahagia karena kita yakin bahwa kita berada di jalan Allah Swt, jalan keselamatan dan kemuliaan, kita bahagia kerena kita yakin bahwa Allah Swt pasti mengampuni dosa-dosa kita yang sungguh amat sangat banyak sekali itu.

Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَلهَ ُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِه

“Siapa yang berpuasa atas dasar iman dan keikhlasan pasti diampuni
seluruh dosanya yang telah lalu”. (HR. Imam Al-Bukhari).

Kita bahagia dengan Ibadah Puasa karena kita yakin bahwa ibadah puasa ini memperberat timbangan kebaikan kita nanti di hari akhirat, kita juga yakin bahwa orang yang sedang berpuasa itu do’anya dikabulkan oleh Allah Swt.

Kebahagiaan inilah yang kita syukuri. Nikmat iman inilah yang kita syukuri. Amal ibadah inilah yang kita syukuri. Kita bersyukur karena kita beriman, kita beribadah karena kita bersyukur. Kita bersyukur karena ibadah kita membahagiakan kita …Al-Hamdulillah.

Kebahagiaan kita dengan ibadah dan amal shaleh itulah barometer efektifitas ibadah kita. Disitulah berkah dan kesuksesan amal shaleh kita.

Penghayatan kesyukuran atas segala nikmat Allah Swt, itulah yang mendorong kita secara kuat untuk rajin beribadah, efektif beramal shaleh, lari dari dosa, sangat takut dari pelanggaran.

Dan penghayatan kesyukuran inilah yang membuat semua ibadah itu terasa nikmat, indah membahagiakan sehingga kita benar-benar mendapatkan manfaat, khasiat dan berkahnya.

Mungkin inilah seberkas cahaya hikmah dari jaminan Allah yang berjanji pasti :

“Jika kamu bersyukur, aku pasti menembahkannya kepadamu. Dan jika kamu ingkar, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. Q.S Ibrahim (14) : 7.

Yakin bahwa kesyukuran itu rahasia kebahagiaan

Dan mungkin ini pula satu dari sekian banyak penyebab kesusahan, yaitu : Tidak bersyukur. Allah Swt berfirman :

“Sangat sedikit dari hamba-hambaKu yang bersyukur” Q.S. Saba (24): 13.

Dan mungkin ini pula hikmahnya Allah Swt mengajarkan kepada kita untuk berdo’a :

رَبِّ أَوْزِعْني أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَليَ وَعَلىَ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالحِاً تَرْضَاه وَأَدْخِلْني بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادك الصَّالِحِيْن

“Wahai Tuhanku, berikanlah ilham kepadaku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang Engkau telah berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku. Dan agar aku melakukan amal shaleh yang Engkau ridhai. Dan masukkanlah aku dengan Rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh. Amin..

Selain itu Rasulullah Saw mengajarkan pula do’a memohon syukur yang dianjurkan untuk dibaca setiap selesai shalat Fardhu :

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلىَ ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.

“Ya Allah, bantulah aku untuk berdzikir kepada-Mu,
untuk mensyukuri-Mu dan untuk memperbaiki Ibadah kepada-Mu”.

Allahumma Amin..

Kultum ke-7: Shalat

Renungan bulan Mulia Ramadhan

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Hari ini adalah hari ketujuh yang penuh berkah dari bulan suci Ramadhan ini. Hari-hari ini adalah hari-hari termahal dalam hidup kita sebagai orang yang beriman kepada Allah Swt.

Karena pada hari-hari ini kita dijanji oleh Allah Swt dan Rasulullah Saw untuk mendapatkan ampunan, kebahagiaan, keberkahan hidup, dan pahala yang besar bagi orang yang bersungguh-sungguh beribadah dengan ikhlash dan benar.

Atas dasar keyakinan inilah, kita bekerja keras pada hari-hari ini, sepanjang bulan mulia Ramadhan untuk membiasakan diri dan mendisiplinkan diri dengan berbagai bentuk ibadah dan amal shaleh.

Dan untuk mengoptimalkan efektifitas ibadah dan amal –amal shaleh tersebut, kita melakukan renungan-renungan setiap hari untuk meningkatkan penghayatan dan interaksi batin kita dengan setiap ibadah dan amal yang kita kerjakan .

Renungan kita pada hari ini ialah tentang ibadah shalat

Bulan Ramadhan selain diwarnai dengan ibadah Shaum, juga diwarnai dengan ibadah shalat, yaitu dengan shalat taraweh berjamaah 11 rakaat, atau 21 rakaat, atau bahkan lebih dari itu.

Pada bulan mulia ini pula kita membiasakan diri untuk shalat berjamaah, shalat sunnah rawatib 10-12 rakaat sehari semalam, dan kita pun membiasakan diri untuk shalat Dhuha. Demikianlah perjuangan kita menegakkan ibadah shalat pada bulan penuh berkah ini.

Yang perlu kita renungkan tentang ibadah shalat, antara lain :

1. Mengapa masih banyak dari ummat Islam yang malas menegakkan Shalat?. Dan bila yang tidak shalat itu adalah anak kita atau orang yang berada dalam tanggung jawab kita, bagaimana solusinya?

2. Mengapa masih banyak ummat Islam yang malas Shalat di Masjid ?. Padahal Masjid itu dibangun untuk menjadi tempat berkumpulnya Ummat Islam untuk shalat dan untuk seluruh aktivitas kebaikan.

3. Mengapa masih banyak di antara kita yang malas shalat sunnah Rawatib ?.

4. Mengapa kita sulit untuk khusyu’ di dalam shalat ?.

5. Mengapa ibadah shalat belum efektif mencegah kita dari perbuatan dosa ?.

6. Mengapa banyak orang yang shalat tergesa-gesa ?.

7. Mengapa banyak orang yang tidak berdzikir secara sempurna setelah shalat?.

8. Mengapa shalat belum membahagiakan sebagian di antara kita?.

9. Mengapa jumlah jamaah taraweh di Masjid semakin berkurang ?.

10. Mengapa banyak orang rajin berjamaah tapi bermusuhan ?.

Mari kita luangkan waktu untuk merenungkan semua pertanyaan ini, atau sebagiannya. Karena itu sebagian dari relitas kehidupan kita. Dan ini adalah bagian dari tanggung jawab kita.

Jawaban-jawaban yang patut kita renungkan, antara lain :

1. Penyebab kemalasan beribadah adalah ketidaktahuan (kejahilan) dan kelemahan iman (ketidakyakinan).

2. Penyebab rendahnya khasiat dan efektifitas Ibadah shalat ialah rendahnya kualitas khusyu dan penghayatannya.

3. Penyebab rendahnya Khusyu’ dalam shalat kerena ketidaktahuan arti bacaan shalat, dan kurangnya upaya untuk khusyu’.

4. Penyebab rendahnya semangat dzikir setelah shalat ialah shalat yang tidak khusyu’ dan tidak ada upaya untuk menyempurnakan shalat.

5. Penyebab permusuhan antara jamaah masjid ialah penyakit-penyakit hati, dan ibadah yang belum efektif.

Apa Solusinya ?…

Dengan renungan-renungan serius kita akan menemukan banyak solusi dan kita akan mendapatkan banyak inspirasi tentang langkah-langkah perbaikan. Antara lain :

1. Meningkatkan semangat belajar Islam.

2. Membiasakan diri mengikuti ceramah-ceramah di TV, radio, kaset, membaca buku, majalah Islam, aktif hadir di majelis ta’lim, rajin bertanya dan berkonsultasi kepada Ustadz/Ulama.

3. Menyadari kelemahan Iman. Dan selalu mengakui kelemahan tersebut, sehingga lahirlah sifat Tawadhu’ (rendah hati), lahirlah rasa Khauf (takut kepada Allah Swt) rasa cemas menghadapi kematian.

4. Memikirkan peningkatan iman secara berkesinambungan. Memperbanyak rencana-rencana amal shaleh dan segera melaksanakannya.

5. Meningkatkan perhatian kepada kuantitas dan kualitas ibadah shalat, mengupayakan kiat-kiat khusyu’ dan berusaha menemukan kebahagiaan melalui shalat dan dzikir.

6. Meningkatkan rasa persaudaraan seIslam. Membiasakan sifat pemaaf, pemurah, tenang di kala marah, berbaik sangka dan menghargai orang lain.

Akhirnya, kita harus banyak berdoa kepada Allah Swt agar kita dibimbing oleh Allah Swt untuk senantiasa memperhatikan ibadah shalat, dan seluruh ibadah dan amal shaleh.

Dan Allah Swt mengajarkan kepada kita untuk berdo’a dengan do’a ini :

رَبِّي اجْعَلْنِي مُقِيْمَ الصَّلاَةِ وَمِنْ ذُرِّيََّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّل دُعَاءِ رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُومُ الحِسَابِ.

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan kami, perkenankan do’a ini.

Ya Tuhan, ampunilah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang mu’min pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”.

Allahumma Amin..
والحمد لله رب العالمين

Kultum ke-8 : Ramadhan, Bulan Keharmonisan Rumah Tangga

Alhamduka ya Allah hamdan yaliqu bijalali wajhika wa‘azhimi sultanik. Allahumma ya Allah, shalli wasallim ‘Ala ‘Abdika wa Rasulika Muhammad

Kehidupan rumah tangga adalah salah satu ni‘mat karunia Allah yang sangat besar. Dengannya kita bahagia. Dengannya kita bergenerasi. Dengannya terwujudlah keluarga besar yang jelas keturunanya.

Dengannya tersalurlah tuntutan biologis secara suci. Dengannya tersalurlah rasa cinta di hati secara alami dan Islami. Dan sejumlah manfaat rumah tangga lainnya.

Rumah tangga itu pada dasarnya, pada umumnya dan pada awalnya harmonis, rukun, damai, akrab, penuh cinta kasih. Namun rumah tangga itu tidak disebut rumah tangga jika tidak mengalami problem.

Rumah tangga itu identik dengan masalah. Karena ia adalah bagian dari hidup kita yang memang mempunyai tabiat perjuangan. Problem-problem rumah tangga itu disebabkan oleh hawa nafsu, kesalah fahaman, kurang pengertian, berbagai penyakit hati, dan perbedaan cara berfikir.

Untuk meningkatkan kwalitas kehidupan rumah tangga kita, hal ini perlu dicermati dengan seksama, oleh karena mungkin semua suami pernah dibisik oleh syetan untuk meninggalkan/menceraikan isterinya.

Dan mungkin semua isteri pernah dibisik oleh syetan untuk lari meninggalkan suaminya/meminta untuk dicerai !!. Mungkin kita semua pernah -minimal satu kali- menyesali pernikahan kita dengan pasangan kita !!.

Jangan biarkan syaitan berdaulat !, jangan biarkan hawa nafsu memimpin !. Mari kita tegakkan jihad suci dalam rumah tangga kita.

Mari kita wujudkan persamaan persepsi dalam membangun syurga rumah tangga ini, bahwa kebahagiaan dan keharmonisan, keutuhan dan kekuatan rumah tangga, ada pada nilai-nilai spiritual kita, seperti Ibadah, kesucian hati, Iman yang kuat, ketaatan kepada Allah, pendekatan kepada Nya, taubat dari dosa, dst..

Kebahagiaan dan keharmonisan itu bukan pada rumah mewah, mobil mahal, perabot lengkap, makanan lezat, dst..

Setelah kesamaan persepsi itu siraih, maka selanjutnya ialah saling pengertian. Saling memahami tabiat, kebiasaan, sifat-sifat positif dan negatif pasangan kita.

Semua itu kita terima apa adanya, lalu kita beradaptasi dengan sifat-sifat itu secara positif, dalam wujud banyak mengalah, banyak sabar terhadap yang tidak disenangi dan mendukung serta memuji setiap hal, sikap, sifat yang positif.

Langkah berikutnya ialah saling membina, saling menasehati, secara bijaksana, pada suasana, waktu, tempat dan cara yang tepat.

Pada saat-saat santai, bahagia, kita hanya berdua, terkadang pada saat rekreasi, atau dalam perjalanan, atau setelah Qiyamullail, setelah berdzikir bersama, mari manfaatkan suasana tenang itu untuk saling menasehati.

Manfaatkan kesempatan itu untuk membuat/memperbaharui kesepakatan-kesepakatan positif unuk meningkatkan keharmonisan rumah tangga di jalan Allah swt.

Bila rumah tangga ini diterpa angin topan kesalah fahaman. Bila ternyata kita harus saling berdiam-diaman, tak ada yang berani ngomong duluan.

Bila kita berdua sedang diamuk amarah, langkah pertama : INGAT ALLAH !. Mari beristighfar, berdzikir dan berdo‘a, memohon petunjuk, jalan keluar dan kekuatan jiwa.

Mari hentikan sikap saling berbantahan, saling membentak dengan suara keras, mari hindari saling memukul, atau melemparkan barang.Mari kuasai diri, jangan biarkan syetan menguasai kita. Bila ada yang marah yang lain harus diam. Mari mengingat Allah.

Dikala marah itu sudah mulai reda, masing-masing sudah berwudhu’/sudah shalat, mari berlomba untuk terlebih dahulu meminta maaf.

Masing-masing mengakui dan menyadari kesalahan dan kekhilafan, diiringi dengan belaian dan kecupan kasih sayang, membangun kembali cinta yang tadinya berkurang. Setelah itu, perbaharui kembali kesepakatan-kesepakatan untuk merubah yang negatif dari pribadi masing-masing.

Bulan mulia ini adalah momentum terbaik untuk merenovasi, merehabilitasi, atau membangun kembali pilar-pilar keharmonisan rumah tangga kita, diatas pondasi Iman yang kuat, dengan semangat Ibadah yang berkobar, semangat perjuangan yang menyala-nyala, optimisme yang tinggi dan kerja keras yang triada henti.

Semoga Allah swt memberikan kekuatan kepada kita untuk dapat menyelesaikan pekerjaan mulia ini dalam bulan penuh berkah ini. Amin.

Kultum ke-9: Bulan Mas’uliyah Ramadhan

Alhamduka ya Rabbi Hamdan Katsira’
Wa Asykuruka ya Illahi Syukran Jazila’
Wa Ushalli wa Usallimu ‘Ala Nabiyyina Muhammad.

Alangkah Indahnya hari yang kita menyempatkan diri padanya untuk melakukan renungan serius, walau beberapa menit.

Renungan yang efektif tidak hanya akan mempengaruhi secara positif langkah dan sikap kita dalam sehari, namun betapa banyak renungan efektif yang membuahkan hidayah, taubat, istiqamah, menghasilkan kekuatan jiwa yang luar biasa.

Orang yang merasakan jiwanya kecil, jiwanya lemah, hidupnya seakan tiada arti, merasa takut dan sangat malu menegakkan kebenaran, susah untuk disiplin, kiranya ia perlu belajar merenung yang serius, efektif.

Bila kita kembali merenungkan ma‘na kehidupan ini, niscaya kita akan menemukan bahwa salah satu hakekat kehidupan ini ialah tanggung jawab (mas‘uliyah).

Ya, hidup ini adalah tanggung jawab. Hidup ini adalah resiko. Hidup ini menuntut kerja keras, keseriusan, kesungguhan dan kedisiplinan.

Orang yang pemalas, selalu ingin santai, bermain-main, tidak mau terikat, hidup boros, tidak mau susah, tidak mau menderita, ia tidak mungkin mulia, ia tidak mungkin menjadi orang yang berguna bagi masyarakatnya, bahkan ia tidak akan mampu bermasyarakat dengan baik, bahkan akhir kehidupannya adalah kehancuran dan penyesalan yang tiada berguna.

Bila ia bahagia sehari, setahun, ia akan menderita batin bertahun-tahun. Kebahagiaannya sama dengan kebahagiaan hewan setelah mereka makan, minum, kawin, bermain-main dan tidur.

Kita semua hadir di dunia ini, karena Allah swt yang menghadirkan kita. Kehadiran kita ini dengan misi Ibadah dan khilafah, sesuai dengan syariat Allah. Pelaksanaan misi ini memerlukan rasa tanggung jawab yang tinggi yang termanivestasi dalam bentuk kerja keras dan kedisiplinan.

Selain itu, kehidupan ini adalah kehidupan sosial. Kita hidup mempunyai Bapak, Ibu, Isteri, Suami, Anak, Saudara, Paman, Tante, Kakek, Nenek, Kerabat, Tetangga, Kawan sekantor, Rekan seprofesi, Atasan, Bawahan, Guru, Murid, Pemerintah, Penegak Hukum, dst.

Kita semua hidup bermasyarakat, kehidupan sosial ini diatur oleh hukum, akhlaq, kewajiban dan hak yang ditetapkan oleh yang menciptakan kehidupan ini. Pelaksanaan aturan-aturan tersebut, menuntut rasa tanggung jawab yang terlahirkan dalam wujud kerja keras dan kedisiplinan.

Orang yang melanggar hukum Allah, berarti tidak disiplin. Orang yang tidak disiplin, berarti tidak mau bekerja keras. Orang yang tidak mau bekerja keras, berarti kurang merasakan tanggung jawab.

Orang yang tidak bertanggung jawab berarti tidak tahu diri, tidak tahu arti hidup. Orang yang sampai pada tingkat ketidak tahuan seperti ini, pantas diberi gelar orang Jahil (bodoh), orang zhalim (penganiaya) Itulah sebabnya sehingga seluruh perbuatan dosa disebut kebodohan dan kezhaliman.

Bila ungkapan diatas masih kurang jelas, mari kita perjelas lagi : orang malas shalat adalah orang bodoh. Orang yang malas mengaji adalah orang jahil. Wanita yang tidak memakai jilbab adalah orang zhalim, dan demikianlah seluruh dosa dan pelanggaran !!.

Kewajiban-kewajiban ke Islaman kita hanya dapat ditunaikan secara optimal, bila kita memiliki mas‘uliyah. Rasa tanggung jawab ini hanya dapat kita miliki, bila kita tahu diri, menyadari hakekat diri dan hakekat kehidupan yang sementara ini.

Dan akhir perjalanan hidup kita ini sesungguhnya, dipengadilan Akbar, dihadapan Ahkamul Hakimin swt, lalu kita semua masing-masing akan dimintai pertanggung jawaban tentang hidup ini. Setelah itu jatuhlah vonis yang sangat mendebarkan itu, vonis yang hakiki : Jannah atau Neraka. Allahumma Ajirna minan Nar.

Semoga bulan mulia Ramadhan ini, kita manfaatkan semaksimal mungkin untuk meningkatkan rasa tanggung jawab kita, agar kita dapat Istiqamah dengan penuh keshabaran, menuju husnul khatimah.. Amin.

Washallallahu Wasallama ‘Ala Nabiyyina Muhammad

Kultum ke-10: Renungan Bulan Dzikir Ramadhan

Allahumma Lakal Hamdu Walakasysyukru.
Allahumma Shalli asallim ‘Ala Nabiyina Muhammad, Waba‘d

 

Taubat ini mengajari kita untuk tawadhu’ merendah dihadapan Allah, bermohon dengan penuh kesungguhan, mengajari kita untuk menyadari siapa kita sesungguhnya, yang berlumuran dosa dan aib ?.

Taubat mengajari kita bagaimana seharusnya takut kita pada adzab Allah ?. Bagaimana seharusnya Iman kita mencegah kita untuk berlarut dalam dosa dan menambah dosa.

Dalam kaitan antara dosa dan taubat, ada satu hal yang penting untuk dicermati, yaitu seringnya kita berbuat dosa setelah kita taubat. Hal tersebut disebabkan oleh kurangnya/tidak adanya penghayatan taubat.

Taubat kita belum memenuhi syarat. Namun jika kita merasa bahwa taubat kita telah memenuhi syarat lalu kita masih terjatuh pada dosa yang sama jangan putus asa.

Jangan merasa bahwa taubat kita tak bakal diterima lagi. Itu disebabkan oleh kurangnya hidayah dan taufiq dari Allah. Setelah berbuat dosa, taubat dan taubat lagi.

Perbanyak do‘a memohon taufiq, hidayah, kekuatan Iman, husnul khatimah. Allah swt berjanji mengabulkan do‘a hamba Nya yang Ikhlas, khusyu’ dan sungguh-sungguh.

Dalam bulan Taubat ini, semoga kita semua diberi kekuatan oleh Allah swt untuk mengulang-ulangi kalimat istighfar yang sempurna, minimal 100 (seratus) kali sehari semalam, agar hari kita semakin suci, Iman kita semakin kuat, perasaan dan kesadaran kita semakin dekat dengan Allah yang Maha Pemurah.

Dzikrullah adalah sumber kebahagiaan yang hakiki. Karena kebahagiaan itu tempatnya di hati, sedang hati itu cenderung kepada Allah, Jika disana masih ada fitrah, masih ada seberkas cahaya Iman. Ia tidak menemukan kebahagiaan yang konstan, tetap, tanpa dzikrullah.

Dengan mengingat Allah, kita merasakan bahwa kita ini lemah, amat lemah, dan kita dilindungi oleh Allah yang Maha Pemurah.

Dengan mengingat Allah, kita mengingat kasih sayang Allah kepada kita. Inilah yang menggerakkan lidah dan bibir kita untuk, bertasbih, bertahmid, bertakbir, bertahlil, berhauqallah, beristighfar dan berdo‘a.

Dikala dzikir lisani bertemu dengan dzikir qalbi, pada saat itulah kita mencapai kebahagiaan yang tiada tara, dengan Rahmat Allah, seakan kita tak ingin meninggalkan tempat dzikir tersebut, seakan kita tak ingin berpisah dengan Allah swt.. Allahu Akbar.

Dzikir adalah konsumsi jiwa. Dzikir adalah kebutuhan Pokok. Tanpa dzikir jiwa ini kurus, kering, dan mati. Tanpa dzikir, kita tak ada menemukan kebahagiaan hidup yang sesungguhnya.

Dzikrullah memerlukan Ilmu, agar sesuai dengan sunnah. memerlukan ke Ikhlasan, agar diterima Allah. Memerlukan penghayatan, agar memberikan hasil yang positif pada jiwa dan prilaku kita.

Dzikrullah yang demikian itu, merupakan tanda Iman. Dan jalan utama untuk merasakan ni‘matnya Iman, manfaatnya Iman. Orang yang kurang berdzikir, berarti Imannya rendah, Imannya lemah. Dan jika ada yang belum merasakan manfaatnya hidup beriman, ketahuilah bahwa ia masih kurang berdzikir.

Lebih dari itu, dzikir yang banyak itu adalah kewajiban dari Allah untuk kita semua. orang yang kurang berdzikir, telah melakukan dosa. Dosa itu semakin banyak jika ia semakin lalai dan semakin jarang berdzikir.

Dan sungguh merupakan ni‘mat yang besar bahwa kita di idzinkan berdzikir kapan dan dimana saja -selain di WC- dan dalam posisi, dan kondisi apa saja. Kita diizinkan berdzikir sambil berbaring, sambil bekerja, tanpa ada syarat tertentu.

Meskipun jika kita mengkhususkan waktu untuk dzikir, pada saat yang hening, pada waktu mustajab, dalam keadaan berwudhu’, berpakaian rapih, duduk bersimpuh dengan khusyu’, meneteskan air mata, tentu itu jauh lebih afdhal.

Dalam sunnah Rasulullah saw, kita menemukan anjuran berdzikir pada setiap aktifitas keseharian kita, selain anjuran berbasmalah diawal setiap pekerjaan, diajarkan pula dzikir tertentu untuk setiap keadaan, yang diberi nama oleh para Ulama dengan Adzkar Al Munasabat (dzikir-dzikir pada berbagai peristiwa/keadaan)

Dzikir sebelum tidur, setelah bangun tidur, sebelum masuk WC dan setelah keluar, setelah keluar rumah dan sebelum masuk, sebelum masuk Masjid dan setelah keluar, pada saat naik kendaraan, sebelum makan dan sesudahnya, bahkan sebelum berhubungan intim suami isteri,

Dzikir pada saat singgah disuatu tempat, pada saat hujan, pada saat menerima ni‘mat, menerima musibah, membesuk orang sakit, pada saat berbuka dan seterusnya. Semua itu, ada dzikirnya. Sudahkah kita rutin mengamalkannya ?.

Adz karus shabah wal masa’ (dzikir-dzikir pagi hari dan sore/malam) adalah sejumlah dzikir dan do‘a yang diamalkan secara rutin oleh Rasulullah saw. Beliau membacanya setiap pagi dan sore/malam. Sudahkah kita mengetahuinya dan mengamalkannya ?.

Demikian pentingnya kita terus belajar, menambah Ilmu, berguru dan bertanya tanpa malu, kemudian mari kita amalkan secara rutin Ilmu yang sudah diajarkan oleh Allah swt kepada kita.

Dan sebagai satu aplikasi langsung dari renungan hari ini, terima dan amalkanlah dzikir Istimewa berikut ini :

,,La Ilaha Illallah Wahdahu La Syarikalahu, Lahul Mulku Walahul Hamdu Wahuwa ‘Ala kulli suai‘in Qadir”

Dzikir ini dibaca 100 x dipagi hari dan 100 x disore/malam hari.

Selamat berdzikir. Semoga Allah merahmati.
Allahumma Shalli Wasallim ‘Ala Nabiyyina Muhammad

Kultum ke-11: Bulan Taubat Ramadhan

Innal Hamda Lillah, Wa Innasysyukra Lillah.
Wasshalatu wassalamu ‘Ala Rasulillah.

Taubat adalah salah satu Fardhu ‘Ain -kewajiban setiap muslim/muslimah-, berdasarkan firman Allah swt dalam surah Annur : 31 dan surah At Tahrim : 8. Jadi orang yang tidak bertaubat, berdosa, karena meninggalkan kewajiban.

Taubat berarti kembali kepada Allah, dengan perasaan, fikiran dan sikap. Hal tersebut dilakukan setiap kali kita membelakangi ajaran Allah swt. Setiap kali kita telah melakukan pelanggaran hukum Allah swt.

Setiap kali kita mendurhakai Rasulullah saw. Setiap kali kita lalai mengingat Allah swt. Dan bila kita mau jujur, alangkah seringnya kita melakukan dosa. Alangkah seringnya kita lupa dan lalai pada Allah dan pada nasehat Nya.

Taubat yang benar ialah taubat yang memenuhi tiga syarat yaitu :

1. Segera meninggalkan dosa yang dilakukan.

2. Menyesali dosa-dosa tersebut.

3. Bertekad untuk tidak mengulangi dosa itu.

Dan bila dosa itu berkaitan dengan hak sesama manusia -material maupun immaterial-, maka untuk mentobatinya, ditambah syarat keempat, yaitu : mengembalikan hak orang lain, atau memohon maaf darinya, atau meminta kehalalan darinya.

Selain memenuhi syarat-syarat taubat diatas, kitapun diwajibkan untuk melafadzkan uacpan-ucapan taubat, permohonan ampunan dari Allah swt, seperti :

  • Astaghfirullah
  • Astaghfirullahal ‘Azhim
  • Astaghfirullahal ‘Azhim Alladzi Lailaha Illa huwal Hayyul Qayyum Waatubu Ilaih.
  • Allahummaghfirli / Rabbighfirli

Ditambah dengan beberapa permohonan ampunan dari Al Qur‘an seperti Ayat disurah Al Baqarah Ayat terakhir : , surah Ali Imran : , , Surah Al A‘raf : ,dst.

Ditambah pula dengan sayyidul istighfar (permohonan ampunan terbaik) yang ada dalam hadits shahih (lihat kitab : Terjemahan Riyadhus Shalihin jilid 2 bab : hal : ).

Semua itu dibaca berulang-ulang, sebanyak mungkin, dibarengi dengan penghayatan, penyesalan yang mendalam, rasa takut pada adzab Allah, rasa cemas pada keselamatan diri sendiri di Akhirat kelak, sampai kita menumpahkan airmata taubat yang diberkahi itu.

Taubat ini mengajari kita untuk tawadhu’ merendah dihadapan Allah, bermohon dengan penuh kesungguhan, mengajari kita untuk menyadari siapa kita sesungguhnya, yang berlumuran dosa dan aib ?.

Taubat mengajari kita bagaimana seharusnya takut kita pada adzab Allah ?. Bagaimana seharusnya Iman kita mencegah kita untuk berlarut dalam dosa dan menambah dosa.

Dalam kaitan antara dosa dan taubat, ada satu hal yang penting untuk dicermati, yaitu seringnya kita berbuat dosa setelah kita taubat. Hal tersebut disebabkan oleh kurangnya/tidak adanya penghayatan taubat. Taubat kita belum memenuhi syarat.

Namun jika kita merasa bahwa taubat kita telah memenuhi syarat lalu kita masih terjatuh pada dosa yang sama jangan putus asa. Jangan merasa bahwa taubat kita tak bakal diterima lagi. Itu disebabkan oleh kurangnya hidayah dan taufiq dari Allah.

Setelah berbuat dosa, taubat dan taubat lagi. Perbanyak do‘a memohon taufiq, hidayah, kekuatan Iman, husnul khatimah. Allah swt berjanji mengabulkan do‘a hamba Nya yang Ikhlas, khusyu’ dan sungguh-sungguh.

Dalam bulan Taubat ini, semoga kita semua diberi kekuatan oleh Allah swt untuk mengulang-ulangi kalimat istighfar yang sempurna, minimal 100 (seratus) kali sehari semalam, agar hari kita semakin suci, Iman kita semakin kuat, perasaan dan kesadaran kita semakin dekat dengan Allah yang Maha Pemurah.

Taqabbalallah Minna Waminkum
Washallallahu Wasallama ‘Ala Nabiyyina Muhammad

Kultum ke-12: Bulan Al-Qur’an Ramadhan

Al Hamdulillah, Washshalatu wassalamu ‘Ala Rasulillah, Waba‘d.

Bulan mulia ini adalah bulan Al Qur‘an yang mulia. Pada bulan ini Al Qur‘an diturunkan. Oleh karena kitab mulia ini harus diturunkan pada bulan yang mulia, kepada manusia termulia, diperuntukkan buat umat termulia.
Maka sungguh mulialah orang yang memperhatikannya, dan sungguh hinalah orang yang mengabaikannnya.

Perhatian kepada Al Qur‘an, mulai dari cara meletakkannya ditempat yang layak, mengangkatnya dari lantai, kemudian dengan mempelajari bacaannya, tajwidnya, rajin membacanya setiap hari, berusaha menghafalkannya, terutama surah-surah pendek, kemudian mempelajari ma‘nanya, merawiykan kandungannya, sampai pada mengamalkan petunjuk-petunjuknya, dan mengajarkannya kepada orang lain.

,,Orang termulia ialah orang yang mempelajari Al Qur‘an dan mengajarkannya’’
(Hadits Shahih)

Sedang pengabaian Al Qur‘an berbentuk cara sembrono dalam meletakkan Al Qur‘an, tidak ada usaha mempelajari bacaan Al Qur‘an, dengan alasan sudah tua, sudah keras lidahnya, sudah sangat malu pada orang lain-, malas membacanya -dengan alasan tidak ada waktu-, sangat kurang hafalannya,

Bahkan yang pernah dihafal pun dilupakan, sangat jarang membaca terjemahannya, sangat jarang merenungkan kandungannya, tidak ada kesempatan untuk menghadiri pengajian, semua ini adalah penghinaan terhadap Al Qur‘an.

Walaupun ia tidak pernah memaki Al Qur‘an, tapi ia telah mengecilkan kehadirannya, tidak merasa berdosa dengan sikapnya terhadap kitab mulia ini.

Mari kita menyadari bahwa tidak ada kemuliaan yang hakiki, tak ada kebahagiaan yang sesungguhnya, tanpa perhatian penuh pada kitabullah ini..!!

Nah, bulan ini adalah kesempatan terbaik bagi kita untuk kembali kepada Al Qur‘an. Untuk menebus dosa-dosa kita kepada Al Qur‘an. sebab salah satu syi‘ar bulan suci ini ialah alunan suara pembaca, penghafal, menda‘wah Al Qur‘an, siang dan malam.

Yang belum lancar bacaan Al Qur‘annya, kini saatnya belajar memperlancar dan membenarkan bacaannya. Yang jarang membacanya, kini saatnya mengulangi hafalan yang hilang itu. Bila bukan sekarang kapan lagi ?.

Usaha kongkrit untuk mewujudkannya ialah mengurangi kegiatan duniawi, seperti kerja keras mencaari nafkah, obrolan duniawi, diskusi duniawi.

Kemudian mengoptimalkan waktu diluar kegiatan mencari nafkah, untuk memperhatikan Al Qur‘an. Mari kita kurangi perhatian pada hiburan seperti TV, Radio, Rekreasi, Olahraga, dst. Kemudian sahabat yang sama-sama membaca Al Qur‘an dengan kita, itu juga besar pengaruhnya dalam semangat membaca Al Qur‘an.

Mari kita mengaji bersama dirumah kita, bersama istri, anak, sieisi rumah. Semoga Al Qur‘an menyinari rumah kita dan mengusir syetan dan jin yang jahat.

Selain itu, ada satu program yang menarik bagi orang yang mempunyai tekad untuk mengkhatamkan Al Qur‘an minimal satu kali dalam bulan Istimewa ini. Program tersebut ialah :

Membaca 2 halaman sebelum setiap shalat fardhu, dan 2 halaman setelahnya. Jadi dalam 5 Shalat fardhu, kita telah membaca 20 halaman. Itu sama dengan satu juz.

Dalam 30 hari kita khatam Al Qur‘an. Dengan syarat, setiap kita melalaikannya pada satu waktu, kita mengkhada‘nya sebelum tidur.

Target ini sesungguhnya masih rendah bagi yang mempunyai kadar Iman yang tinggi ditambah lagi dengan tadarrus di rumah, bersama keluarga dan pada waktu-waktu lain, setiap hari.

Semoga Allah swt memberi taufiq dan
menambahkan Hidayah Nya kepada kita semua
Allahuma shalli wasallim ‘Ala Nabiyyina Muhammad.

Kultum ke-13: Bulan Tarbiyah Ramadhan

Al Hamdulillahi Rabbil ‘Alamin. Washshalatu wassalamu ‘Ala Asrafil
Mursalin….Waba‘d

Bulan Ramadhan adalah bulan pendidikan yang efektif. Bulan mulia ini dipersiapkan khusus oleh Allah swt untuk mensucikan hati para Hamba Nya yang beriman. Meningkatkan Iman mereka, menerima taubat mereka, membangun kepribadian mereka menjadi para muttaqin yang dekat dengan Allah swt.

Aspek pendidikan dari bulan Ramadhan itu nampak jelas pada motivasi yang luar biasa untuk memperbanyak amal shaleh pada bulan Ramadhan.

Selain itu, pembiasaan berbuat baik dan menghindari seluruh bentuk dosa – semaksimal kemampuan – selama sebulan penuh, itu akan melahirkan pribadi-pribadi yang berbeda. Berbeda karena kwalitas Imannya yang tinggi. Dan pengembangan kepribadian itu sesungguhnya bertumpu pada pembiasaan-pembiasaan positif.

Pembiasaan positif itu identik dengan pemaksaan diri untuk melakukan amal shaleh. Pemaksaan diri itu berarti penundukan terhadap hawa nafsu. Kemenangan ini senantiasa menghasilkan kebahagiaan dan ketenangan.

Bukankah kita semua mengalami hal tersebut setiap kali kita bangun untuk Qiyamullail ?. Pada saat mula bangun, kita sangat memaksakan diri, namun setelah kita shalat, kita mendapatkan kebahagiaan.

Hal tersebut kita rasakan pula pada siang hari terutama pada saat haus dan lapar sudah sangat terasa, namun tak berapa lama kemudian, kita semua berbahagia pada saat berbuka. Demikian pula dengan Ibadah-ibadah lainnya.

Terkadang kita berfikir panjang sebelum kita bersedekah, dan terkadang ada pula pemaksaan diri ketika kita memutuskan untuk bersedekah saat itu juga, namun tak berapa lama kemudian kita merasa bahagia karena kita telah membahagiakan orang lain. Kita bahagia karena kita membayangkan balasan Allah yang lebih baik.

Jadi, pemaksaan diri itu memang perlu untuk meraih kebiasaan-kebiasaan positif. Dan tak ada pendidikan tanpa pemaksaan diri. Karena hawa nafsu itu selalu menolak beban, melawan tugas dan keterikatan dengan peraturan dan hukum. Dan bila hawa nafsu ini kita turuti, kita akan sesat, hina, hancur binasa, cepat atau lambat.

Selain itu, pembiasaan positif yang mendidik, haruslah dibarengi dengan penghayatan yang berarti kesadaran dan konsentrasi dalam setiap amal shaleh yang kita lakukan. Oleh karena hanya penghayatan itulah yang mendatangkan kebahagiaan dan kekuatan untuk meneruskan dan meragamkan amal Ibadah kita.

Pemaksaan diri untuk beramal tanpa penghayatan, tapi hanya karena tidak enak pada orang lain, karena takut pada seseorang, biasanya tidak meningkatkan kwalitas kepribadian.

Oleh karena itu, para orang tua, para pendidik dihimbau untuk tidak hanya memerintah dan melarang anak/anak didik, memaksakan mereka untuk berdisiplin, tanpa melatih mereka untuk menghayati nasehat/kedisiplinan tersebut.

Pengajaran penghayatan tersebut dengan menjelaskan mengapa mereka diperintah ? apa hikmah dari larangan kita ?. Apa manfaat kedisiplinan bagi masa depan mereka ?.

Bukankah Allah dan rasul Nya mengajarkan penghayatan kepada kita dengan cara diatas ?. Kita tidak hanya disuruh beramal shaleh, tapi Allah menerangkan manfaat amal shaleh itu bagi kita di Dunia dan di Akhirat.

Kita tidak hanya sekedar dilarang berbuat dosa, tapi Allah dan Rasul Nya menjelaskan bahaya dosa itu bagi kita di Dunia dan di Akhirat.

Marilah kita mengoptimalkan pendidikan pribadi kita, pendidikan Istri dan anak kita pada bulan pendidikan yang mulia ini. sebab bila kita tidak mendidik kita pada bulan ini, pendidikan tersebut akan jauh lebih berat pada bulan-bulan lain.

Pelaksanaan pendidikan itu dengan pembiasaan berbuat kebaikan. Pembiasaan tersebut menuntut pemaksaan diri dan penghayatan tinggi…

Selamat berjuang dan banyaklah berdoa
Washallallahu Wasallama ‘Ala Nabiyyina Muhammad

Kultum ke-14: Bulan Mulia Ramadhan

Segala puja dan puji dan ucapan terima kasih , kita haturkan sepenuh-penuhnya hanya kepada pemiliknya yang hakiki, Allah swt, Rabbuna, Rabbul ‘Alamin.

Shalawat dan salam kita haturkan untuk pemimpin kita, teladan kita, yang mengajarikita tentang jalan lurus ini, Rasulullah Muhammad bin Abdullah saw.

Bulan sabit Ramadhan yang mulia telah terbit, umat beriman pun bersuka cita, bergembira dan berbahagia atas rahmat Allah, atas peluang emas yang diberikan oleh Allah untuk kita kembali memperbaiki diri menuju Ridha dan Jannah Nya.

Kegiatan membaca Al Qur‘an mulai nampak semarak dirumah-rumah dan dimasjid-masjid, Qiyamullail pertama dan sahur pertama, pengajian Ramadhan pertama, adalah bagian dari sambutan kita Pada tamu kita yang mulia ini. Sungguh sangat menyenangkan.

Segala Puji Untukmu Ya Allah. Engkau telah memberikan petunjuk kepada kami sehingga kami beriman, sehingga kami dapat merasakan kebahagiaan Ibadah luar biasa saat ini.

Hari-hari pertama pada setiap peristiwa yang membahagiakan, selamanya menjadi puncak kebahagiaan. Bahkan seringkali kebahagiaan itu justru hanya pada hari-hari pertama.

Coba kita mengenang/membayangkan hari-hari pertama pernikahan. Hari-hari pertama menimang bayi. Hari-hari pertama menempati rumah baru. Hari-hari pertama setelah lulus sekolah/kuliah. Hari-hari pertama setelah dapat rezki besar.

Bahkan hari-hari pertama memakai pakaian baru. Tentu amat membahagiakan, dan itulah yang tengah kita alami pada hari ini.

Namun kebahagiaan kita kali ini, jauh berbeda, dengan kebahagiaan-kebahagiaan fisik-material.Kini kita bahagia dengan Ibadah, dengan dzikrullah, sementara kebahagiaan fisik-material, sering kali membuat kita lalai kepada Allah swt.

Kebahagiaan dengan Ibadah mendapatkan marah besar dari musuh besar kita : Syetan, mereka pasti berusaha keras untuk menjauhkan kita dari kebahagiaan hakiki ini, sehingga jangan heran bila pada hari pertama bulan mulia ini, ada yang tidak turut berbahagia, ada yang menangis dan saling mempersalahkan, saling menyesalkan, karena sahur pertama mereka hanya makan ikan kering, karena atap rumah mereka bocor, karena TV nya rusak, dan sebagainya.

Yakinlah bahwa kesedihan semacam ini, bersumber dari kemenangan syetan atas iman kita yang lemah. Semestinya bersedihlah orang yang tidak sampai Qiyamullail.

Bersedihlah orang yang ketinggalan Bersedihlah orang yang belum genap satu juz bacaan Al Qur‘an-nya hari ini. Karena kelalaian-kelalaian tadi itu, juga bersumber dari kemenangan syetan atas iman yang lemah. Tapi kesedihan yang kedua ini, adalah bagian dari iman kita yang lemah itu.

Jika kita telah menyadari kemarahan syetan kepada kita pada hari ini, sepatutnyalah kita memacu langkah Ibadah secara maksimal untuk berlari sejauh mungkin dari syetan.

Mari kita menutup seluruh peluang baginya untuk masuk ke benak kita, dengan memperbanyak dzikir dan bacaan Al Qur‘an.

Pada hari pertama perlombaan beramal shaleh pada musim amal shaleh ini, mari kita mempercepat langkah, selagi kita masih kuat, masih bersemangat, masih sehat, jangan mencontoh orang yang Imannya lebih rendah, tapi paculah diri dengan mencontoh orang yang lebih shaleh, lebih aktif beramal shaleh.

Dan jika ternyata ada diantara kita yang pada hari ini kurang sehat, atau mendapat musibah – semoga tidak – sehingga kurang mampu beramal secara maksimal, janganlah cepat berputus asa, tapi banyaklah berniat, perbanyak rencana-rencana amal shaleh, karena sesungguhnya Allah swt memberi pahala kepada hambanya yang beriman dengan niatnya yang baik, yang tidak mampu beramal karena benar-benar berhalangan.

Dan ingatlah bahwa amal shaleh itu amat banyak bentuknya, mungkin kita terhalang melaksanakan tiga, empat jenis kebaikan, tapi masih terbuka bagi kita ratusan jenis kebaikan yang lain. Alhamdulillah Rabbil Alamin.

Di akhir renungan hari ini, mari kita berniat dan berusaha untuk memberi buka puasa di masjid terdekat atau kepada tetangga, di terminal, di warung dan restoran, walaupun dengan segelas air putih, sebiji pisang masak, yang seakan tak berguna, tapi sungguh amal itu dinilai dari niatnya yang Ikhlas dan kondisi orang yang melaksanakannya.

Selain itu, marilah kita menghidupkan malam yang kedua sebentar, menebus kekurangan yang mungkin terjadi pada siang ini dan berniatlah untuk lebih baik esok nanti.

„ Selamat Berbulan Mulia Ramadhan“.

Wassalamu ‘Alaikum Warahmatullah, Wabarakatuh

Kultum ke-15: Penghalang Hidayah

Hidayah yang berarti petunjuk Allah adalah rahasia kepatuhan seorang hamba. Tak ada amal shaleh yang kita kerjakan tanpa hidayah. Ia merupakan bahan bakar iman kita. Ia adalah sumber kekuatan kita dalam perjalanan menuju Allah.

fluktuasi iman mengikut pada kadar hidayah. Itulah sebabnya sehingga Surah Al-Fatihah yang paling sering kita baca mencantumkan do’a memohon hidayah:

اهْـدِنَا الصِّـرَاطَ المُسْتَقِـيم

Hidayah adalah karunia terbesar Allah kepada hambanya, karena hanya dengannyalah ia mengenal Allah swt dan tunduk patuh kepadaNya. Namun karunia mulia tersebut haruslah diIktiarkan, harus dicari, dikejar, dijaga dan dipertahankan.

Itulah maksud tujuan dari kewajiban menuntut ilmu dan itu pula yang dimaksudkan dengan kewajiban Istiqamah (konsisten) di jalan Allah.

Perjuangan spiritual kita membuktikan bahwa menemukan hidayah tidaklah mudah, dan mempertahankan hidayah itu jauh lebih berat.

Kita semua jatuh bangun dalam memegang hidayah. Itulah penafsiran yang sebenarnya dari fluktuasi semangat ibadah kita, fluktuasi gairah amal shaleh dalam diri kita. Tapi kita terus berjuang, terus bermujahadah untuk mendapat tambahan hidayah permanen, yang kokoh dan kuat.

Dalam perjuangan ini kita menemukan sejumlah penghalang hidayah, kendala Istiqamah yang patut kita cermati dan cari solusinya. Antara lain:

1. Materialisme: Paham kebendaan. Presepsi pemuliaan harta. Keyakinan pada kekeyaan sebagai sumber kebahagiaan dan kemuliaan.

2. Ketakburan: Arogansi, menolak kebenaran, tidak mau mendengar pendapat orang lain, dan merendahkan sesama manusia, memandang diri lebih mulia dari orang lain.

3. Lingkungan yang jelek: kawan-kawan yang jauh dari Allah swt, lingkungan dosa dan maksiat.

Upaya untuk menerjang ketiga penghalang hidayah ini ialah dengan hijrah. Hijrah pemikiran, hijrah akhlaq, hijrah lingkungan.

Langkah ke arah itu ialah komitmen yang tinggi untuk aktif di majelis Ta’lim rutin yang meyakinkan kita pada kebenaran pemahamannya, keshalehan pembinanya, dan mampu memberikan, solusi-solusi yang realistis dan bijak terhadap berbagai persoalan hidup di jalan Allah swt. Semoga Allah swt memudahkan langkah kita untuk hijrah yang hakiki, untuk hidayah yang abadi. Amin

Kultum ke-16: Objektifitas

Biasanya kita kurang bisa objektif jika kita mengerti, mengevaluasi, mengeritik masalah yang terkait dengan kepribadiaan kita, sifat, kebiasaan kita, orang-orang yang kita cintai, kepentingan pribadi kita, dst… Biasanya kita akan terdorong untuk membela diri, membela mereka dengan sekuat tenaga.

Biasanya orang di tegur, dinasehat itu cenderung untuk membela diri, meminta untuk di maklumi, dibenarkan. Atau berbalik menuduh kita ( orang yang menegur ) bahwa kita salah paham, keterlaluan, sanagt keras, tidak mengenal hakekat problem mereka, kita munafiq, melakukan hal yang sama atau bahkan lebih baik, kita hanya pandai nyomong!..hal-hal ini perlu di ambil kira ( perhatikan ) oleh orang yang akan menasehati orang lain. dengan tanpa menghalangi kita untuk berda’wah.

Bila kita meluangkan waktu untuk mengamati prilaku dan sikap-sikap serta keputusan- keputusan dan penilaian-penilaian kita atau pemahaman dan keyakinan-keyakinan kita, kita akan menemukan bahwa sangat banyak yang tidak ilmiyah tidak logis.

Sangat banyak dari semua itu yang tidak berdasarkan hujjah yang kuat. Kepribadian kita ini serimhkali di bentuk oelh hanya kebiasaan,lingkungan, dokrin, peraturan, kebutuhan/kepentingan, kesenangan ( hobby ) dan ketakutan melawan arys, ketakutan untuk menerima resiko yang besar.

Sangat jarang yang berdasarkan hujjah ilmiyah yang kuat yang membuat kita tenang, berani, tegas, bijak dan lemah dan lembut.

Aqidah banyak bermanfaat jika kita berfikir bahwa ada banyak hal dalam kepribadian kita yang harus di rubah dan diperbaiki, jika kita ingin mewujudkan kebahagiaan yang lebih besar, kemuliaan yang lebih tinggi, kesuksesan yang lebih besar dalam segala bidang !!.

Orang yang tidak berfikir untuk merobah diri itulah orang yang junud, statis, mandul bahkan baku. Ia mati sebelumwafat !,orang seperti itu tidak akan meju, tidak akan meningkat, tidak akan mendapatkan kebaikan yang lebih banyak.

Keinginan untuk berubah menghendaki keberanian untuk berkorban, menderita dan bersabar. Menghendaki kemauan keras dan ketekunan. Memerlukan pemahaman terhadap apa saja yang harus dirubah dan diperbaiki.

Bahkan kita memerlukan bantuan oranmg lain dalam perjuangan kepribadian ini. Setelah kita memiliki keinginan untuk berubah, kita perlu melakukan evaluasi terhadap beberapa aspek kepribadian, antara lain :

1. Pandangan terhadap kehidupan.

2. Keyakinan dan penghayatan keyakinan.

3. Kepatuhan dan kedisiplinan ber Islam.

4. Tingkat kedewasaan dan kebijaksanaan.

5. Kebiasaan-kebiasaan sehari-hari.

6. Tingkat pemahaman ke Islaman.

7. Keterpaduan dan keseimbangan hidup/waktu dan perhatian.

8. Kefanatikan,Tauhid, ketergantungan dengan orang lain.

9. Tingkat kesejahtraan ekonomi.

10. Kepekaan dan kepedulian sosial

11. Pendidikan Kelurga

12. Tingkat keindahan akhlak.

13. Kedekatan hubungan dengan Allah Swt.

Kultum ke-17: Menikmati Rumah Tangga Islami

Membangun rumah tangga islami adalah kewajiban setiap muslim. Pelaksanaan kewajiban ini diawali dengan pernikahan islami, dilanjutkan dengan pelaksanaan ajaran-ajaran Islam dalam rumah tangga, seoptimal mungkin dan secara berkesinambungan.

Pemahaman dan keyakinan ini penting untuk dihidupkan dan diperkuat dalam kepribadian kita semua.
Perjuangan dengan kerja keras untuk islamisasi pernikahan dan islamisasi rumah tangga perlu dinikmati, perlu dihayati agar kita merasa bahagia dan mulia dengan perjuangan, pengorbanan dan kerja keras kita di jalan Allah swt.

Bila kita tidak berupaya menikmati perjuangan nikah islami dan perjuangan islamisasi rumah tangga, niscaya kita akan merasa terbebani dan tertekan dengan perjuangan mulia ini.

Perasaan negatif seperti ini akan membuat kita ragu dengan perjuangan ini, kita akan malas berjuang dan akhirnya kita akan menyimpang. Nau’dzubillah.

Kiat-kiat menikmati rumah tangga Ilami :

1. Membangun pemahaman Islam yang benar (utuh dan komperehensif). Termasuk memahami kewajiban islamisasi pernikahan dan islamisasi rumah tangga. [QS. Al-Baqarah : 208]

2. Menikmati kehadiran di pengajian dan pendidikan Islam, sebagai sarana mendapatkan rahmat Allah, sarana menambah ilmu dan sarana ukhuwah islamiyah.

3. Membangun dan memperkuat keyakinan pada tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, tauhid asma’ dan sifat, rukun iman dan rukun Islam.
[QS. An-Nas: 1-5]

4. Membahagiakan diri dengan pelaksanaan pernikahan Islami, sebagai langkah awal pembangunan rumah tangga Islami.

5. Mendukung sepenuhnya pelaksanaan pernikahan Islami dan memboikot pernikahan jahiliyah. [QS. Al-Maidah :2]

6. Menomorsatukan Ibadah dalam kehidupan rumah tangga. Membuat planning ibadah, mengontrol pelaksanaannya dan mengevaluasinya.
[QS. Al-Hajj : 40-41]

7. Membudayakan akhlak-akhlak mulia dalam kehidupan rumah tangga dan selalu meluruskan setiap penyimpangan akhlak. [QS. Ali Imran: 133-136]

8. Meningkatkan cinta dan kasih sayang serta saling pengertian dalam kehidupan rumah tangga.

Contoh: Budaya saling memuji, budaya dengan saling memanggil dengan ungkapan sayang, ungkapan penghargaan, budaya mengungkapkan cinta tulus, budaya mengungkapkan ucapan terima kasih, budaya saling memaklumi saling memaafkan dalam koridor pendidikan.

Kultum ke-18: Kemiskinan

Kita semua tentu sering melihat kemiskinan. Kita semua sering melihat orang miskin. Bahkan besar kemungkinan kita semuapun merasakan bahwa kita miskin, Yah, kemiskinan itu ada di mana-mana.

Mayoritas Umat Islam memang masih berada dalam kemiskinan, bahkan banyak yang dari mereka yang berada di bawah garis kemiskinan, sungguh sangat menyedihkan.

Apakah realitas ini normal dan wajar?. Apakah ini Sunnatullah yang tidak dapat berubah?. Atau dalam realitas ini ada faktor kejiwaan, ada faktor skill, ada faktor etos kerja, ada faktor pola hidup yang konsumtif ?.

Apakah dalam realitas ini ada faktor pemahaman iman dan Islam yang minus? Nampaknya ini penting untuk kita renungkan.

Sebelum renungan kemiskinan ini kita teruskan, ada baiknya kita menyadari puluhan kemiskinan lain – selain kemiskinan materi yang turut mewarnai kehidupan kita. Kemiskinan itu antara lain:

Kemiskinan Iman, Amal Shaleh, Akhlak, Ilmu Wawasan, Pengalaman, kemiskinan Keterampilan, kemiskinan Pergaulan, kemiskinan Kreativitas, kemiskinan malu, kemiskinan, kemiskinan keberanian.

Nah, mari kita fikirkan dengan tenang. Kemiskinan materi dan dampaknya terhadap hidup kita ?. Jawabannya ialah : kemiskinan menghasilkan dampak yang paling ekstrim ialah : Tidak makan !.

Kemiskinan Dzikir -misalnya- apa dampaknya terhadap kehidupan kita ?. Jawabnya ialah : Tidak tenang, Tidak bahagia !.

Orang yang kaya dzikir tapi miskin materi, dapatkah ia bahagia?. jawabannya : PASTI !. Mengapa ? karena Allah yang Maha Benar telah berfirman :

الا بذكر الله تطمئن القلوب

“Ketahuilah, dengan Dzikir kepada Allah Swt, hati kita pasti tenang!”. (Q.S Alr-Raad: 28).

Jadi kalau begitu, biarlah kita miskin materi ?. Tidak perlu kita berusaha lepas dari kemiskinan materi ?. Oh Tidak !. Tapi jangan hanya kemiskinan materi saja yang difikirkan.

Mari fikirkan pula kemiskinan Iman, kemiskinan Dzikir, kemiskinan Ibadah dst. Secara seimbang. Oleh karena terbukti bahwa dampak kemiskinan jiwa lebih parah dari kemiskinan materi.

Bukankah kita semua pernah melihat orang yang Infailid yang bahagia ?. Orang yang berada di bawah garis kemiskinan tapi mampu tertawa, seakan tak punya susah ?. Itulah kebahagiaan jiwa.

Sebaliknya banyak orang yang memiliki uang Miliaran rupiah, tapi tetap merasa miskin, banyak orang yang telah masuk golongan orang kaya di masyarakatnya, tapi tidak tenang, tidak bahagia, selalu takut, selalu cemas, selalu iri hati, dst.. itulah kemiskinan jiwa.

Konsep Dasar Islam dalam hal ini, antara lain ialah;

1. Islam Mengentaskan Kemiskinan.

Islam menganjurkan Ummatnya berkecukupan agar mampu menunaikan Ibadah sebagaimana mestinya. Agar mampu mengeluarkan Zakat, Naik Haji, dan berjihad Fi Sabilillah. Islam menganjurkan kepedulian sosial, kepedulian pada pengentasan kemiskinan Ummatnya.

Oleh karena Islam menganjurkan ummatnya menjadi ummat yang kuat . Rasulullah Saw bersabda :

المؤمن القوي خير وأحب إلى الله من المؤمن الضعيف

Mu’min yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah Swt dari Mu’min yang lemah.

2. Islam Menganjurkan Kerja.

Dalam rangka pengentasan kemiskinan, Islam mewajibkan setiap ummatnya umtuk bekerja. Setiap muslim haruslah produktif. Islam mengharamkan sifat malas. Jadi kemalasan bekerja adalah dosa dalam Islam bahkan wanitapun diwajibkan untuk bekerja.

Allah Swt berfirman :

…. للرجال نصيب مما اكتسبوا وللنساء نصيب مما اكتسبن

“ Para pria mendapatkan bagian sesuai Usahanya, dan para wanitapun mendapatkan bagian sesuai hasil usahanya. ( Qs. An-Nisaa: 32)

3. Keseimbangan.

Dalam upaya mengentaskan kemiskinan, kita perlu memahami konsep keseimbangan. Yaitu bahwa perhatian kita kepada pengentasan kemiskinan seimbang dengan perhatian kita pada kemiskinan Iman, kemiskinan Dzikir, kemiskinan Ibadah Dst. Perhatian kita kepada dunia, seimbang dengan perhatian kita kepada Akhirat.

Dalam hal ini kita diajari berdo’a :

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

“ Wahai Tuhan kami berikanlah kepada kami kebaikan dalam hidup di Dunia dan kebaikan dalam hidup di Akhirat, dan selamatkanlah kami dari adzab Neraka. (Qs. Al-Baqarah : 201).

Atas konsep keseimbangan itulah kita menjauhi pekerjaan haram, praktek bisnis haram, meskipun menjanjikan dari segi duniawi.

Atas dasar itulah kita bekerja keras mencapai nafkah, tapi setiap tiba waktu shalat, kita tinggalkan seluruh pekerjaan kita. Tidak menghalangi kita untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban lainnya.

Atas dasar keseimbangan itulah kita kerja keras mencari nafkah, namun kita pun rajin mengeluarkan zakat, sedeqah dan infaq.

Mencari nafkah bukan atas dasar tamak dan untuk takabbur. Dan sebaliknya, sifat qana’ah tidak membuat kita malas dan bakhil.

4. Hidup Adalah Ujian.

Kita semua sedang diuji oleh Allah Swt. Ujian ini nanti akan berakhir dengan berakhirnya hidup kita di dunia ini. Pengumuman hasil ujian kita dan balasannya, nanti kita ketahui pada Mahkamah Akbar di hari Akhirat nanti.

Yang miskin diuji dengan kemiskinannya, yang kaya diuji dengan kekayaannya. Ada orang miskin tiba-tiba jadi kaya. Ada pula orang yang kaya tiba-tiba jatuh miskin. Itulah dunia.

Jadi kekayaan sama sekali bukan tanda keberuntungan. Demikian pula kemiskinan bukanlah tanda kehinaan dan kebinasaan. Yang menentukan nanti ialah cara kita melalui ujian Allah Swt ini. Yang sukses ialah yang sabar di kala miskin, Syukur di kala kaya. Selain itu, pasti binasa !!.

Itulah sebabnya seorang mu’min yang miskin akan bekerja keras mengentaskan kemiskinan dirinya dan bersabar dengan ujian Allah Swt. Ia tidak mundur, ia tidak iri hati, ia tidak menghalalkan segala cara untuk kaya. Ia tidak meninggalkan Ibadah, Al-Qur’an dan kewajiban-kewajiban lainnya.

Sebaliknya orang mu’min yang kaya, tetap bekerja memperbesar usahanya, meningkatkan produksinya, sambil bersyukur atas ujian Allah Swt.

Ia tidak bakhil, ia tidak takabbur, ia tidak memutuskan silaturrahmi, ia mendukung da’wah dan jihad, ia mengangkat yang lemah, ia tidak meninggalkan Ibadah, Dzikir, Al-Qur’an dan kewajiban-kewajiban lainnya.

Nah, apakah anda merasa diri kaya, atau merasa diri miskin ?.
Percayalah, kaya dan miskin, itu ada pada jiwa kita, ada pada perasaan kita.

Kultum ke-19: Inilah jodohku, jihadku, kebahagiaanku

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول ا لله وبعد

Setiap pernikahan di dunia ini, adalah ketentuan Allah swt. Pernikahan itu adalah kekuasaan Allah swt. Jodoh itu adalah pengaturan Allah Swt, pemberian Allah swt. Lihat: QS. Ar-Rum: 21.

Bagi seorang muslim, pernikahan itu menambah keyakinannya kepada Qadha dan Qadar Allah swt. Pernikahan itu memotivasi ia untuk mengamalkan syukur, shabar dan tawakkal, menuju Pengembangan Kepribadian Muslim yang berkesinambungan. Lihat: QS: Al-Hadid : 22-23, QS: Ibrahim: 7, QS: At-Taubah:51.

Pernikahan bagi setiap muslim adalah medan jihad dan amal shaleh yang sangat luas, sebagai bentuk pengabdian total kepada Allah swt. Sebab di sanalah ia berjuang untuk mentaati Allah swt, dan dengan demikian ia senantiasa memperoleh kebaikan yang sangat banyak, pahala yang sangat besar.

Pemantapan nilai-nilai luhur ini dalam sanubari setiap muslim-muslimah, memerlukan proses pebelajaran, peneguhan keyakinan, pemaksaan diri, planning, kerjasama dan konsultasi, maka hadirlah kajian walimah PKM ini.

Inilah Jodohku:

1. Jodoh itu, ditentukan oleh Allah swt.

2. Terimalah jodoh pemberian Allah swt dengan syukur dan sabar.

3. Pandanglah kebaikan & aspek positif jodoh kita.

4. Terimalah kekurangannya dan bersabarlah

5. Jangan suka mencela jodoh orang lain

Inilah Jihadku:

1. Rumah tangga adalah medan jihad sosial yang sangat luas. Tujuannya ialah Penerapan syari’at Islam dalam rumah tangga.

2. Pengorbanan terbesar dalam medan jihad ini ialah pengorbanan perasaan. Sabar dan ikhlas. Tenang dan lemah lembut. Terima kekurangannya dan katakan : Inilah Jihadku !.

3. Berilah nasehat yang lembut. Da’wahilah dengan cinta dn kasih sayang. Didik dan perbaikilah dia dengan pelayanan yang optimal & perhatian yang tinggi. Katakanlah : Inilah Jihadku !.

Inilah Kebahagiaanku:

1. Rumah tangga kita harus membahagiakan, betatapun kondisinya, betapapun problemnya. Katakanlah : Bayti Jannati. Rumahku Syurgaku !.

2. kebahagiaan rumah tangga, sangat terkait dengan semangat Jihad berumah tangga. Jihad suci itulah yang membuat rumah tangga bahagia. Hayatilah Jihad itu dn ucapkanlah : Inilah kebahgiaanku !!.

3. Bahagiakanlah diri sendiri. Tenangkanlah diri sendiri. Tidak ada yang sanggup membahagiakan kita, selain diri kita sendiri !!.

4. Jangan bandingkan pasangan kita dengan pasangan orang lain. Jangan bandingkan anak kita dengan anak orang lain. Katakan : Saya harus bahagia dengan dia. Saya pasti bahagia dengan anak-anak saya sendiri !!.

5. Jangan cari kebahagiaan dalam dosa !. Jangan cari kebahagiaan dengan kemalasana dan kebakhilan !. Kebahagiaan sebenarnya ada pada Ibadah, amal shaleh, dzikir, tilawah, do’a, membantu orang lain, dan kerja keras !.

Contoh Kultum Singkat: Menikmati Kehidupan Sebagai Suami Istri

1. Kehidupan suami isteri dalam ikatan pernikahan suci, sangat membahagiakan.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
QS. Ar-Ruum: 21.

Kebahagiaan sejati Laki-laki tidak sempurna tanpa Nikah. Demikian pun kebahagiaan sejati perempuan, takkan sempurna tanpa Nikah.

2. Menikmati kebahagiaan hidup sebagai suami-isteri sama dengan petani sejati yang menikmati kebunnya.

“Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemuiNya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman”. QS. Al-Baqarah: 223.

Pada permisalan itu ada nilai-nilai mulia, seperti; cinta, rasa tanggungjawab, kerja keras, kebebasan berkreasi, kelembutan, perhatian, kasih sayang, perlindungan, dan saling membahagiakan.

3. Menikmati kebahagiaan hidup sebagai suami-isteri, sama dengan menikmati pakaian.

….. mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka ….. QS. Al-Baqarah: 187.

Pada permisalan itu ada nilai-nilai mulia, seperti; persatuan, saling melindungi, persamaan hak antara suami-isteri, saling memperhatikan, saling melayani, saling menutupi kekurangan, dan masing-masing berusaha memberikan yang terbaik.

4. Menikmati kebahagiaan suami-isteri melalui cara berpikir islami, cara berpikir positif, menerima pasangan hidup kita apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. QS. An-Nisa’: 19.

….. boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. QS. Al-Baqarah: 216.

5. Menikmati kebahagiaan suami-isteri hanyalah benar dan islami, jika dilandasi dengan kebahagiaan imani; kebahagiaan karena Tauhid, kebahagiaan karena ibadah, kebahagiaan karena dzikir dan do’a, kebahagiaan karena tilawah al-Qur’an, kebahagiaan karena taubat, kebahagiaan karena akhlak, dan kebahagiaan karena da’wah. Itulah kebahagiaan imani. Itulah kebahagiaan sejati.

Hadits shahih :

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِلنَ حَلاَوَةَ الإِيْمَان :أَنْ يَكُوْنَ الله وَرَسُولـُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ ِلله، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ إِلَى الْكُفْرِ كَماَ يَكْرَهَ أَنْ يُقْذََفَ ِفي النَّارِ

Ada tiga perkara, siapa yang memilikinya, ia menikmati manisnya iman:

1) Bahwa Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari selain keduanya.

2) Bahwa ia mencintai seseorang semata-mata karena Allah.

3) Bahwa ia tidak ingin kembali kepada kekafiran karena ia tidak ingin masuk neraka.

Selamat menikmati kehidupan suami-isteri dan rumah tangga islami. Tambah ilmu, tingkatkan iman, rajin ibadah, perindah akhlak, tinggikan rasa tanggungjawab, nikmati perjuangan ini, optimis selalu. Allah bersama kita. Selamat berbahagia.

6. Setiap orang berusaha memperindah rumahnya, perabotnya, interiornya, eksteriornya, halamannya, tamannya. Ini adalah sifat yang baik, selama halal. Tidak berlebihan dan tidak meninggalkan kewajiban.

7. Yang lebih penting dari itu, memperindah penghuni rumah dengan kebersihan, kerapihan, dan penampilan yang indah.

Hadits Shahih:

“Aku berhias untuk isteriku, sebagaimana ia berhias untukku”

8. Sejalan dengan itu, prilaku penghuni rumah wajib diperindah, agar tercipta rumah tangga islami yang bahagia.

Hadits Shahih:

“Rumahku Syurgaku”

9. Dasar-dasar perilaku indah dalam rumah tangga; Jujur, Tawadhu, Sopan, Husnuzhan, Menjaga Lidah, Senyum, Senang membantu, Pemaaf, Syukur, dan Sabar.

10. Mewujudkan akhlak mulia memerlukan; Pendidikan/pembiasaan, Keteladanan, Pemaksaan oleh diri sendiri ataupun dari orang lain, Penghayatan/pembahagiaan diri, dan Evaluasi/introspeksi.

Selamat berjuang untuk Akhlak yang lebih baik. Selamat berbahagia dengan Akhlak Mulia.
Semoga Allah Swt merahmati kita semua. Amin.

Kultum ke-20: Kiat Meningkatkan Perhatian Pada Al-Qur’an

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Hari ini adalah hari keempat yang Mulia dari bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Semoga semangat ibadah kita masih menyala-nyala. Semoga kita semua kuat dan sukses mengatasi hambatan dan rintangan ibadah yang kita hadapi dalam keseharian kita selama bulan Istimewa ini.

Hari keempat berarti sepatutnya tilawah Al-Qur’an kita minimal pada juz keempat, karena kita sudah mencanangkan untuk membaca satu juz perhari agar kita bisa khatam Al-Qur’an pada bulan Al-Qur’an ini, minimal satu kali, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

Jika kita melakukan survey sederhana di lingkungan kerja kita, atau di lingkungan tetangga kita tentang tilawah Al-Qur’an orang-orang yang ada di sekitar kita, kemungkinan besar akan menghasilkan bahwa kebanyakan dari mereka belum mencapai juz keempat pada hari ini.

Jika perkiraan ini benar, maka ini merupakan indikasi rendahnya perhatian ummat Islam pada tilawah Al-Qur’an. Dan ini sangat memperihatinkan dan sangat menyedihkan.

Betapa tidak, padahal Allah Swt telah memuliakan kitab-Nya, Allah Swt telah mengabadikan firman-firman-Nya, agar ia dimuliakan oleh hamba-hamba-Nya, agar ia dijadikan sebagai pedoman hidup oleh hamba-hamba-Nya yang beriman.

Mari renungkan firman Allah Swt dalam Surah Al-Hijr (15) : 9, Surah yunus (10) : 57 ).

Allah Swt telah menetapkan Al-Qur’an sebagai Nur (cahaya hati) dan Ruh (kehidupan Ruhiyah/jiwa).

Mari renungkan Firman Allah Swt dalam Surah Asy-Syura (42 ):52)
Allah Swt telah menetapkaan Al-Qur’an Sebagai nasehat, sebagai obat untuk seluruh penyakit hati, dan seluruh kegalauan pikiran, sebagai petunjuk dan Rahmat bagi orang-orang yang beriman. Mari renungkan firman Allah Swt dalam surah Yunus (10):57).

Semua penjelasan di atas mempertegas peranan Al-Qur’an dalam kehidupan seorang Muslim, sebagai sumber kebahagiaan, sebagai rahasia ketenangan, sebagai syarat keberkahan hidup, sebagai terapi terhadap seluruh perasaan negatif dan penyakit-penyakit hati, dan sekaligus sebagai program kerja setiap muslim.

Interaksi kita dengan Al-Qur’an akan melalui beberapa tahap ;

1. Membaca Al-Qur’an.

2. Mengkaji Maknanya.

3. Menghayati petunjuknya.

4. Mengamalkan nasehatnya.

5. Mencintai Syari’ahnya.

Tahapan-tahapan ini tidak berarti harus runtut, semua itu dapat dilakukan secara bersamaan ataupun bertahap, dan yang penting bahwa semua itu dilandasi dengan keikhlasan dan rasa cinta kepada Kitabullah yang mulia ini.

Ada sejumlah kendala yang menghalangi sebagian besar masyarakat muslim kita untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an, Antara lain :

1. Tidak paham arti ayat-ayat Al-Qur’an.

2. Persepsi yang keliru mengatakan :

“ Tidak berguna membaca Al-Qur’an jika tidak memahami artinya.

3. Tidak bisa membaca Al-Qur’an.

4. Lingkungan yang tidak mendukung untuk rajin membaca Al-Qur’an.

5. Tidak merasa berdosa jika tidak membaca Al-Qur’an.

Sesungguhnya akar dari seluruh kendala di atas ialah : Rendahnya iman kita Al-Qur’an, rendahnya cinta kita kepada Al-Qur’an. Kondisi inilah yang mengantar kita pada kelalaian terhadap Al-Qur’an. Dan karena itu, maka rendah pula perlawanan kita terhadap kendala-kendala diatas.

Untuk itu, Iman pada Al-Qur’an perlu dihidupkan dan ditingkatkan. Bahwa Al-Qur’an itu sebagai konsumsi jiwa kita, sebagai sumber kebahagiaan kita, sebagai mesin pahala yang luar biasa untuk kita, sebagai pemberi

Syafaat/penyelamat kita di hari akhirat. Al-Qur’an adalah surat cinta Allah Swt kepada kita semua. Maka kita yang cinta kepada Allah Swt, sepatutnya menyambut bahagia surat-surat suci ini.

Bulan Istimewa Ramadhan yang Mulia ini adalah momentum yang paling tepat untuk meningkatkan perhatian kita kepada Al-Qur’an yang mulia. Marilah kita berjuang dan bekerja keras untuk membacanya.

Mari memaksa diri untuk membaca satu juz setiap hari. Dengan harapan semoga kerja keras ini mendatangkan berkah dan rahmat Allah Swt sehingga kita semakin cinta kepada Al-Qur’an. Dan orang yang dekat dengan Al-Qur’an, pasti dekat dengan Allah Swt.

Berikut ini beberapa Tips untuk lebih dekat dengan Al-Qur’an :

1. Membawa Al-Qur’an kemanapun kita pergi. (kecuali ke kamar kecil).

2. Memaksa diri untuk membaca Al-Qur’an setiap hari.

3. Berguru pada seseorang yang baik tilawahnya.

4. Membiasakan diri mendengar kaset tilawah Al-Qur’an.

5. Membaca terjemahan Al-Qur’an dan menghayatinya, minimal satu ayat sehari.

Kiat untuk membaca satu juz perhari :

Membaca 2 halaman sebelum Shalat Shubuh dan 2 halaman sesudahnya.

Membaca 2 halaman sebelum Shalat zhuhur dan 2 halaman sesudahnya.

Membaca 2 halaman sebelum Shalat Ashar dan 2 halaman sesudahnya.

Membaca 2 halaman sebelum Shalat Maghrib dan 2 halaman sesudahnya.

Membaca 2 halaman sebelum Shalat Isya dan 2 halaman sesudahnya.

Membaca 2 halaman itu Insya Allah tidak lebih dari 10 menit. Dan bila target itu tidak tercapai, maka harus diupayakan untuk diqadha/diganti segera pada kesempatan terdekat. Yakinlah, bila ada kemauan, pasti ada jalan. Jika ada kesungguhan, pasti BERHASIL. Insya Allah.

Demikianlah beberapa contoh kultum yang bisa anda jadikan sebagai referensi. Semoga artikel ini bermafaat dan kepada Allah kita berlindung atas segala kesalahan.

Tinggalkan komentar