Niat, Waktu dan Doa Sholat Dhuha Beserta Cara Pelaksanaannya

Doa sholat dhuha – Sholat dhuha merupakan salah satu dari sholat-sholat sunnah sangat dianjurkan bagi setiap muslim. Apalagi para penuntut ilmu, sholat dhuha tidak seharusnya ditinggalkan karena di dalamnya keutmaan yang yang agung yang tidak ada pada sholat-sholat sunnah lainnya.

Sholat dhuha sekilas nampak mudah dilakukan, namun pada prakteknya sangat sulit untuk bisa konsiten dalm mengerjakannya. Mengerjakan sholat dhuha dua rakaat dengan konsisten sangatlah berat, apalagi mengerjakan 4, 6, 8 rakaat dan seterusnya. Namun bagi orang yang menyadari keutamaannya, mereka tetap berusaha istiqomah dalam mengerjakan sholat ini.

Nah, pada tulisan ini, kita membahasa tentang keutamaan, doa, dan berbagai hal terkait sholat dhuha. Semoga dengan mengetahui hal-hal terkait sholat dhuha, kita semakin termotivasi dan istiqomah dalam menjalankan ibadah yang mulia ini.

 

Niat Sholat Dhuha

Niat Sholat Dhuha
vilreal.com

Setiap ibadah harus diawali dengan niat ikhlas karena Allah Azza Wajalla, artinya mengerjakan ibadah itu semata-mata karena mengharapkan ridho dan rahmat Allah. Bahkan suatu pekerjaan akan dinilai dengan niatnya.

Ada pekerjaan biasa yang bernilai ibadah karena orang yang mengerjakannya niat baik dan ikhlas. Adapula ibadah yang tidak bernilai karena niatnya bukan karena ikhlas semata karena Allah. Jadi, niat merupakan perkara penting yang harus ada dalam setiap ibadah.

Termasuk saat hendak mengerjakan sholat-sholat sunnah, seperti sholat sunnah rawatib, sholat tahajud, sholat witir, dan juga sholat dhuha, mesti diawali dengan niat yang ikhlas karena Allah Ta’ala.

Lalu, apakah niat tersebut harus dilafazkan atau diucapkan setiap kali hendak mengerjakan sholat dhuha. Hal ini perlu dikaji lagi karena ini terkait, apakah melafazkan niat ada syari’atnya atau tidak?

Munculnya anjuran melafazkan niat dengan lafaz tertentu setiap kali hendak mengerjakan suatu ibadah, berawal dari kesalahan memahami pernyataan Imam As-Syafi’i terkait tata cara sholat. Imam Asy-Syafi’i mengatakan:

syarat sah sholat dhuha

An-nutq artinya berbicara atau mengucapkan, dan sebagian Syafi’iyah memaknai an-nutq di sini dengan malafazkan niat. Padahal ini adalah kesalah fahaman terhadap maksud Imam Syafi’i Rahimahullah.

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan an-nutq di sini bukanlah mengeraskan bacaan niat, akan tetapi maksudnya ialah mengucapkan takbiratul ihram. An-Nawawi berkata:

Sunnah sunnah sholat dhuha

 

Abul Hasan Al-Mawardi Asy-Syafi’i juga membantah kesalahpahaman ini, beliau berkata;

kewajiban sholat sunnah dhuha

 

Karena kesalahan dalam memahami perkataan Imam Asy-Syafi’i ini, banyak tokoh agama yang mengaku bermadzhab Syafi’i, mengajarkan kepada masyarakat bahwa niat untuk sholat harus dilafazkan. Lalu masyarakat pun memahami bahwa setiap ibadah juga harus dilafazkan niatnya, sehingga muncullah lafaz-lafaz niat wudhu, niat tayamum, niat mandi besar, niat puasa, niat zakat, dan lain-lain.

Niat adalah Keinginan

Ketika seseorang telah berkeinginan kuat melakukan suatu ibadah, maka itulah niatnya, baik untuk urusan ibadah atau muamalah.

Ketika ada keinginan untuk mengerjakan sholat dhuha, itulah niat sholat dhuha, dan tidak perlu melafazkan niat sholat dhuha seperti yang banyak diajarkan di tengah masyarakat. Wallahu a’lam.

Waktu Sholat Dhuha

Waktu Sholat Dhuha
tadinyanorak.com

Sholat dhuha dimulai sejak matahari mulai naik hingga setinggi tombak, yakni sekitar 15 menit setelah matahari terbit, dan waktu terakhir ialah hingga sebelum matahri condong ke barat, selama tidak dilaksanakan pada waktu yang dilarang untuk melakukan sholat, yaitu sekitar 10 menit sebelum matahari bergeser ke Barat.

Pendapat ini adalah pendapat maayoritas ulama. Dari pendapat ini dapat disimpulkan bahwa waktu sholat dhuha masuk kira-kira lima belas menit sejak matahari terbit.

Waktu terbaik untuk melakukan solat dhuha ialah saat matahri sudah terik, ini berdasarkan hadits Zaid bin Arqam, bahwasanya Nabi shallallahu ‘Alaihi wa sallam bersabda:

“Sholat Awwabiin ‘orang-orang yang kembali kepada Allah’ adalah pada saat anak-anak onta mulai kepanasan”.

Maksudnya ialah ketika padang pasir sudah panas sehingga anak-anak onta merasakan panas di telapak kakinya ketika berjalan di padang pasir, waktu itu terjadi menjelang matahri tergelincir atau condong ke barat.

Hukum Sholat Dhuha

Hukum Sholat Dhuha
hipwee.com

Terkait hukum sholat dhuha, para ulama terbagi menjadi enam pendapat, dan yang paling masyhur ada tiga pendapat;

Pertama, Hukumnya adalah sunnah secara mutlak, dan disunnahkan untuk dikerjakan secara rutin

Pendapat ini adalah pendapat yang dipegang oleh mayoritas ulama, selain madzhab Hanbali.

Dalil pendapat ini sebagai berikut:

1. Keumuman hadits-hadits yang telah disebutkan yang berkaitan dengan keutamaan shalat dhuha, terutama hadits,

manfaat dan khasiat sholat dhuha

2. Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau berkata,

manfaat dan khasiat sholat dhuha di pagi hari

3. Hadits Mu’adz Al-Adawiyah, dia berkata, “Aku bertanya kepada Aisyah, ‘Apakah Rasulullah mengerjakan sholat dhuha?’

manfaat sholat sunnah dhuha

 

Adapun dalil disunnahkannya mengerjakannya secara rutin adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam;

khasiat sholat sunnah dhuha

 

Kedua, disunnahkan jika sesekali dikerjakan dan sesekali ditinggalkan, tidak dikerjakan secara rutin dan terus menerus

Pendapat ini merupakan pendapat yang dipegang oleh ulama madzhab Hanbali, dalil yang mereka jadikan hujjah ialah sebagai berikut;

a. Hadits Abu Sa’id, dia berkata,

keajaiban sholat dhuha

b. Hadits Anas Radhiyallahu anhu dalam kisah sholar dhuha Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah ‘Utbah bin Malik, Fulan bin Al Jarud bertanya kepada Anas, “Apakah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukakn sholat dhuha?” Anas menjawab, “Belum pernah aku lihat beliau sholat dhuha kecuali pada hari itu”. HR. Al Bukhori no.670

c. Hadits Aisyah Radhiyallahu anha, dia berkata,

keutamaan dan keajaiban sholat dhuha di pagi hari

Ketiga, tidak disyariatkan kecuali ada sebab

Sebab yang dimaksud di sini misalnya ketika tidak tidak bisa mengerjakan sholat malam, atau ketinggalan sholat malam karena tertidur, dan sholat sunnah lainnya.

Pendapat ini yang dikuatkan dan dipilih oleh Imam Ibnu Qoyyim Aj-Jauziyah Rahimahullah. Ibnu Qoyyim memaparkan dengan panjang lebar terkait pendapat pendapat dalam masalah ini. Lihat Zad Al Ma’ad (1/341-360)

Mereka yang berpendapat bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan sholat dhuha kecuali karena ada sebab, dan pelaksanaannya bertepatan dengan waktu dhuha dengan sebab yang bermacam-macam, dalil mereka sebagai berikut:

1. Hadits Ummu Hani’ bahwasanya Rasulullah masuk ke dalam rumahnya pada hari penaklukan kota Mekah, lalu beliau mandidan sholat delapan rakaat / sholat dhuha, dan aku belum pernah melihat sholat yang lebih ringkas dari sholat ini, namun beliau tetap menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, hal ini lantaran nikmat takluknya kota Mekah.

Para ulama berkata, “Sholat sunnah karena sebab takluknya suatu negeri (kemenangan) adalah empat rakaat”. Ath-Thabari menukil bahwa Khalid bin Walid ketika menaklukkan kota Al Hirah, dia juga melaksanakan sholat sunnah delapan rakaat.

2. Sholat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah Utban bin Malik, merupakan jawaban dari permintaannya agar Rasulullah sholat di rumahnya pada tempat yang akan dia jadikan musholla. Dan hal ini dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tepat pada waktu dhuha, lalu diringkas oleh perawi hadits ini dengan mengatakan, “Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sholat dhuha di rumahnya / rumah Utban bin Malik”.

3. Dari Abdullah bin Syafiq, bahwasanya ia pernah bertanya kepada Aisyah Radhiyallahu anha, “Apakah Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakuka sholat dhuha? Beliau menjawab, “Tidak, kecuali apabila beliau datang dari sebuah perjalanan”. HR. Muslim no. 717

Sebab beliau melarang untuk pulang dan mengetuk pintu rumah pada malam hari tanpa pemberitahuan terlebih dahulu dan beliau selalu datang dari perjalanan pada waktu siang, kemudian masuk masjid dan melakukan sholat pada waktu dhuha.

Mereka berkata, “ Adapun hadits hadits yang menyangkut anjuran dan pesan untuk melakukan sholat dhuha, semuanya tidak berarti menunjukkan bahwa sholat dhuha disunnah bagi setiap orang. Oleh karenanya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkannya kepada untuk Abu Dzar dan Abu Hurairah, dan tidak untuk seluruh sahabat sahabat Nabi yang lain”.

Imam Ibnu Qoyyim berkata, “Barangsiapa yang mengamati hadits hadits marfu’ dan atsar para sahabat semata, semuanya tidak memberikan petunjuk kecuali seperti yang ditunjukkan oleh pendapat ini”.

Syaikhul Islam menyatukan pilihannya dengan pendapat ini dan berpendapat bahwa seseorang yang sudah terbiasa mengerjakan sholat malam, tidak disunnahkan baginya mengerjakan sholat dhuha.

Adapun bagi orang-orang yang tidak terbiasa sholat malam, maka disunnah baginya melakukan sholat dhuha secara mutlak setiap hari. Al Ikhtiyarat (64)

Mengenai hal ini, Syaikh Abu malik Kamal bin As-Sayyid Salim berkata:

“Tidak ada keraguan bahwa pendapat yang yang kuat dalam hal ini adalah pendapat yang pertama, karena keumuman hadits yang menjelaskan anjuran untuk mengerjakan sholat dhuha dan menyebutkan keutamaannya, yaitu dapat mewakili sedekah bagi 360 persendian yang dimiliki setiap orang.

Adapun dalil-dalil yang diriwayatkan dari para sahabat, seperti Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Umar, dan lainnya yang mengingkari sholat dhuha, tidak bisa membatalkan syari’at sholat dhuha, sebab para sahabat selain mereka berdua telah menyatakan pensyari’atan sholat dhuha.

Setiap orang akan meriwayatkan apa yang dia lihat, maka orang yang mengetahui menjadi hujjah / bukti bagi orang yang tidak mengetahuinya.

Sama halnya dengan riwayat yang mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat yang lain meninggalkan sholat dhuha pada saat saat tertentu, tidak bisa dijadikan sebagai dalil tidak disyaria’atkannya sholat dhuha.

Hal ini karena untuk menyatakan dan menetapkan bahwa sesuatu itu disyari’atkan, tidak ada syarat bahwa hal tersebut harus dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara terus menerus.

Sholat dhuha merupakan amalan yang disyari’atkan dan dianjurkan untuk dilaksanakan karena pahalanya yang sangat besar. Olehnya itu, Ummul mukminin Aisyah Radhiyallahu anha berkata;

keutamaan sholat dhuha pagi hari

Jumlah Rakaat Sholat Dhuha

Jumlah rakaat sholat dhuha, doa sholat dhuha
luthfan.com

Ada sejumlah dalil dari As-Sunnah yang menjelaskan tentang sholat dhuha. Berikut ini hadits hadits yang menjelaskan tentang sholat dhuha;

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu dzar:

manfaat sholat dhuha setiap hari

 

Diriwayatkan dari Abu Darda’ dan Abu Dzar Radhiyallahu anhuma, bahwasanya Rasulullah bersabda, Allah Azza Wajalla berfirman:

“Wahai anak Adam, rku’lah untuk-Ku empat rakaat di awal siang, niscaya Aku akan mencukupimu di akhir siang”. HR. At-Tirmidzi

Itulah beberapa hadits yang menjelaskan jumlah sholat rakaat, dan masih ada sejumlah hadits lain yang menjelaskan hal ini. Hadits-hadits yang telah disebutkan di atas menjadi hujjah akan bolehnya mengerjakan sholat dhuha dua rakaat atau lebih.

Para ulama sepakat bahwa jumlah sholat dhuha yang paling sedikit ialah dua rakaat. Yang menjadi perbedaan diantara mereka ialah pada jumlah bilangan paling banyak untuk sholat dhuha, dalam hal ini para ulama terbagi menjadi tiga.

Paling Banyak 8 Rakaat

Jumlah maksimal sholat dhuha adalah pendapat para ulama dari kalangan mazhab Maliki, Mazhab Syafi’i, dan Mazhab Hambali.

Pendapat ini berhujjah pada hadits Ummu Hani’ bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah masuk rumahnya pada hari penaklukkan kota mekah, lalu beliau sholat 8 rakaat.

Paling banyak 12 Rakaat

Yang berpegang pada pendapat ini ialah Mazhab Hanafi, dan salah satu pendapat ayng lemah dari Mazhab Syafi’i, serta salah satu riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal.

Pendapat ini berdalil pada pada hadits yang marfu’, “Barang siapa yang sholat dhuha sebanyak 12 rakaat, niscaya Allah akan membangun sebuah istana untukknya di surga”. Namun para ulama hadits mengatakan bahwa hadits ini lemah.

Tidak Ada Batasan Jumlah Maksimal Sholat Dhuha

Ini merupakan pendapat beberapa ulama salaf, dan para ulama menguatkan pendapat ini karena dua alasan;

1. Hadits Mu’adzah, dia berkata, “Aku bertanya kepada Aisyah Radhi

Yallahu anha, ‘apakah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah sholat dhuha?’ Dia menjawab, ‘Ya, sebanyak empat rakaat rakaat lalu beliau menambhkannya lagi”. HR. Muslim no.719

2. Pembatasan pada delapan rakaat yang terdapat dalam hadits Ummu Hani’ tertolak dengan dua alasan;

– Ada sebagian ulama mengatakan bahwa itu adalah sholat sunnah fath / penaklukkan kota Mekah, dan bukan shalat dhuha.
– Pembatasan jumlah sholat dhuha menjadi delapan rakaat tidak menunjukkan bahwa penambahan lebih dari itu tidak disyari’atkan, karena ini dalam kasus perorangan. Wallahu a’lam

Tata Cara Sholat Dhuha

Tata cara melaksanakan sholat dhuha tidak berbeda dengan sholat sunnah lainnya, perbedaannya hanya ada pada niat dan waktu pelaksanaannya. Sholat dhuha dimulai dengan takbiratul ihram sampai salam.

Adapun bacaan sholat dhuha, tidak hadits shohih yang secara tegas menjelaskan hal ini. Sehingga dari segi bacaan pun, sholat dhuha sama saja dengan sholat-sholat sunnah lainnya.

Doa Sholat Dhuha

Waktu sholatfardhu

Ada doa sholat dhuha yang sangat terkenal di sebagian kalangan di tenga-tengah masyarakat yang dibaca setiap selesai sholat dhuha. lafaz doanya yaitu:

Doa ini disebutkan oleh Abu BAkr Ad-Dimyathi dalam I’anatul Thalibin (1/295) dan Asy-Syarwani dalam Syarhul Minhaj (7/293). Namun kedua penulis ini tidak menunjukkan atau memberikan keterangan terkait asal dan dalil bacaan ini.

Tim fatwa Syabakah Islamiyah yang ada di bawah bimbingan Dr. Abdullah Al-FAqih mengomentari doa ini, “Kami tidak mendapatkan dalil yang kuat yang menunjukkan adanya doa ini pada referensi-referensi yang kami miliki”. Lihat Fatawa Syabakah Islamiyah, no.53488.

Apakah doa ini boleh diamalkan?

Tidak ada hadits yang jelas dan kuat yang menunjukkan bahwa doa ini berasal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan setiap orang yang beriman wajib memahami dan menjadikan prinsip bahwa ibadah dalam agama Islam bersifat tauqifiyah, artinya menunggu dalil baru dikerjakan.

Hal itu karena hukum asal ibadah adalah haram kecuali jika ada dalilnya, apapun bentuk ibadah itu dan siapa pun yang mengajarkannya, baik ibadah berupa sholat, doa, dzikir, dan lain-lain.

Keutamaan Sholat Dhuha

Keutamaan Sholat Dhuha
bundasisyah.com

Setiap amalan yang disyari’atkan pasti ada keutamaan dan faedahnya. Allah Azza Wajalla dan Rasulullah pun selalu menjelaskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah akan keutamaan amalan amalan yang disyari’atkan.

Selain karena menjalankan perintah Allah dan RasulNya, mengerjakan amalan amalan tersebut untuk mendapatkan keutaman yang disediakan oleh Allah untuk orang yang mengerjakannya. Kutamaan kutamaan yang terdapat pada suatu amalan akan menajdi motivasi ekstra untuk lebih memperhatikan amalan tersebut.

Seseorang rela menahan lapar dan haus saat berpuasa, karena ia tahu bahwa ada keutamaan pada puasa. Kenapa orang rela bangun pada waktu semua orang terlelap, karena ia tahu bahwa ada keutamaan pada sholat tahajjud.

Dua rakaat sholat dhuha, pahalanya menyamai sedekah dengan jumlah yang banyak

Rasulullah bersabda:

kejaiban kejaiban sholat dhuha

 

Dua Rakaat sholat dhuha, cukup untuk menutupi sedekah untuk 360 ruas tulang

Rasulullah bersabda:

keutamaan dan keajaiban sholat dhuha

 

Dua hadits di atas menunjukkan akan besarnya keutamaan yang ada pada sholat dhuha. Sholat dhuha memiliki kedudukan yang tinggi dalam agama ini dan syari’at sangat menekankan untuk mengerjakan sholat dhuha.

Untuk mensedekahi 360 persendian pada tubuh cukup dengan sholat dua rakaat pada waktu dhuha. Keutamaan ini menunjukkan bahwa sholat dhuha merupakan sholat sunnah yang sangat dianjurkan dikerjakan rutin setiap hari. Lihat Nail Al Authar (3/78)

Sholat Dhuha Melancarkan Rezeki

Sebagian masyarakat mengaitkan sholat dhuha dengan rezeki, salah satu hadits yang bisa jadi menjadi sebab adanya anggapan ini ialah hadits yang diriwayatkan dari Uqbah bin Amir radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah bersabda:

manfaat sholat dhuha di pagi hari

 

keterangan:

1, Para ulama berselisih terkait 4 rakaat di awal siang yang disebutkan dalam hadits ini. Sebagian mengatakan ‘sholat dhuha’, ada yang berpendapat ‘sholat isyraq’, dan ada juga yang mengatakan ‘sholat qabliyah subuh dan sholat subuh’.

Hal ini diterangkan oleh Mula Ali Al-Qori dalam Al-Mirqoh: 1/980. Dan ditegaskan oleh Ibnu Abdil Bar, bahwa para ulama memahami empat rakaat dalam hadits tersebut adalah sholat dhuaha, Al-Istidzkar:2/267.

2. Imam As-Sindi menjelaskan tentang kalimat ‘Aku akan penuhi dirimu’, kalimat ini memiliki beberapa kemungkinan makan;

Aku cukupi dirimu sehingga terhindar dari segala musibah, berupa kecelakaan, penyakit, dan lainnya.
Aku cukupi dirimu dengan dianugrahi penjagaan dari kemaksiatan dan dosa, serta diberikan ampunan terhadap dosa yang dilakukan hari itu.

3. Aku cukupi dirimu dalam segala hal.

Lihat Ta’liq Musnad Ahmad Syuaib Al-Arnauth: 28/613.

Bila diperhatikan dengan baik, hadits di atas tidak menunjukkan secara tegas bahwa sholat dhuha merupakan pintu rezeki. Hadits ini hanya menyebutkan janji Allah bagi orang yang mengerjakan sholat 4 rakaat pada pagi hari, baik sholat qabliyah subuh, sholat subuh, atau sholat dhuha, akan dicukupi di akhir hari itu.

Sholat Dhuha adalah Sholatnya Orang Orang Yang Bertaubat

Diriwayatkan dari Yazid bin Arqam, dia berkata, “suatu hari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi ke penduduk Quba dan mereka sedang mengerjakan sholat dhuha, lalu Rasulullah bersabda;

sholat dhuha orang bertaubat

 

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

sholat dhuha setiap hari

 

Awwabin berasal dari kata awwab, yang berarti orang yang kembali. Dikatakatan awwabin, sebab mereka adalah orang-orang yang kembali kepada dengan melakukan ketaatan. Lihat Faidhul Qadir: 1/408

Siapa Yang Mengerjakan Sholat Dhuha Akan Diberi Kecukupan Oleh Allah Pada Hari Itu

Rasulullah bersabda, bahwasanya Allah Azza Wajalla berfirman;

sholat dhuha memperlancar urusan

 

Pahala Sholat Dhuha, Nilainya Lebih Besar Daripada Harta Rampasan Perang

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim sebuah pasukan perang, kemudian mereka mendapat harta rampasan lalu pulang dalam waktu singkat.

Orang-orang saling membicarakan perang mereka, yang cukup banyak mendapat harta rampasan serta pulang dalam waktu singkat, maka Rasulullah bersabda;

“Maukah aku tunjukkan pada kalian sesuatu yang mengahasilkan lebih cepat daripada perang, lebih banyak rampasannya, dan lebih cepat pulangnya? Yakni seseorang yang berwudhu lalu pergi ke masjid untuk sholat dhuha, dialah orang yang lebih dekat dalam peperangan, lebih banyak rampasannya dan lebih cepat pulangnya”. Hadits ini dishohihkan oleh Al Albani, Lihat kitab shohih At Targib 663-664

 

Sholat Dhuha berjamaah

Sholat Dhuha berjamaah
rumasyo.com

Ada beberpa dalil terkait dengan hal ini, salah satunya adalah riwayat dari Ubaidillah bin Abdillah bin ‘Uthbah, beliau mengatakan:

manfaat mengerjkan sholat dhuha

Imam Malik memasukkan hadits ini dalam bab sholat dhuha, sebab yang dimaksud waktu matahari sedang terik dalam hadits di atas, dipahami sebagai waktu dhuha.

Berdasarkan hadits ini, Ibnu Habib menyatakan bahwa sholat dhuha boleh dikerjakan secara berjamaah dengan tiga syarat; dilakukan sewaktu-waktu pada hari yang tidak ditentukan, tidak ada kesepakatan sebelumnya untuk mengerjakan sholat dhuha berjamaah, dan tidak menjadi amalan yang dikerjakan oleh banyak orang, terkenal di semua kalangan. Al-Muntaqa Syarh Al-Muwatha’: 1/274.

Dengan demikian, sholat dhuha boleh dilakukan secara berjamaah dengan beberapa syarat:

1. Tidak dijadikan kebiasaan yang terus menerus dilakukan.

2. Tidak dikerjakan pada hari, waktu, dan momen tertentu. Misal dilaksanakan setiap sepekan sekali, setiap hari jumat. Pelaksanaan sholat dhuha berjamaah dengan menentukan waktu seperti ini tidak dibolehkan.

3. Tidak ada kesepakatan sebelumnya, serta tidak ada pengumuman kepada masyarakat untuk menunaikan sholat dhuha berjamaah.

4. Tidak mejadi amalan yang menjamur dan banyak dilakukan masyarakat.

5. Jumlah orang yang ikut sholat dhuha berjamaah jumlahnya sedikit, tidak boleh mengerjakan sholat dhuha berjamaah dengan masyarakat satu desa atau satu kampung.

6. Tidak dikerjakan bersama-sama di Masjid. Wallahu A’lam

Mengqadha Sholat Dhuha

Mengqadha sholat dhuha, doa sholat dhuha
trekearth.com

Apabila waktu sholat dhuha telah lewat berarti telah lewat, sebab sholat sunnah dhuha berkaitan dengan waktu dhuha. Berbeda dengan sholat sunnah rawatib karena mengikuti sholat wajib, maka dia bisa diqadha, begitu juga dengan sholat witir, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Sesungguhnya apabila Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertidur atau sakit di malam hari, beliau mengerjakan sholat di siang hari dua belas rakaat”. HR. Muslim

Tinggalkan komentar