Sejarah dan Misteri Kerajaan Majapahit Yang Hampir Lenyap Ditelan Masa

Kerajaan Majapahit – Pada tulisan kali ini, team Alfidy akan menyajikan untuk kamu tentang kerajaan Majapahit. Mulai dari sejarahnya, pendirinya, raja rajanya, misterinya, istananya, peninggalannya, dan berbagai hal terkait kerajaan Majapahit.

Kerajaan Majapahit merupakan suatu kerajaan Hindu-Budha yang terakhir. Kerajaan ini menguasai Nusantara dan berdasarkan Negarakertagama, Kerajaan Majapahit dinyatakan suatu kerajaan dengan kekuasaan terbesar dalam sejarah Nusantara.

Wilayah kekuasaan meliputi Jawa, Sumatra, Kalimantan, Semenanjung, Malaya bahkan sampai ke bagian Indonesia Timur. Namun bagian kekuasaan wilayah timur ini masih diperdebatkan.

Bukti-bukti dari Kerajaan Majapahit seperti bukti fisik dari sisa-sisa zaman dulu hanya tinggal sedikit, itupun juga belum jelas. Para sejarawan menggunakan sumber utamanya dari Pararaton / Kitab raja-raja dengan bahasa Negarakertagama serta Kawai berbahasa Jawa Kuno.

Pararaton Paling utama membahas mengenai kerajaan Ken Arok sebagai pendiri Kerajaan Singhasari tetapi ada juga beberapa bagian menceritakan kisah berdirinya Majapahit.

Selain itu, Nagarakertagama termasuk puisi jawa kuno yang dibuat ketika kejayaan masa kerjaan Majapahit di bawah kekuasaan raja Hayam Wuruk.

Namun setelah masa itu, hal yang terjadi masih belum jelas keberadannya. Terdapat juga beberapa prasasti atau peninggalan dalam bahasa Jawa Kuno atau catatan sejarah dari Tiongkok serta negara-negara lainnya juga.

Sejarah Kerajaan Majapahit

Sejarah Kerajaan Majapahit
kumpulan.net

Di masa terjadinya serangan dari Jayakatwa, di bagian utara yang bertugas membentengi adalah Raden Wijaya. Tapi serangan terbesar muncul dari arah selatan.

Ketika Raden Wijaya kembali ke istana, bangunan Kerajaan Singasari hampir sirna dengan kobaran api dimana-mana. Dan tidak hanya itu terdengar juga bahwa Kertanegara dan pembesar-pembesar lainnya terbunuh semua.

Pada akhirnya Raden Wijaya melarikan diri dengan tentara-tentara yang masih tersisa dengan bantuan penduduk desa Kugagu. Sekiranya keadaan sudah aman, Raden Wijaya pergi ke Madura untuk meminta perlindungan kepada Aeyawiraraja.

Dengan bantuannya tersebut ia berhasil menempati tahta, dengan hadiah yang diberikan yaitu daerah tarik sebagai wilayah kekuasaan Raden Wijaya.

Dengan munculnya tentara Mongol ke tanah Jawa yang dipimpin oleh Shih-Pi, Kau Shing dan Ike-Mise. Mereka datang dengan tujuan untuk memberi hukuman kepada Kertanegara karena tidak membayar upeti. Maka disaat itu juga Raden Wijaya pun memanfaatkan situasi tersebut untuk bekerja sama dengan Mongol menyerang Jayakatwang.

Koalisi Raden Wijaya dan tentara Mongol berhasil membunuh jayakatwang, pada akhirnya pasukan Mongol berpesta merayakan kemenangannya. Namun di saat itu Raden Wijaya memanfatkan keadaan dengan menghabisi dan mengusir semua tentara Mongol dari pulau Jawa.

Baca juga: Sejarah kerajaan islam di Indonesia

Pendiri Kerajaan Majapahit

Pendiri Kerajaan Majapahit
idsejarah.net

Catatan sejarah Indonesia seperti kita ketahui di Pulau Jawa dulu pernah berkuasa di beberapa kerajaan kuno dengan kekuasaan yang cukup besar. Dan salah satunya yaitu Kerajaan Majapahit.

Pusat kota Kerajaan Majapahit di daerah Trowulan yang saat ini masih kita bisa jumpai sisa-sisa bekas reruntuhan di ibu kota tersebut.

Kerajaan Majapahit adalah suatu kerajaan Hindu Indonesia yang berhasil mempersatukan hampir semua wilayah Nusantara sekarang. Pengaruh kekuasaan kerajaan ini begitu luas, bahkan sampai juga ke negara tetangga di wilayah Asia.

Awal berdirinya kerajaan Majapahit diawali dari runtuhnya Kerajaan Singasari akibat serangan Jayakatwang pada tahun 1292.

Pada perang tersebut Jayakatwang bisa menyerang sampai ke kraton dan dapat membunuh Raja Kartanagara, sehingga berakhirnya kekuasaan Singasari.

Raden Wijaya mengungsi ke Pulau Madura dan diterima baik oleh Wiraraja, adipati Sumenep. Dan atas nasihat Wiraraja akhirnya Raden Wijaya mengabdi ke Jayakatwang di Kediri. Atas kesetiaannya, Raden Wijaya mendapatkan wilayah Tarik di Madura sebagai tempat berburu karena Jayakatwang gemar berburu.

Di Pulau Madura ini juga nama Majapahit di temukan. Ketika pembukaan hutan Tarik pada penduduk setempat yang membantu Raden Wijaya, merasa kelaparan dan pada akhirnya makan buah maja namun terasa sangat pahit. Pada akhirnya desa baru tersebut dinamakan Majapahit dengan pendirinya Raja Wijaya.

Letak Kerajaan Majapahit

Letak Kerajaan Majapahit
id.wikipedia.org

Majapahit adalah sebuah kerajaan berdiri pada tahun 1293. Dan kerajaan ini memiliki masa kejayaan yang lama dengan masing-masing pemerintahannya. Sekitar 2 abad Kerajaan Majapahit berkembang dan membawa harum nama nusantara.

Letak Kerajaan Majapahit berada di wilayah Kec. Trowulan Kab. Mojokerto, Kediri dan Jombang. Kerajaan Majapahit juga memiliki ibukota dan ibukota Kerajaan ini mengalami perpindahan tampat sebanyak 3 kali.

Ketiga-tiganya terjadi perpindahan tempat di masa kekuasaan yang berbeda-beda, diantaranya pada masa pemerintahan Raja Wijaya ibu kota Majapahit berada di wilayah pelabuhan Canggu, Mojokerto.

Pada masa pemerintahan Jayanegara di tahun 1305 – 1478 masehi. Pusat pemerintahannya terdapat di desa Truwolan perbatasan antara Mojokerto dan Jombang.

Sedangkan pada masa pemerintahan Dinasti Girindrawardhana pada tahun 1478-1519 berada di wilayah Kediri.

Raja Raja Kerajaan Majapahit

Raja Raja Kerajaan Majapahit
slideshare.net

Untuk daftar penguasa Kerajaan Majapahit. Ada periode kekosongan antara masa pemerintahan Rajasawardhana (penguasa ke-8) dengan Girishawardhana yang diakibatkan oleh krisis. Hal tersebut membuat pecah keluarga Kerajaan Majapahit menjadi dua golongan.

Berikut ini daftar raja raja kerajaan Majapahit yang pernah menduduki tahta kekuasaan kerajaan Majapahit.

Raja Majapahit Pertama Raden Wijaya Yang Bergelar Kertarajasa Jayawardhana

Raden Wijaya Yang Bergelar Kertarajasa Jayawardhana
alidabdul.com

Kerajaan Majapahit berdiri merupakan usaha dan perjuangan Raden Wijaya yang mendapatkan bantuan dari para muridnya. Pada tahun 1293, ia dinobatkan menjadi raja pertama Kerajaan Majapahit dengan gelar kertarajasa Jayawardhana, setelah mengalahkan Kubilai Khan / Cina Mongol.

Raden Wijaya melakukan berbagai tindakan untuk menguatkan kerajaan Majapahit, seperti membangun dan menjadikan Majapahit sebagai pusat pemerintahan, Ia juga menikahi keempat putri kertangera, yaitu Dewi Tribuwaneswari / Parameswari, dan ketiga saudaranya.

Raden Wijaya menduduki kekuasaan di kerajaan Majapahit dari 1293 sampai 1309. Dia wafat pada tahun 1309, dan dimakamkan di Candi Sumberjati / Candi Simping, lalu digantikan oleh putranya yang bernama Kalagement.

Raja Majapahit Kalagamet Yang Bergelar Sri Jayanagara

Dia Menduduki kekuasaan dari 1309 sampai 1328. Dia menduduki tahta kekuasaan saat usia nya masih sangat muda dan dianggap lemah, sehingga beberapa orang menjadikan hal itu sebagai kesempatan untuk memberontak.

Diantara pemberontakan pada pada masa kekuasaan Jayanegara:

Pemberontakan Ranggalawe pada tahun 1309

Dia melakukan pemberontakan karena kecewa dengan keputusan Raja yang tidak memberinya kedudukan patih / wakil raja di Majapahit. Sri Jayanagara hanya memberinya kedudukan yang lebih rendah sebagai seorang penguasa Tuban / Bupati Tuban.

Pada akhirnya Ranggalawe tewas terbunuh di tangan salah seorang komandan pasukan Majapahit, yaitu Kebo Anabrang.

Pemberontakan Lembu Sora Pada Tahun 1311

Ia melakukan pemberontakan karena dihasud oleh seorang pejabat majapahit yang bernama Mahapati, yang juga sebenarnya musuh dalam selimut yang menyimpan permusuhan secara diam-diam kepada jayanegara. Pemberontakan Lebu sora dapat digagalkan oleh pasukan majapahit dan dia pun tewas.

Diantara pemberontakan lainnya ialah pemberontakan Juru Demung Pada Tahun 1313, pemberontakan Gajah Biru Pada tahun 1314, pemberontakan Nambi Pada Tahun 1316, dan pemberontakan Kuti Pada Tahun 1319

Itulah beberapa pemberontakan yang terjadi pada masa pemerintahan Sri Jaya Negara. Pemberontakan pemebrontakan tersebut dapat diatasi dengan baik, berkat kelihaian para komandan dan pasukan kerajaan Majapahit.

Raja Majapahit Sri Gitarja Yang bergelar Tribhuwana Wijayatunggadewi

Raja Jaya Negara meninggal pada tahun 1328, lalu digantikan oleh Gayatri atau Raja Patni / Permaisuri Raja Wijaya. Tahta kerajaan diserahkan kepada Gayatri karena Jaya Negara tidak memiliki keturunan yang dapat mewarisi kekuasaannya.

Pada saat itu Gayatri sudah menjadi Bhiksuni, sehingga tahta kerajaan pun diserahkan kepada putrinya yang bernama Tribu Wanatungga Dewi, untuk mewakili Gayatri sebagai Raja Majapahit.

Pada pemerintahannya pun banyak terjadi pemberontakan seperti yang terjadi pada Raja sebelumnya, diantaranya adalah pemberontakan Sadeng dan Keta di daerah Besuki pada tahun 1331 Masehi.

Pemberontakan Sadeng dan Keta dapat diatasi dan dipadamkan oleh Gajah Mada. Gajah Mada pun diangkat menjadi Mahapati Majapahit sebagai imbalan atas jasanya menagatasi pemberontakan tersebut. Gajah Mada diangkat menjadi Mahapati menggantikan Aria Tadah yang telah berusia lanjut.

Masa kekuasaan Sri Gitarja berlangsung kurang lebih 22 tahun dari 1328 sampai 1350.

Hayam Wuruk Yang bergelar Sri Rajasanegara

Pada tahun 1350, kerajaan Majapahit dipimpin oleh Hayam wuruk yang digelari Sri Rajasa Negara. Dalam memimpin kerajaan Majapahit, ia di dampingi oleh Mahapatih Gajah Mada, Aditya Warman, dan Mpu Nala.

Pada masa kepemimpinan Hayam Wuruk, kerajaan Majapahit mencapai puncak kejayaannya. Pada saat itu, daerah kekuasaan Majapahit hampir meliputi seluruh Nusantara, pada saat itu pula kerajaan Majapahit Berkembang menjadi kerajaan Maritim sekaligus kerajaan agraris.

Kerajaan Majapahit terus melakukan berabagai usaha dalam memperluas daerah kekuasaan, salah satunya ialah Gajah Mada melakukan politik perkawainan untuk menguasai kerajaan Pajajaran, yang menyebabkan terjadinya peristiwa Bubad pada tahun 1357 M.

Pada saat itu, kerajaan Majapahit juga terus memperkuat armada laut yang dipimpin oleh Mpu Nala, serta menjalin persahaban dengan negara-negara tetangga yang disebut dengan Mitreksatata.

Pada tahun 1364, Gajah Mada meninggal sehingga Majapahit mengalami kesulitan untuk menunjuk pengganti menduduki kursi yang ditinggalkan Gajah mada. Tiga tahun kemudian, Gajah Enggon ditunjuk menggantikan Gajah Mada yang telah meninggal.

Meninggalnya Gajah Mada sangat berpengaruh pada pemerintahan Hayam Wuruk, sehingga setelah Gajah Mada meninggal, kerajaan Majapahit di bawah kekuasaan Hayam Wuruk terus mengalami kemunduran.

Hayam Wuruk meninggal pada tahun 1389 sejak menduduki tahta kerajaan Majapahit sejak tahun 1350. Selanjutnya tahta kerajaan Majapahit diambil alih oleh Wikrama Wardhana.

Wikramawardhana – Kusuma Wardani

Ia Menduduki kekuasaan dari 1389 sampai 1429. Kusuma Wardani dijadikan Ratu di Kerajaan Majapahit, sedangkan putra laki-laki dari salah seorang selir Hayam Wuruk, yakni Bhre Wirabumi / Minak Jingga dijadikan Raja Kecil di daerah Blambangang, namun dia tetap harus tunduk kepada Majapahit.

Raja Majapahit Suhita

Suhita Menduduki kekuasaan di kerajaan Majapahit dari 1429 sampai 1447 M. Ia merupakan putra Wikrama Wardhana dengan selirnya. Melihat hal itu, Bhre Wirabumi merasa lebih pantas menjadi Raja daripada Suhita.

Bhare Wirabumi melakukan pemberontakan atas kepemimpinan Suhita, sehingga terjadi peperangan diantara mereka pada tahun 1401 – 1406, yang disebut dengan perang paregreg atau perang saudara.

Wirabumi dapat dibunuh oleh Raden Gaja / Darma Wulan, namun akibat perang saudara ini kerajaan Majapahit mulai mengalami keruntuhan.

Akibat perang saudara ini membuat bintang Majapahit semakin memudar, sehingga banyak wilaya wilayah di bawah kekuasaan Majapahit yang melepaskan diri. Selanjutnya kerajaan raja Majapahit dipimpin oleh Raja berikut:

  • Kertawijaya / Bhre Tumapel bergelar Brawijaya I, menduduki kekuasaan dari 1447 sampai 1451
  • Rajasawardhana bergelar Brawijaya II, menduduki kekuasaan dari 1451 sampai 1453
  • Purwawisesa atau Girishawardhana bergelar Brawijaya III, menduduki kekuasaan dari 1456 sampai 1466
  • Pandanalas atau Suraprabhawa bergelar Brawijaya IV, menduduki kekuasaan dari 1466 sampai 1468
  • Kertabumi bergelar Brawijaya V, menduduki kekuasaan dari 1468 sampai 1478
  • Girindrawardhana bergelar Brawijaya VI, menduduki kekuasaan dari 1478 sampai 1498
  • Hudhara bergelar Brawijaya VII, menduduki kekuasaan dari 1498 sampai 1518

Istana Kerajaan Majapahit

Istana Kerajaan Majapahit
anton-nb.com

Berbicara tentang kerajaan Majapahit dengan segala kebesarannya, tentu pembahasannya tak bisa dilepaskan dari bagaimana bentuk istananya, letaknya dimana. Namun, referensi sejarah yang membahas tentang istana Majapahit sangat sedikit.

Di masa pemerintahan Raden Wijaya, ibu kota Kerajaan Majapahit berada di daerah pelabuhan Canggu – Mojokerto. Tempat ini disebut delta dari sebuah bengawan.

Istana Kerajaan Majapahit pada masa itu menghadap arah bengawan tersebut, sehingga istana ini memiliki pemandangan yang sangat mempesona.

Dan di masa pemerintahan Dinasti Girindrawardhana berada di wilayah Kediri. Sedangkan di masa pemerintahan Jayanegara berada di daerah Trowulan yaitu perbatasan antara kota Mojokerto dengan Jombang.

Memang banyak sekali versi yang beredar mengenai istana Majapahit ini dengan mengalami perpidahan sebanyak tiga kali.

Para pakar ilmuan sejarah dan budaya meyakini bahwa keberadaan istana Majapahit terletak di Trowulan dan sekitarnya. Karena itu disini banyak ditemukan benda-benda yang berkaitan dengan kerajaan Majapahit. Seperti prasasti, artefak, candi-candi gapura dan makam.

Misteri Kerajaan Majapahit

Misteri kerajaan majapahit
en.wikipedia.com

Kerajaan Majapahit merupakan salah satu kerajaan terbesar di Indonesia. Pada kerajaan tersebut banyak kejadian kejadian ayng kemudian menjadi misteri yang banyak digali oleh orang-orang belakangan.

Banyak orang yang mempercayai bahwa Gajah Mada yang berperan sebagai pendamping Raja Hayam Wuruk, berjanji tidak berhenti berpuasa, hingga ia mempersatukan seluruh kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara.

Berikut ini kami sajikan beberapa fakta misteri dari kerajaan Majapahit yang mungkin diantaranya belum kamu ketahui:

Misteri Ibu Kota kerajaan Majapahit

Terdapat banyak sumber yang menyatakan bahwa Majapahit adalah kerajaan besar yang mempunyai ibu kota, tepatnya Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Di wilayah ini tersimpan peninggalan-peninggalan dari Kerajaan Majapahit seperti Candi Brahu yang ada di situs arkeologi Trowulan, di Dukuh Jambu Mente, Desa Bejijong, dan Trowulan, Mojokerto.

Misteri Mahkota Kerajaan Majapahit

Hancurnya Kerajaan Majapahit yang merupakan salah kerajaan besar di Indonesia, seperti tidak ada bekasnya sama sekali. Kemudian terdengar kabar pada tahun 2008 bahwa mahkota istana Majapahit telah ditemukan dan dikembalikan ke asalnya.

Kabarnya Mahkota tersebut sekarang ada di tangan Hyang Bathara Agung Wilatika Brahmaraja XI sebagai Raja Abhiseka Majapahit Masa kini, sebagai orang yang berhak memegang karena merupakan keturunan raja langsung.

Menurut kabar yang beredar, sekarang Mahkota kerajaan Majapahit tersebut disimpan di puri Majapahit, di Perum Puri Gading, Banjar Bhuwana Gubuk, Jimbaran, Bali.

Mistrei Istana Majapahit

Istana Majapahit masih menyimpan sejumlah misteri sampai sekarang. Muali dari letaknya, keindahannya, dan berbagai hal terkait istana kerajaan besar ini.

Sebagian sejarawan meyakini bahwa istana kerajaan Majapahit terletak di wilayah Trowulan dan sekitarnya, sebab di daerah tersebut banyak ditemukan artefak, prasasti, dan berbagai kontruksi bangunan, sperti makam, candi-candi, maupun gapura.

Selain letaknya, keindahan istana Majapahit pun masih menjadi misteri yang menarik untuk dikaji. Sejumlah ahli sejarah pun menggambarkan istana Majapahit, namun tidak rujukan pasti mengenai bentuk dan keindahan dari istana kerajaan Majapahit.

Misteri Harta Karun Pesta

Sebagai bukti bahwa Candi Brahu merupakan peninggalan yaitu ditemukannya lempeng Prasasti Alasanta yang dikeluarkan Raja Mpu Sendok pada 861 Saka atau 939. Pada masa itu, katanya kawasan ini adalah masa Kejayaan Majapahit pada pemerintahan Hayam Wuruk pernah mengundang pasukan perang dari Tiongkok.

Dalam membuktikan kejayaannya, Hayam Wuruk mengadakan pesta besar-besaran untuk menyambut pasukan Tiongkok tersebut. Dan yang lebih mewahnya lagi semua peralatan makan terbuat dari emas. Dan seluruh peralatan makan dari emas tersebut dibuang ke Kolam Segaran tempat pesta itu juga.

Misteri Penemuan Pasak Batu

Sebuah pasak batu pernah ditemukan oleh seorang warga yang diduga sebagai tempat tambatan gajah kendaraan Sang Prabu. Menurut cerita yang berkembang, tempat tersebut merupakan tempat berkumpulnya para leluhur pada zaman kerajaan Majapahit.

Namun, kebenaran cerita ini masih perlu dikaji lagi karena tidak ada rujukan pasti terkait hal. Cerita yang berkembang pun kebanyakan hanya perkiraan-perkiraan yang belum pasti kebenarannya.

Misteri Candi Kedaton

Terdapat temuan yang menguatkan bahwa ada situs Candi Kedaton, yang letaknya di daerah administrasi Dukuh Kedaton. Bangunan CAndi tersebut tepat berada di bagian timur laut atau lebih jelasnya di depan pintu masuk, yang merupakan bagian kaki sebuah istana kerajaan Majapahit.

Misteri Sumur Upas

Sumur Upas merupakan sebuah sumur kuno yang kabarnya tidak jauh dari istana kerajaan Majapahit. Tidak ada warga sekitar yang berani mendekati apalagi membuka pintu sumur kuno tersebut, karena menurut cerita yang berkembang sumur tersebut akan mengeluarkan gas beracun bila dibuka.

Penemuan Artefak Peninggalan Istana Majapahit

Bila dilihat dari bentuk struktur bangunannya, diperkirakan candi Kedaton merupakan kompleks bangunan istana majapahit.

Sebuah Artefak, antara lain fragmen tembikar atau gerabah, arca terakota, arca dari batu andesit, keramik asing, mata uang kepeng, emas, dan kerangka manusia pernah di temukan di sana.

Misteri Istana Majapahit Hancur Tidak Ada Bekasnya

Keberadaan istana kerajaan Majapahit menjadi sebuah misteri yang sampai sekarang belum bisa dipecahkan, seolah hilang ditelan bumi tanpa meninggalkan jejak yang jelas.

Hancurnya istana Majapahit tidak meninggalkan bekas, hanya sejarah dan berbagai ramalan yang masih tersisa. Termasuk harta benda, bekas keraton dan lokasi kerajaan juga belum bisa dibuktikan dengan fakta akurat.

Misteri Gajah Mada Beragama Islam

Para ahli sejarah indonesia, serta berbagai lembaga telah melakukan kajian terhadap kerajaan Majapahit. Termasuk Gajah Mada, yang merupakan pendamping salah satu Raja Majapahit Hayam Wuruk pun tak lupt dari kajian mereka.

Beberapa diantara mereka ada yang menyimpulkan bahwa Gajah Mada beserta kerajaan Majapahit telah menganut Agama Islam. Namun, kesimpulan ini perlu ditinjau lebih lanjut karena tidak ada bukti yang kuat akan klaim ini.

Fakta seputar Gajah Mada sendiri masih banyak yang menjadi misteri yang belum terpecahkan sampai sekarang.

Misteri Peninggalan Peninggalan Kerajaan Majapahit

Saat ini para ahli arkeolog masih terus mencari dan menelusuri benda-benda peninggalan dari Kerajaan Majapahit. Berbagai peninggala kerajaan Majapahit sudah ditemukan di wilayah Trowulan, diantaranya runtuhan candi-candi berupa Candi Muteran, Candi Gedung, Candi Tengah, dan Candi Gentong.

Namun ada beberapa juga peninggalan lain di daerah Trowulan seperti koin emas, candi-candi, patung-patung yang terbuat dari emas.

Misteri Desa Kemasan

Beberapa prasasti yang sudah ditemukan menandakan tentang data ibu kota Majapahit yang terdapat di Kabupaten Mojokerto. Terdapat juga kisah Desa Kemasan yang konon katanya di dalam tanahtersebut terkandung emas yang tersimpan di tempat itu, di antaranya perhiasan dari emas dan arca.

Kehidupan Politik Kerajaan Majapahit

Kehidupan Politik Kerajaan Majapahit
jadiberita.com

Kerajaan Majapahit bisa dikatakan memiliki kehidupan politik yang cukup cemerlang diantara kerajaan-kerajaan ayng ada di Indonesia. Hubungan politik Majapahit dengan negara tetangga juga cukup baik, seperti kerajaan Cina, Ayodya / Siam, Champa, dan Kamboja.

Kerajaan Majapahit beberapa kali mengerim utusan ke kerajaan Cina, hal ini diketahui dari berita kronik Cina dari Dinasti Ming. Sistem pemerintahan dan politik Majapahit sudah teratur dengan baik dan berjalan lancar, hal itu diketahui dari Paraton dan Nagarakartagama.

Masa Kejayaan kerajaan Majapahit

Masa Kejayaan kerajaan Majapahit
coldnoon.com

Kejayaan kerajaan Majapahit ketika masa pemerintahan Hayam Wuruk. Hayam Wuruk merupakan raja keempat dengan masa pemerintahannya tahun 1350 sampai 1389. Ia menggantikan posisi Tribhuwanattunggadewa Jayawisnuwarddani.

Di masa pemerintahan Hayam Wuruk dibantu oleh Gajah Mada. Dalam masa pemerintahannya ini, keadaan rakyatnya mengalami kemakmuran, kesejahteraan, dan keadilan.

Kerajaan Majapahit pada masanya bisa dikatakan sebagai negara terbesar yang pernah ada dalam sejarah bangsa Indonesia. Dengan patih Gajah Mada, kerajaan majapahit memiliki misi besar yaitu mempersatukan nusantara.

Bahkan karena seriusnya Gajah Mada sampai melakukan sumpah palapa yaitu tidak bakal mundur dari jabatannya sebelum bisa mempersatukan nusantara.

Berdasarkan Kakawin Negarakertagama pupuh XIII-XV, wilayah kekuasaan Majapahit terdiri dari Sumatera, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Tumasik (Singapura) termasuk sebagian kepulauan Filipina.

Majapahit juga berkoalisi dengan Campa, Kamboja, Siam, Birma bagian selatan, dan Vietnam, bahkan mengirim duta-dutanya ke Tiongkok.

Runtuhnya Kerajaan Majapahit

Runtuhnya Kerajaan Majapahit
gawewatcher.com

Setelah mencapai puncak abad ke-14 kekuasaan Majapahit nampak makin melemah. Terjadinya perang saudara (Perang Paregreg) pada tahun 1405 sampai 1406 antara Wirabhumi dan Wikramawardhana.

Begitu juga terjadi pergantian raja yang berakibat pertengkarkan pada tahun 1450-an serta pemberontakan besar yang dilakukan oleh orang bangsawan pada tahun 1468.

Pada tradisi Jawa terdapat suatu kronogram atau candrasengkala yang berbunyi sirna ilang kretaning bumi. Sengkala tersebut konon merupakan tahun berakhirnya kerajaan Majapahit dan harus diperhatikan sebagai 0041 yakni tahun 1400 Saka atau 1478 Masehi.

Pengertian sengkala yaitu “sirna hilanglah kemakmuran bumi”. Tapi demikian yang digambarkan oleh candrasengkala tersebut yaitu gugurnya Bre Kertabumi raja ke-11 Majapahit oleh Girindrawardhana.

Keruntuhan kerjaan Majapahit semakin terlengser setelah pedagang Muslim dan para penyebar agama Islam sudah mulai memasuki nusantara.

Pada akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15 Kekuasaan Majapahit di nusantara mulai berkurang dan melemah. Pada waktu bersamaan terdapat kerajaan perdagangan baru yg bernuansa agama Islam yaitu Kesultanan Malaka yang datang dari bagian barat nusantara.

Dalam buku catatan sejarah dari Tiongkok, Portugis (Tome Pires), dan Italia (Pigafetta) menyatakan bahwa terjadi perpindahan kekuasaan Majapahit dari penguasa Hindu ke Adipati Unus penguasa dari Kesultanan Demak antara tahun 1518 dan 1521 M.

Perlahan Islam mulai menyebar luas bersamaan dengan lengsernya masyarakat Hindu ke pegunungan dan Bali. Beberapa masyarakat Hindu Tengger sampai sekarang masih bertahan di pegunungan Tengger di kawasan Bromo dan Semeru.

Penyebab Runtuhnya Kerajaan Majapahit

1, Setelah Gajah Mada dan Hayam Wuruk meninggal, kerajaan Majapahit tidak lagi memiliki tokoh yang dapat mengendalikan kerajaan tersebut.

2. Sistem kerajaan Majapahit memberikan terlalu banyak kebebasan sebagaimana yang dilakukan oleh negara serikat, lambat laun hal ini membuat kerajaan Majapahit terus mengalami kemunduran.

3. Wilaya jajahan Majapahit dengan mudah melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit setelah mengetahui lemahnya pemerintahan Majapahit pada saat itu.

4. Adanya perang saudara antara keluarga kerajaan, yang menjadi salah satu faktor besar kemunduran kerajaan Majapahit. Perang saudara ini terjadi antara Bhre melawan pusat kerajaan Majapahit yang kemudian dikenal dengan Perang Paregreg pada tahun 1401 – 1406.

5. Masuknya agama Islam dari zaman Kerajaan yang terdapat di Kediri Jawa Timur, yang menjadi kekuatan baru yang melawan Majapahit. Kerajaan Majapahit pun semakin terpuruk mengahdapi keadaan ini. Kerajaan Majapahit pun benar benar berada di ambang kehancuran setelah bersatunya umat islam melawan mereka.

Peninggalan Kerajaan Majapahit

Peninggalan Kerajaan Majapahit
waktuku.com

Sebagai salah satu kerajaan terbesar di Indonesia, kerajaan Majapahit meninggalkan banyak peninggalan peninggalan yang unik, yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Peningalan kerajaan Majapahit yang telah diungkapkan oleh para ahli sejarah, hanya sebagian dari banyaknya peninggalan yang ditinggalkan oleh kerajaan yang mencapai masa keemasannya pada kepemimpinan raja Hayam Wuruk.

Masih banyak lagi peninggalan kerajaan Majapahit yang masih menjadi misteri, sebagaimana banyak hal tentang kerajaan ini yang belum terungkap sampai sekarang. Berikut beberapa peninggalan kerajaan Majapahit.

Candi Wringin Lawan

Candi ini mirip dengan bangunan gapura agung yang berbahan batu merah dan memiliki luas dasar 13×11 meter dengan tinggi 15,5 meter. Arsitektur candi merupakan “candi terbelah” yang sampai saat ini sudah banyak ditiru pada gaya arsitektur Bali.

Kegunaan utama candi ini sebagai pintu gerbang menuju kawasan utama di Ibukota Majapahit. Tempatnya nampak dari jalan utama Surabaya-solo, yang berada di wilayah Brangkal sebelum masuk ke Trowulan sehingga sangat mudah ditelurusi jika teman-teman mau melihatnnya.

Candi Brahu

Letak Candi Brahu ini terdapat di daerah Bejijong, Trowulan yang sekarang ini sebagai pusat pengrajin kuningan dan Patung Batu. Candi Brahu tersebut sebagai bangunan suci untuk beribadah yang digunakan dalam memuliakan para anggota keluarga kerajaan yang telah meninggal dunia.

Konon ceritanya 4 raja dari kerajaan Majapahit yang meninggal diprabukan atau dikremasi di samping bangunan candi Brahu.

Candi Gendong

Candi Gentong saat ini masih proses tahapan restorasi, sehingga dar bentuknya masih terlihat reruntuhan bangunan. Candi ini belum dapat dijadikan sebagai tempat wisata peninggalan kerajaan zaman dulu. Dan tempat Candi Gentong ini berada tidak jauh dari Candi Brahu.

Candi Tikus

Candi Tikus terkenal dengan kolam pemandian ritual (petirtaan) yang mempunyai bentuk bangunan kolam bujur sangkar yang berukuran 22,5 x 22,5 meter. Terdapat arsitektur teras-teras persegi dengan penyusunan konsentris pada mahkota menara-menara yang dijadikan titik tertinggi pada bangunan candi Tikus. Di bagian utara terdapat tangga menuju ke dasar bangunan kolam.

Dinding selatan yang menonjol dari struktur utama sebagai tiruan dari bentuk gunung legendaris Mahameru. Konon katanya kolam ini dijadikan sebagai tempat pemandian putri raja-raja Majapahit, yang lebih dikenal dengan nama Candi Tikus karena pada masa itu candi ini menjadi sarang tikus yang memakan tanaman sawah milik masyarakat sekitar.

Candi Bajang Batu

Lokasi Candi Bajang Batu sangat dekat dari Candi Tikus, yang beebentuk bangunan ramping dan mempesona. Candi ini memiliki arsitektur gapura paduraksa dengan tinggi 16,5 meter.

Pada bagian atapnya terdapat aksesoris bangunan yang dilengkapi dengan hiasan ukiran agak rumit dan detail. Istilah nama Bajang ratu dalam bahasa Jawanya yaitu “Raja Kecil” penduduk sekitar mengaitkan dengan raja kedua Majapahit yaitu Jayanegara.

Pada masa itu, Konon katanya Jayanegaraa waktu kecil pernah jatuh di tempat itu, dan cerita lainnya karena Raja Jayanegara naik tahta pada usia masih muda. Sedangkan para pakar sejarah sendiri mengaitkan candi tersebut sebagai penghormatan kepada Raja Jayanegara yang telah meninggal pada tahun 1328 Masehi.

Candi Minak Jinggo

Bentuk bangunan ini sangat unik, namun yang tersisa tinggal reruntuhannya saja. Bangunan candi ini menggunakan kombinasi dari batu adesit sebagai lapisan luar dan batu bata pada bagian dalam.

Pada bangunan ini juga ditemukan qilin pada ukiran yang berbentuk arca. Sebagai informasi, qilin merupakan makhluk ajaib bagi bangsa Cina. Dari penemuan ini, diyakini akan adanya hubungan yang terjalin antara dinasti ming Cina dengan kerajaan Majapahit.

Candi Kedaton

Bangunan Candi kedaton sudah luluh lantah sehingga para ahli kesulitan untuk mendeskripsikannya. Sehingga wujud dari candi ini pun sapai sekarang masih menjadi salah satu misteri dari berbagai misteri kerajaan Majapahit.

Pada sekeliling bangunan candi ini juga telah ditemukan bangunan lain berupa candi, sumur upas, lorong rahasia, makam rahasia, dan beberapa mulut gua. Ada dugaan dari beberapa ahli sejarah bahwa daerah kedaton ini, dulunya merupakan wilayah ibu kota kerajaan Majapahit.

Candi Grinting

Candi ini terletak di pelosok desa, tepatnya di dusun Griting, Jatirejo, sehingga candi ini termasuk candi yang kurang mendapat sorotan dari masyarakat.

Akses ke candi ini termasuk sulit mejadi salah satu sebab candi ini jarang dikunjungi masyarakat. Sekarang candi ini tinggal berupa reruntuhan, sehingga bentuknya sulit digambarkan.

Pendopo Agung

Bangunan pendopo ini hanya berupa umpak-umpak besar yang merupakan sisa dari bangunan pendapa agung. Dulu pendopo ini dijadikan sebagai tempat menemui para tamu yang datang menemui raja Majapahit.

Sekarang bangunan ini sudah menjadi pendapa yang ramai dikunjungi oleh masyarakat. Sebuah batu miring ditemukan di bagian belakang pendapa, yang diyakini sebagai tempat patih Gajah Mada mengikrarkan sumpahnya, yaitu sumpah palapa.

Adanya kompleks makam pendiri kerajaan Majapahit Raden Jaya Wijaya, menjadi salah satu daya tarik tersendiri yang membuat masyarakat ramai ramai mengunjungi tempat pendopo agung ini.

Situs Lantai Segi Empat

Sebenarnya situs ini hanyalah berupa sisa sisa reruntuhan bangunan rumah dengan berbagai keunikan. Salah satu keunikan pada situs ini, yaitu paving blok segi enam yang merupakan lantai kuno yang terbuat dari tanah liat halus yang dibakar, ukurannya 34 x 29 x 6.5 cm.

Kolam Segaran

Asal mula nama segaran ialah ‘segara’ yang artinya ‘laut’ dalam bahasa jawa. Kolam ini berfunsi sebagi sumber air bagi masyarakat kerajaan Majapahit, serta sebagai tempat jamuan bagi para tamu kerajaan.

Alun Alun Watu Umpak

Alun alun Watuk merupakan sebuah bangunan yang terdiri dari susunan sejumlah batu umpak besar yang tersusun rapi. Ada dugaan bahwa situs ini merupakan bangunan milik kerajaan Majapahit.

Makam Putri Campa

Letak makam candi putri campa ada disekitar candi menak jinggo. Pemakaman ini merupakan salah satu dari pemakaman islam kuno. Putri Campa sendiri adalah istri atau selir seorang Raja Majapahit pada periode akhir.

Bila dilihat dari bentuk makam tersebut, Putri Campa diyakini menganut Agama islam, dan konon katanya ia berhasil mengajak raja terakhir Majapahit untuk memeluk agama islam. Beliau Wafat pada tahun 1448 M.

Makam Troloyo

Tempat ini juga merupakan salah satu dari pemakaman islam kuno yang ada di Indonesia. Rata rata batu nisan di tempat ini bertulisakan tahun 1350 – 1478 M. Makam ini menjadi salah satu bukti bahwa penganut agama islam yang mulia sudah ada sejak zaman kerajaan Majapahit.

Siti Inggil

Tanah ini terletak di sekitar candi Brahu, yang memiliki arti tanah tinggi yang merupakan tanah yang di agungkan. Menurut ahli sejara, siti inggil yang merupakan sebuah punden, dahulu pernah dipilih dan dijadikan oleh Raden Wijaya sebagai tempat pertapaan.

Pada tempat ini ditemukan dua makam, yaitu makam Sapu Angin dan makam Sapu Jagat. Masyarakat sekitar mengkeramatkan makam ini, dan sering dikunjungi oleh para peziarah pada siang harinya.

Kesimpulan

Demikianlah sejarah singkat dari kerajaan Majapahit yang pernah menjadi salah satu kerajaan paling besar yang berjaya di Indonesia. Sejarah kerajaan sangat panjang, dan tentu tidak akan cukup untuk mengupas semua pada tulisan yang sederhana.

Namu, semoga artikel ini bisa memberikan kamu gambaran sederhana mengenai kerajaan Majapahit, dengan berbagai keunikan keunikan sehingga setiap orang tidak akan bosan membaca sejarahnya.

Satu pemikiran pada “Sejarah dan Misteri Kerajaan Majapahit Yang Hampir Lenyap Ditelan Masa

  1. Tulisan yang sangat menarik. Trimakasih.

Tinggalkan komentar