Tata Cara Sholat Jenazah, Bacaan, Rukun, Syarat, dan Keutamaannya

Tata Cara Sholat Jenazah – Setiap muslim yang mendengar kabar kematian saudaranya sesama muslim, hendaknya menghadiri pengurusan jenazahnya, termasuk sholat jenazah. Sholat jenazah adalah sholat yang dikerjakan untuk mendoakan jenazah sebelum dikuburkan.

Pembahasan mengenai jenazah, cakupannya sangat luas. Pada tulisan ini, pembahasan akan fokus mengenai sholat jenazah, yang meliputi : tata cara sholat jenazah, hukum sholat jenazah, keutamaan sholat jenazah, berjamaah dalam sholat jenazah, posisi imam dalam sholat jenazah, dan lain-lain.

Sebelum masuk ke pembahasan sholat jenzah, ada beberapa hal yang wajib diketahui mengenai hal-hal yang perlu dilakukan terhadap orang yang telah meninggal dunia

  • Memejamkan kedua mata jenazah.
  • Mengikat secara melingkar dari atas kepala sampai dagu agar mulutnya tidak terbuka.
  • Melemaskan seluruh persendian tubuh dan jari-jarinya dengan mengembalikan kedua lengannya pada lengan atas kedua betis pada pahanya, pahanya pada perutnya. Hal ini dilakukan agar memudahkan proses pemandian dan hal lainnya dalam mengurus mayit.
  • Melepaskan pakaiannya, supaya ketika ada sesuatu yang keluar darinya, tidak akan merusak pakaian tersebut, atau mengotorinya jika dilepaskan dari mayit itu.
  • Hendaknya meletakkan mayit di atas dipan atau semisalnya agar lebih terjaga dan tidak membiarkannya di atas tanah, sebab jasad yang mati itu akan lebih cepat rusak.
  • Meletakkan sesuatu yang berat di atas perutnya agar tidak mengembang.
  • Mendoakannya kebaikan untuk mayit.
  • Menutupi seluruh tubuhnya dengan kain.
  • Menyegerakan dalam mengurusnya.
  • Menyegerakan dalam melunasi hutang-hutangnya.

Tata Cara Sholat Jenazah

tata cara sholar jenazah
konsultasisyariah.com

Cara sholat jenazah memiliki beberapa perbedaan dengan sholat-sholat sunnah lainnya. Mulai dari bacaannya dan gerakannya, seperti dalam sholat jenazah tidak ada ruku’ dan sujud. Demikian juga dengan bacaan pada sholat jenazah, berbeda dengan bacaan sholat sunnah yang lain.

Pembahasan mengenai tata cara sholat jenazah mencakup beberapa permasalahan, yaitu bersuci untuk sholat jenazah, sifat sholat jenazah dan takbir di dalamnya, mengangkat kedua tangan pada takbir pertama dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri, bacaan dalam sholat jenazah, yang diucapkan setelah takbir kedua, yang diucapkan setelah takbir ketiga, dan salam dalam sholat jenazah.

Bersuci Untuk Sholat Jenazah

bersuci untuk sholat jenazah, tata cara sholat jenazah
bacaanmadani.com

Disyari’atkan bersuci saat hendak melaksanakan sholat jenazah, yakni mandi bagi yang berhadats besar dan wudhu bagi yang berhadats kecil. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لا تقبل صلاة من أحدث حتى يتوضأ

“Tidak akan diterima sholat orang yang berhadats hingga dia berwudhu”. HR. Bukhori dan Muslim

مفتاح الصلاة الطهور، وتحريمها التكبير، وتحليلها التسليم

“Kunci sholat adalah bersuci, pengharamannya adalah takbir dan penghalalannya adalah salam”.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menamakan sholat atas jenazah sebagai sholat, dimana beliau bersabda, “Sholatlah atas sahabat kalian ini”.

Hitungan Takbir Sholat Jenazah

hitungan takbir sholat jenazah, tata cara sholat jenazah
satujam.com

Sholat jenazah merupakan sholat yang dikerjakan dengan berdiri, tanpa ruku’, sujud, dan juga duduk, ini telah disepakati oleh para ulama. Perbedaan hanya terjadi pada masalah penentuan jumlah takbir dalam sholat tersebut.

Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Tidak ada perbedaan pendapat mengenai kenyataan bahwa sholat jenazah adalah sholat sambil berdiri, tanpa ruku’, sujud, duduk, dan juga tanpa tasyahud”. Al-Muhalla (V/123)

Terkait bilangan takbir sholat jenazah, para sahabat berbeda pendapat dalam menentukan bilangannya, dari tiga sampai tujuh kali. Mayoritas ulama menentukan bahwa takbir pada sholat jenazah sebanyak empat kali, kecuali Abi Laila dan Jabir bin Zaid yang mengatakan lima kali takbir.

Perbedaan ini terjadi karena adanya sejumlah hadits yang berbeda yang menjelaskan masalah takbir sholat jenazah ini. Berikut hadits-hadits yang menjelaskan tentang takbir dalam sholat jenazah:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم نعى النجاشي في اليوم الذي مات فيه وخرج بهم إلى المصلى، فصف بهم وكبر أربع تكبيرات

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima berita tentang kematian An-Najasyi pada hari kematiannya. Kemudian beliau keluar bersama mereka ke tempat sholat, lalu membuat barisan bersama mereka, dan bertakbir empat kali takbir”. HR. Bukhori no.1333 dan Muslim no.951

Hadits ini merupakan hadits yang shohih, sehingga para ulama amshar menjadikannya sebagi dalil. Dalam hadits yangnlain disebutkan:

أنه عليه الصلاة والسلام صلى على قبر مسكينة فكبر عليها أربعا

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyalati seoarang perempuan miskin di atas kuburannya dengan empat kali takbir”

Imam Muslim meriwayatkan Hadits dari Abdurrahman bin Abi Laila, dia berkata:

كان زيد بن أرقم يكبر على الجنائز أربعا، ,أنه كبر على جنازة خمسا فسألناه فقال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يكبرها

Dari Abdurrahman bin Abi Laila, dia bercerita, “Zaid bin Arqam mensholatkan jenazah salah seorang diantara kami dengan takbir empat kali. Dan dia juga pernah bertakbir lima kali atas satu jenazah. Lalu aku tanyakan kepadanya mengenai hal itu, maka diapun menjawab, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan takbir ini”. HR. Muslim no.957

Ada riwayat Abu Khaitsamah dari ayahhnya, ia berkata:

كان النبي صلى الله عليه وسلم يكبر على الجنائز أربعا وخمسا وستا وسبعا وثمانيا حتى مات النجاشي، فصف الناس وراءه وكبر أربعا، ثم ثبت صلى الله عليه وسلم حتى توفاه الله

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah sholat jenazah dengan empat takbir, lima takbir, enam takbir, tujuh takbir, dan delapan takbir, hingga raja Najasyi meninggal. Setelah itu para sahabat sholat di belakang beliau dengan empat kali takbir dan beliau semenjak itu itu tetap sholat jenazah dengan takbir empat kali sampai wafatnya”.

Mengangkat Kedua Tangan Saat Takbir Pertama dan Meletakkan Tangan Kanan di Atas Tangan Kiri

Sunnah yang ditetapkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah beliau biasa mengangkat kedua tangannya pada takbir pertama dari takbir-takbir sholat jenazah.

Tidak ada riwayat yang pasti dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau mengangkat kedua tangannya pada semua takbir dalam sholat jenazah. Hanya apa yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhuma, yang menyebutkan beliau mengangkat tanggannya pada semua takbir. Fath Al-Bari (III/189)

Dan setelah takbir, apakah seorang muslim meletakkan tangan kanannya di atas tangan kiri atau membiarkannya terlepas?

Tidak ada dalil yang memungkinkan untuk dijadikan pegangan dalam hal ini. Yang disunnah oleh sebagian ulama adalah mengenggamkan tangan, mereka memandang bahwa peletakan tangan kanan di atas tangan kiri, itu disyari’atkan di dalam sholat jenazah.

Dalil yang menjadi dasar pengangkatan kedua tangan pada takbir pertama adalah apa yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, “bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir dalam mensholatkan seorang jenazah, dan beliau mengangkat kedua tangannya pada takbir pertama…” HR. At Tirmidzi no.1077

At-Tirmidzi rahimahullah mengatakan dalam bab Maa Jaa-a fii Raf’il Yadain ‘alal Janazaah, “Para ulama telah berbeda pendapat mengenai masalah ini. mayoritas ulama dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga lainnya berpendapat agar seseorang mengangkat kedua tangannya pada setiap takbir dalam sholat jenazah. Dan itu merupakan pendapat Ibnul Mubarak, Asy-Syafi’i, Ahmad dan Ishaq.

Dan sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa tidak perlu mengangkat tangan kecuali pada rakaat pertama. Dan yang ini merupakan pendapat Ats-Tsauri dan ulama Kufah. Dan disebutkan dari Ibnul Mubarak bahwa mengenai sholat jenazah ini, dia mengatakan: ‘Tangan kanan tidak perlu menggenggam tangan kiri’.

Dan sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa tangan kanan mengenggam tangan kiri, sebagaimana yang dikerjakan dalam sholat-sholat lainnya”.

Abu ‘Isa mengatakan, “Tangan kanan mengenggam tangan kiri, lebih aku sukai”. Sunan At-Tirmidzi (III/388-389)

Baca juga: Nama bayi perempuan

Bacaan Sholat Jenazah

bacaan sholat jenazah, tata cara sholat jenazah
nasional.kini.co.id

Para ulama berbeda pendapat terkait bacaan Al-Fatihah dalam sholat jenazah. Imam Abu Hanifah dan Imam Malik berpendapat bahwa tidak ada bacaan Al Fatihah dalam sholat jenazah, yang ada hanyalah doa.

Adapun Imam Asy_syafi’i, beliau berpendapat bahwa membaca Al-Fatihah setelah takbir pertama, membaca sholawat setelah takbir kedua, mendoakan mayat setelah takbir ketiga, dan mengucapkan salam setelah takbir keempat.

Diriwayatkan dari Thalhah bin ‘Abdillah bin ‘Auf, dia bercerita:

صليت خلف ابن عباس رصي الله عنه على جنازة فقرأ بفاتحة الكتاب، قال: ليعلموا أنها سنة

“Aku pernah sholat atas seorang jenazah di belakang Ibnu ‘Abbas, lalu dia membaca Al-Fatihah. Dia berkata, ‘Agar kalian mengetahui bahwa hal itu adalah sunnat”. HR. Bukhori

Dalam riwayat An-Nasa’i:

صليت خلف ابن عباس رضي الله عنه على جنازة فقرأ بفاتحة الكتاب وسورة وجهر حتى أسمعنا، فلما فرغ أخذت بيده فسألته، فقال: سنة وحق

“Aku pernah sholat atas seorang jenazah di belakang Ibnu ‘Abbas, lalu dia membaca Al-Fatihah dan satu surat Al-Qur’an, dan dia menjaharkan bacaan sehingga kami mendengarnya. Setelah selesai, aku pun menarik tangannya dan aku tanyakan hal tersebut kepadanya, dia pun menjawab, ‘itu adalah sunnah dan benar’”. Sunan At-Tirmidzi (III/346)

Setelah menyebutkan hadits ini, At-Tirmidzi rahimahullah mengatakan, “Sebagian ulama dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang lainnya mengamalkan hal tersebut. Mereka memilih untuk membaca Al-Fatihah setelah takbir pertama. Itu adalah pendapat Asy-Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq”.

Sebagian ulama lainnya mengatakan, “Tidak perlu ada bacaan dalam sholat jenazah, karena ia merupakan pujian kepada Allah Azza Wajalla, sekaligus shalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta doa untuk jenazah”. Perkataan ini merupakan pendapat Ats-Tsauri dan selainnya dari ulama kufah.

Namun, yang menjadi pertimbangan adalah apa yang ada dalam As-Sunnah tentu lebih layak untuk diikuti dan diamalkan. Wallahu a’lam.

Bacaan Setelah Takbir Kedua dan Ketiga Sholat Jenazah

Setelah takbir kedua dalam sholat jenazah, disunnahkan membaca sholawat atas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sholawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disunnahkan ialah dengan menggunakan kalimat yang telah diajarkan langsung oleh beliau.

Setalah takbir ketiga dan takbir-takbir lainnya, dibacakan doa secara tulus untuk jenazah. Doa yang dibaca ialah doa yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Abu Umamah bib sahl, bahwasanya dia diberitahu oleh seorang Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “bahwa yang sunnah dalam sholat jenazah adalah imam bertakbir, kemudian membaca Al-Fatihah setelah takbir pertama secara sirri / pelan dalam hati.

Kemudian membaca sholawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan membaca doa secara tulus untuk jenazah pada semua takbir, serta tidak membaca bacaan apa-apa pada semua takbir tersebut, kemudian mengucapkan salam secara sirri / pelan dalam hati”. Diriwayatkan oleh Asy-Syafi’i dalam kitab Al-Umm.

Adapun doa sholat jenazah yang ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu yang diriwayatkan dari dari ‘Auf bin Malik, dia bercerita, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mensholatkan seorang jenazah, lalu aku mengahfal di antara doa beliau, beliau mengucapkan:

“Ya Allah, berikanlah ampunan kepadanya, sayangilah dia, maafkan dan ampunilah dia,. Muliakanlah tempatnya,lauskan tempat masuknya, mandikanlah dia dengan air, salju, dan embun. Bersihkanlah dia dari kesalahan-kesalahan sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Berikanlah dia pengganti tempat tinggal, kelauraga yang lebih baik dari keluarganya, pasangan yang lebih baik dari pasangannya. Dan masukkanlah dia ke Surga serta lindungilah dia dari adzab kubur, (atau, dari adzab Neraka)”.

Dia mengatakan, “Sampai aku berharap, seandainya aku yang menjadi jenazah tersebut”. HR. Muslim

Dalam riwayat yang juga miliknya, “…dan lindungan dai dari fitrah kubur dan adzab kubur”. HR. Muslim no.963

Mengucapkan Salam Sholat Jenazah

salam sholat jenazah, tata cara sholat jenazah
wajibbaca.com

Salam pada sholat jenazah disunnah sebanyak dua kali layaknya salam pada sholat-sholat yang lain. Dibolehkan juga hanya mengucapkan hanya satu salam ke kanan, bila hal ini dilakukan, maka itu sudah sah. Ucapan salam tersebut diucapkan dengan pelan.

Abdullah bin Mas’ud bercerita, “Ada tiga perkara yang selalu dikerjakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ditinggalkan oleh orang-orang, salah satunya mengucapkan salam pada sholat jenazah seperti salam pada sholat yang lainnya”. HR. Al-Baihaqi dalam kitab Al-Kubro (IV/43)

Dari Abu hurairah Radhiyallahu anhu, “Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mensholatkan seorang jenazah, lalu dia bertakbir empat kali di dalamnya, an mengucapkan salam satu kali”. HR. Ad-Daruqutni (II/72)

Inilah penjelasan singkat mengenai salam pada sholat jenazah, yang mana hal ini merupakan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Boleh dilakukan dengan satu salam atau dua salam. Dua salam lebih utama daripda satu salam. Wallahu a’lam.

Posisi Imam Dalam Sholat Jenazah

posisi imam sholat jenazah
contohxsurat.co

Sebagian ulama berpendapat bahwa imam berdiri di arah tengah jenazah, baik jenazah laki-laki maupun jenazah perempuan. Sebagian yang lain berpendapat bahwa bila jenazahnya perempuan, imam berdiri di arah tengah jenazah, sedangkan bila jenazahnya laki-laki, imam berdiri di arah kepala jenazah. Asy-Syaukani mengatakan bahwa inilah pendapat yang benar.

Sebagian lagi berpendapat bahwa imam berdiri di arah dada jenazah untuk jenazah laki-laki dan perempuan. Pendapat ini yang dipilih oleh Ibnul Qosim dan Abu Hanifah.

Sedangkan Imam Asy-Syafi’i dan Imam Malik tidak ada ketentuannya. Sebagian ulama lagi berpendapat bahwa imam berdiri di arah mana saja untuk jenazah laki-laki dan jenazah perempuan.

Perbedaan pendapat tersebut disebabkan oleh beragamnya hadits yang menjelaskan keadaan imam dalam sholat jenazah. Bukhori dan Muslim meriwayatkan hadits dari Samurah bin Lundub, dia berkata:

صليت خلف رسول الله صلى الله عليه وسلم على أم كعب ماتت وهي نفساء فقام رسول الله صلى الله عليه وسلم للصلاة وسطها

“Saya pernah sholat di belakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mensholatkan Ummu Ka’bah yang meninggal karena melahirkan, Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di arah tengah jenazah itu”.

Abu Daud meriwayatkan hadits dari Hammah bin Ghalib, dia berkata;

“Saya pernah mensholatkan jenazah laki-laki bersama Anas bin Malik, dia berdiri di arah kepala jenazah. Allau orang-orang membawa jenazah perempuan, mereka memohon agar Anans bin Malik mensholatkannya, maka dia berdiri di arah tengah perut jenazah itu, lalu Al-‘Ala berkata, ‘Demikian itu saya telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mensholatkan beberapa jenazah dengan bertakbir empat kali dan berdiri mengahdap perempuan seperti posisimu ini dan jenazah laki-laki seperti posisimu ini?’ Ia menjawab, ‘Iya’”.

Para ulama memahami apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu dengan pemahaman yang berbeda-beda. Sebagian mereka mengatakan bahwa berdirinya Rasulullah dalam posisi yang berbeda-beda menunjukkan hukum mubah tanpa ada ketentuan.

Sebagian lagi berpendapat bahwa berdirinya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam posisi tertentu berarti sebagai ajaran dan menunjukkan adanya ketentuan. Mereka ini terbagi menjadi dua kelompok:

1. Kelompok yang mengambil hadits Samurah bin Jundub karena disepakati keshahihannya berpendapat bahwa sama saja antara jenazah laki-laki dan jenazah perempuan, karena hukum aslinya adalah sama, kecuali bila ada ketentuan syari’at yang membedakannya.

2. Pendapat yang menshahihkan hadits Ibnu Ghalib berpendapat bahwa hadits Samurah bin Jundub harus ditambah dengan hadits yang lain, abru kemudian dijadikan pedoman.

Adapun pendapat Imam Abu Hanifah dan Ibnul Qosim, tidak ada sandarannya kecuali hadits dari Ibnu Mas’ud.

Bercampurnya Jenazah Laki-Laki dan Perempuan

jenazah laki-laki dan perempuan bercampur
twitter.com

Bila jenazah laki-laki dan jenazah perempuan bercampur, maka urusannya diserahkan kepada Imam. Imam yang memimpin boleh mensholati jenazah secara terpisah, atau menggabungkan semua jenazah dalam satu sholat.

Apabila semua jenazah disholati dalam satu sholat, maka setiap jenazah diletakkan sesuai dengan keberadaan imam. Posisi jenazah laki-laki berada di depan imam, sedangkan jenazah perempuan diletakkan setelah jenazah laki-laki.

Dari Nafi’, ia berkata, “Ibnu Umar Radhiyallahi anhuma mensholati sembilan jenazah, ia meletakkan jenazah laki-laki di depan imam, sedangkan jenazah perempuan berada setelahnya sesuai dengan arah kiblat, lalu mejadikan jenazah perempuan itu satu baris dengan jenazah laki-laki, kemudian diletakkan jenazah Ummu Kultsum binti Ali, istri Umar bin Khotthab dan anaknya yang bernama Zaid secara bersamaan. Imam saat itu adalah said bin Ash, dan hadir dalam sholat itu Ibnu Umar, Abu hurairah, Abu Said, dan Abu Qotadah. Lalau diletakkan anak kecil di depan imam. Seorang laki-laki berkata, ‘Saya mengingkari hal itu’. Maka saya melihat kepada Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Abu Said, dan Abu Qotadah dan bertanya, ‘Apa ini?’ Mereka menjawab, ‘Ini adalah sunnah’”. HR. An Nasa’i (4/71), Al-Baihaqi (4/33), Ad-Daruqutni (2/79), dan Abdurrazaq (6337)

Hukum Sholat Jenazah

hukum sholat jenazah
youtube.com

Sholat jenazah hukumnya fardhu kifayah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan yang demikian, seperti yang tersebut dalam riwayat dari Abu Hurairah, suatu ketika ada orang yang telah meninggal dunia dibawa kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan ia masih berhutang, Lalu Nabi bersabda:

“Apakah ia meninggalkan harta untuk membayarnya?”. Jika dikatakan kepada beliau ada harta peninggallannya, maka beliau mensholatinya, namun jika tidak ada, beliau berkata kepada kaum msulimin, “Sholatilah saudara kalian!”. HR. Bukhori no.1251 dan An-Nasa’i no.1960

Dari Zaid bin Kholid Al Juhani, ada seorang dari sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia pada perang khaibar, kemudian hal itu dikhabarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda, “Shalatilah teman kalian”.

Mendengar hal itu, orang-orang menjadi heran dan wajah-wajah mereka menadi berubah. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن صاحبكم غل في سبيل الله

“Sesungguhnya Teman kalian itu telah berbuat curang di jalan Allah”.

Kami kemudian memeriksa barang bawaannya dan ternyata kami dapati perhiasan dari perhiasan-perhiasan orang yahudi yang harganya tidak lebih dari dua dirham”. Dsihohihkan oleh Al-Albani. HR. Imam Malik dalam Al-Muwattha’ (2/14)

Keutamaan Sholat Jenazah

keutmaan sholat jenazah
publikjurnalik.com

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من شهد الجنازة حتى يصلى عليها فله قيراط، ومن شهدها حتى تدفن فله قيراطان، قيل: وما القيراطان؟ قال: مثل الحبلين الهظيم

“Barangsiapa menyaksikan sholat jenazah hingga mensholatinya, maka ia mendapat pahala satu qirat. Barangsiapa yang menyaksikannya sampai jenazah dikuburkan, maka dia mendapat dua qirat”. Lalu dikatakan, “Apa yang dimaksud dua qirat itu?” Nabi bersabda, “Ia sepperti dua gunung yang besar”. HR. Muslim no.945

Dari Abdullah bin Abbas, ia mempunyai seorang anak yang meninggal dunia di Qadid / Basrah, ia kemudian berkata, “Wahai Kuraib, lihatlah apa yang dilakukan orang-orang terhDp jenazah itu” Ia mengatak, “Lalu aku keluar, dan aku mendapati orang-orang berkumpul karenanya dan aku pun mengabarkannya” Ibnu Abbas bertanya, “Apakah jumlah mereka mencapai sekitar empat puluh?” ia menjawab, “Ya”. Ibnu Abbas lalu berkata, “keluarlah karena saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ما من رجل مسلم يموت فيقوم على جنا زته أربعون رجلا لا يشركون بالله شيئا إلا شفعهم الله فيه

“Tidaklah seorang hamba muslim meninggal dunia, lalu jenazahnya disholati oleh empat puluh orang laki-laki, di mana mereka tidak menyekutukan Allah, kecuali Allah akan memebrikan syafa’at kepadanya melalui mereka”. HR. Muslim no.948

Hadits Aisyah Radhiyallahu anha, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

“Tidaklah seseorang meninggal dunia, lalu disholati oleh kaum muslimin hingga berjumlah seratus orang, kemudian semuanya memintakan syafa’at untuk jenazah itu, kecuali Allah akan memberikan syafa’at itu”. HR. Muslim no.947

Syarat Sholat Jenazah

Wanita Tidak Dilarang Melakukan Sholat Jenazah

Sholat Jenazah Bayi dan Anak Kecil
Bayi Yang Gugur
Bagian Yang Diperselisihkan

Sholat Jenazah Untuk Ahli Bid’ah, Pelaku Dosa Besar dan Maksiat

Sholat Jenazah Untuk Orang Yang Punya Hutang

Sholat Jenazah Untuk Orang Yang Bunuh Diri

Apakah Orang Yang Mati Syahid Dalam Perang Disholati

Sholat Ghoib

Larangan Mensholati Orang Kafir

Sholat Jenazah Untuk Anak-anak Kaum Musyrikin

Jika Bercmpur Antara Jenazah Muslim dan Kafir

Tempat Sholat Jenazah

Sholat Jenazah di Masjid

Sholat Jenazah di Kuburan

Makmum Masbuk Pada Solat Jenazah

Satu pemikiran pada “Tata Cara Sholat Jenazah, Bacaan, Rukun, Syarat, dan Keutamaannya

  1. Assalamu’alaikum wr wb.

    Perkenalkan, saya Adnan Syafi’i, seorang blogger.

    Saya berminat memasang backlink dofollow di artikel ini. Mohon informasi syarat dan ketentuannya.

    Terima kasih.

    Hormat saya,
    Adnan Syafi’i

Tinggalkan komentar